Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Mesin ATM


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 77


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah Reza meninggalkan dirinya begitu saja, Diska tidak lama kemudian menyusul suaminya ke dalam kamar. Wanita itu kemudi naik ke ranjang. Dilihatnya Reza sudah berbaring dan membelakangi dirinya. Makin kesal saja Diska pada suaminya.


Tidak mau ribut malam ini, Diska menahan kesal dan memutuskan untuk tidur saja. Sampai akhirnya ia benar-benar tertidur dengan rasa kesal.


Esok harinya.


Cahaya matahari terasa hangat menerpa kulit Reza. Diska sudah bangun duluan, bahkan sudah berpakaian rapi. Dan ketika Reza baru bangun, ia heran. Pagi-pagi istrinya sudah rapi. Biasanya lebih suka santai di rumah.


"Mau ke mana?" tanya Reza setelah turun dari ranjang. Ia meraih gelas di atas nakas untuk minum. Bangun tidur membuat tenggorokan Reza terasa kering.


"Mau ke tempat Mbak Levi," jawab Diska.


Reza diam sesaat. "Tumben?" batin Reza. Pagi-pagi istrinya mau pergi.


"Ya sudah, bareng ya sekalian nanti aku anterin."


"Nggak .... nggak usah! Aku bawa mobil sendiri!" tolak Diska.


"Oh, terserah kamu aja."


Beberapa saat kemudian


Mereka bedua pun sarapan bersama, mejanya besar dan panjang. Dan hanya terdengar suara piring, sendok serta garbu. Baik Reza maupun Diska, mereka memilih diam saat makan.


Seperti ada jarak di antara keduanya, mungkin awal pernikahan mereka dulu terasa hangat dan panas panasanya. Namun, semakin ke sini semakin banyak jarak yang terlihat jelas.


Mungkin salah satunya adalah faktor kelas sosial mereka yang jauh berbeda. Terlahir kaya raya, membuat beda yang jauh antara Diska dan Reza. Bahkan rumah yang kini mereka tempati 100 persen semuanya milik Diska.


Mungkin Reza tidak nyaman karena lama-lama merasa ada sesuatu yang menganjal. Apalagi setelah ia pindah kerja. Ya, dia sudah meninggalkan kantor lamanya. Bergabung dengan keluarga Dirgantara membuatnya harus menuruti mau Diska.


Reza pikir ia akan mudah beradapatasi. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Slentingan rekan kerjanya di kantor, terutama orang-orang yang sering bertemu di perusahaan, banyak yang membicarakan dirinya. Tentang Reza yang hanya jadi benalu dalam keluarga Milyader tersebut.


Sebagai seorang pria, jelas itu melukai harga diri Reza. Apalagi fakta ia adalah kakak tiri Levia. Semua orang hampir mengosipkan dirinya beberapa saat setelah ia menikahi Diska.


Diska sendiri kurang tahu perihal gejolak hati sang suami. Gadis itu terlanjur bucin, hingga lupa bagaimana mengenal hati pasangannya.


***


Reza sudah siap berangkat kerja, seperti biasanya, Diska selalu membantu membetulkan posisi dasi suaminya.


Meski berhadap-hadapan, keduanya masih belum bicara. Sama-sama terlihat dingin, tengelam dalam pikiran masing-masing.


Reza akhirnya berangkat, ia benar-benar pergi ke kantor. Karena Diska melihatnya. Ya, bukannya ke rumah sang kakak. Diska hanya menghabiskan waktu mematai-matai sang suami.


Beberapa saat kemudian


Reza pergi ke sebuah mini market. Dia keluar membawa kantong besar. Entah apa isinya.


Tidak jauh dari sana, Diska terus mengikuti ke mana suaminya pergi.


"Mau ke mana Mas Reza?" gumam Diska yang mulai gelisah.


"Mas Reza orang baik, dia tidak mungkin selingkuh!" Diska mencengkram kemudinya. Mencoba menepis segala pikiran buruknya tentang sang suami.

__ADS_1


Tidak mau kehilangan jejak, begitu mobil warna merah milik Reza meluncur, Diska langsung menyalakan mesin mobilnya.


WUSHHHH ...


Dua mobil sport itu pun meluncur membelah jalan. Di dalam mobilnya, Reza mendesis kesal. Lewat kaca spion ia menyadari sudah diikuti istrinya sejak tadi.


Pria itu hanya menghela napas panjang dan malah menambah kecepatan mobil yang ia kendarai. Entah mengapa ia jadi sangat jengkel dengan mobil itu. Ya, mungkin karena itu juga milik Diska.


Apa-apa yang ia miliki semua di dominasi Diska. Mungkin itu yang membuat perasaan Reza kurang sreg menjalani pernikahan bersama istrinya yang sekarang ini. Seolah membenarkan gosip yang beredar.


Sebenarnya ia punya mobil sendiri. Tapi harganya jauh lebih dari mobil yang ia tumpangi saat ini. Mobilnya yang sekarang adalah hadiah ulang tahunya dari Diska.


Pertama ia menolak, tapi karena Diska suka maksa-maksa, akhirnya ia pun menerima dengan setengah hati.


***


CHITTTTT ...


Mobil merah itu langsung berhenti di sebuah rumah lantai dua. Cukup lumayan meski tidak begitu besar, itu adalah rumah impian Reza. Rumah yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sendiri.


Sayang, Diska sudah memiliki rumah yang jauh lebih nyaman. Sehingga rumah impiannya kini hanya impian. Yang tinggal pun mama dan adiknya.


"OM!"


Teriak gadis kecil dari dalam. Putri Reva itu langsung menarik tangan Reza dan membawanya masuk ke dalam.


Sementara itu, Diska hanya tersenyum masam. Melihat rumah di depannya. Itu adalah rumah suaminya. Ya, dia kadang ke rumah ini sebulan sekali.


Drettt Drett ....


Diska kaget, tiba-tiba ponselnya bergetar. Apalagi yang telpon adalah suaminya.


"Hallo, iya Mas Reza?" ucap Diska pura-pura polos.


"Masuklah!" ujar Reza di telpon dengan dingin.


JLEB ...


Diska sudah ketar-ketir, pasti suaminya sudah berhasil menciduk dirinya.


***


Tap tap tap


Semua orang di ruang tamu langsung diam saat mendengar suara langkah kaki.


[Ngapain dia ke sini?]


Mama Dona tersenyum tipis, tapi hatinya merutuk.


[Tumben ikut ke sini?]


Begitu juga Reva, ia terlihat tidak suka dengan kehadiran kakak iparnya.


Sedangkan putri Reva, ia langsung menghampiri Diska.


"Tanteee! Asik ada Tante!"


Diska merasa canggung, dan langsung duduk. Kebetulan tempat yang kosong hanya di sebelah mama mertua.

__ADS_1


Meski kursi panas, Diska pun memilih duduk di sana. Ia tahu betul tabiat keluarga suaminya itu. Tapi terlanjur bucin dengan Reza, semua ia maklumi.


"Katanya ke rumah Levi?" sindir Reza tiba-tiba. Membuat mama Dona dan Reva saling menatap.


[Oh lagi berantem]


Reva terlihat senang, tapi tidak dengan mama Dona. Kalo RT Reza ada masalah, artinya keuangan mereka pun akan bermasalah. Tidak mau miskin, mama Dona berusaha hubungan keduanya baik-baik saja. Lumayan ada ATM berjalan.


"Sayang, tadi Mama masak kesuakaan kamu. Eh kebetulan kamu ke sini. Makan ya?"


Diska menggeleng.


"Masih kenyang, Ma."


[Dasar mama penjilattt!]


Reva mengumpat kesal dalam hati melihat manisnya sikap sang mama pada menantu berduit tersebut.


Beberapa saat kemudian


Reva pergi bersama putrinya untuk les biola. Dan mama Dona sedang di dapur. Ia menyiapkan sesuatu untuk menantu berduitnya itu.


Di salah satu kamar di rumah itu, terlihat Diska duduk sambil merasa tidak enak ketika Reza menatapnya tajam.


"Kamu ngikutin aku, kan?"


"Emm ..." Diska kebingungan.


"Aku mulai gak nyaman dengan keadaan ini!"


Diska mulai mendongak, takut suaminya itu berkata sesuatu yang tidak mau ia dengar.


"Itu .. karena Mas Reza aneh!" sela Diska.


Reza menghela napas.


"Sepertinya ini salah, dan aku yang salah! Harusnya ini tidak terjadi!"


Diska menggeleng keras, seolah paham maksud dan tujuan ucapan suaminya itu.


"Nggak!"


"Ini baru awal pernikahan Diska! Tapi sudah membuatku tercekik!"


Diska sudah mau menangis. Diska bukannya tidak tahu slentingan yang kerap membuat suaminya tidak nyaman dengan pernikahan mereka. Hanya saja, ia memilih cuek. Tapi tidak degan suaminya.


Status sosial yang jauh berbeda, sepertinya menjadi tekanan berbeda pula bagi suaminya tersebut.


***


Keduanya terlibat pertengkaran kecil di dalam sana. Hampir sejam mereka tidak keluar, mama Dona sampai ketar-ketir.


Keluar-keluar, mata Diska sudah sembab. Membuat mama Dona panik. Takut ATM berjalan mereka lenyap.


BERSAMBUNG



__ADS_1


__ADS_2