
Dinikahi Milyader Bagian 8
Oleh Sept
Rate 18 +
Levia berjingkat, ia menepis tangan Dirga dengan kuat.
"Aku rasa di mabuk, Tuan. Dan ... bisakah saya pulang sekarang?" pinta Levia yang merasa risih dengan sikap Dirga yang ingin menciiumnya.
Zio pun menatap Levi dan Dirga bergantian, ditatapnya Dirga yang mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya sepupunya itu sedikit sadar. Zio kemudian mengeluarkan bulpen dan mengambil tisu di atas meja.
"Tulis nomormu di sini!" ujar Zio.
"Ponselnya masih di apartmentku? Bagaimana bisa kau menghubungi gadis ini?" sela Dirga di tengah-tengah rasa sadar dan juga mabuk.
"Bicara apa kau ini, akan aku panggil Diska, jangan melakukan hal aneh-aneh. Semua orang pasti memperhatikan keluarga kita," terang Zio dengan nada penekanan.
Levia tidak mau mendengar dua orang yang sedang berseteru tersebut. Dan lagi ia sudah sangat lelah hari ini, tanpa pamit, Levia pun berbalik dan pergi meninggalkan keduanya.
"Tunggu!" Zio menyusul. Sedangkan Dirga, saat mau berdiri kepalanya lagi-lagi terasa pusing. Hingga datang Naomi yang sejak tadi memperhatikan keduanya.
[Kalian ini ... lama sendirian. Begitu tertarik pada gadis, tapi gadis yang sama. Ish!]
Naomi langsung duduk di sebelah Dirga, ia menatap sepupunya dengan kasihan dan juga prihatin.
"Banyak gadis sepertinya, tidak usah rebutan. Naomi punya banyak stok seperti dia."
Seketika pusing Dirga langsung menghilang, mendengar ocehan Naomi yang selalu gencar mengenalkan temen-temennya hanya membuat sakit kepala Dirga lari ke perut.
"Bicara apa kau ini?" ketus Dirga dengan sinis. Kemudian, datang Diska adik Dirga. Ia ikut nimbrung.
"Mas, pulang yuk. Aku ada kuliah besok pagi."
"Dis ... entah kakakmu minum berapa gelas. Jangan biarkan dia menyetir." Naomi tiba-tiba khawatir.
"Mas minum? Astaga!" Diska langsung menutup hidung.
"Ada gosip hangat," celetuk Naomi.
Alis Diska langsung ingin menyatu.
"Gosip?" tanya Diska kepo.
"Tuh ... abang-abang Kita, sepertinya rebutan cewek yang sama."
"Benarkah? Siapa yang menang?' Diska malah sangat antusias.
"Siapa lagi? Mas Zio lah, dia lebih keren dari pada abangmu!"
Plakkkk ...
Seketika Diska menepuk punggung kakaknya.
"Aduh!" pekik Dirga. Bukan hanya pusing, sakit perut, kini punggungnya yang terasa panas akibat pukulan adik perempuannya itu.
Naomi langsung terkekeh menyaksikan adik kakak tersebut, sedangkan Diska menatap masam pada abangnya. Kok bisa kalah saing sama Mas Zio? Abangnya kan jauh lebih fresh dari pada Mas Zio, mungkin itu yang dipikirkan Diska.
"Yang mana sih orangnya?" Diska makin penasaran. Ia menatap kanan kiri, memindai sekitar.
"Telat kamu, sudah dibawa Mas Zio," terang Naomi sambil senyum tipis.
"Kalian berisik!" ucap Dirga kemudian beranjak dari kursi tempatnya duduk.
"Mau ke mana? Sama Diska aja pulangnya!" teriak anak gadis Rayyan dan Jean tersebut.
"Mbak ... Diska duluan!" pamit Diska menyusul abangnya. Sementara itu, Naomi hanya mengangguk sambil memetik buah anggur merah yang ada di meja.
"Hati-hati!" pesan Naomi sembari memasukkan buah yang manis masam tersebut ke dalam mulutnya.
***
__ADS_1
Lobby hotel
"Jangan ikuti saya, Tuan. Atau saya teriak!" ancam Levia yang merasa tidak nyaman karena Zio mengikuti dirinya sepanjang dari ballroom, lift dan lobby.
"Biar saya antar, sudah malam. Dan lihat pakaian yang kamu kenakan?"
Tanpa sadar, Zio melepas jas navi yang ia kenakan. Ia memasang tepat di pundak Levia.
"Pakai ini."
[Ada apa dengan pria itu, tadi dia bilang aku pencuri, lalu kenapa ingin mengantar aku segala? Mencurigakan! Jangan-jangan dia butuh ginjalku? Astaga! Aku harus waspada]
"Terima kasih, tapi saya bisa naik taksi," tolak Levia yang tidak suka dekat dengan orang asing. Buru-buru ia berjalan keluar meninggalkan Zio. Tapi, pria itu begitu pemaksa. Karena sekali tarik, ia sudah mendapat lengan Levia.
Zio menelpon seseorang, kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu masuk hotel.
Seseorang keluar dari balik kemudi, kemudian membuka pintu untuk keduanya. Baik Levia maupun Zio, mereka sama-sama duduk di jok belakang.
"Di mana rumahmu?"
"Turunkan saja di sana!" Levia menunjuk dengan asal.
"Apa itu rumahmu?"
Bukannya menjawab, Levia langsung membuka pintu saat mobil berhenti di sebuah rumah berlantai tiga.
"Terima kasih, baju dan jas ini ... besok akan saya kembalikan ketika sudah di laundry."
Zio hanya mengangguk, ia menatap rumah di sebelahnya. Seolah merekam tempat itu bila nanti ingin bertemu Levia, gadis pencuri sushi.
Setelah mobil Zio berjalan, Levia langsung menyeberangi jalan. Ia berjalan sekitar lima puluh meter dari tempatnya turun tadi. Rupanya dia turun di depan rumah orang.
Ketika pulang, malam sudah larut. Rumah nampak sepi. Dengan kunci candangan, ia masuk diam-diam.
KLEK
Pelan-pelan sekali ia masuk seperti seorang pencuri. Sambil sedikit jinjit, Levia melangkah menuju ke kamarnya.
"Jam berapa ini?"
Sebuah suara membuat Levia diam di tempat. Ia tidak berani menoleh. Pasti ibu tirinya sangat marah sekali.
"Apa yang kamu kenakan, Levi?" tanya mama Dona lagi.
Levia langsung spontan menurunkan ujung dress yang ia kenakan.
"Mama suruh kamu kerja, cari uang. Bukan malah jual diri!" bentak mama Dona saat melihat Levia pulang malam dengan pakaian minim.
"Memang ya ... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kamu mirip seperti ibumu!" cibir mama Dona pedas.
Levia hanya bisa mengigit bibirnya, menahan rasa yang membuatnya sangat sesak. Selama ini, hanya Reva yang dibangga-banggakan. Sedangkan dirinya, selalu jadi bahan bullyan sang mama sambung tersebut.
"Dari pada kau hamburkan uang untuk ke salon, lebih baik untuk membeli obat papamu. Lihat Reva! Dia yang temani dan bayar deposit untuk terapi papamu! Gak kaya kamu! Biangnya kerja! Hasil tidak seberapa!"
Levia hanya diam saja. Ia tidak mau meladeni sang mama. Takut papanya di kamar malah mendegar. Sang papa kini tidak bisa ke mana-mana karena sakit pasca sebuah kecelakaan.
"Kenapa diam saja? Awas nanti kalau kamu pulang-pulang sampai berbadan dua! Mama tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini!"
Mama Dona terus saja mengintimidasi Levia yang sama sekali tidak membantah. Bisa saja ia pergi dari rumah itu, tapi Levia tidak mau. Memiliki keluarga adalah sebuah anugrah.
Sering dibully saat kecil karena tidak punya ibu, menjadikan Levia bahagia saat papanya menikah lagi. Ia pikir hidupnya akan bahagia, tapi nyatanya malah seperti di neraka.
Sementara itu, di kamarnya, Reva buru-buru melihat calendar.
"Siallll! Aku belum dapet! Mati aku kalau sampai mama tahu, Om Pram belom cerai dari istrinya. Kalau mama tahu aku ada main sama sutrada tersebut, bisa ancur karir aku. Semoga ini hanya karena stress ... semoga besok segera M!" Reva komat-kamit, berdoa agar tidak hamil. Karena belakangnya ini ia lupa minum pil. Dan om pram, kekasih gelapnya yang selama ini jadi sponsor Reva di dunia modeling dan perfileman, acap kali tidak pakai pengaman.
Di depan kamar Levia.
"Lihat Reva! contoh dia! Jaga martabat sebagai wanita meskipun dia model, lihat ... dia pulang tepat waktu. Gak murahann seperti ini. Pulang malam tidak jelas .. dan apa yang kamu kenakan? Mama rasa, kalian memang mirip!"
JLEB
__ADS_1
Sakit hati Levia, bila sang mama terus saja membawa-bawa ibu kandungnya. Memang, semua orang mengatakan sang mama kabur pergi bersama pria lain. Ada juga yang mengatakan ibunya sudah mati. Semua berita simpang siur. Levia sendiri sudah lama mencari, tapi jejak ibunya sama sekali tidak ia temukan.
"Ma ... boleh Levi masuk?"
Mama Dona menahan napas kesal.
[Dasar, ibu dan anak sama-sama murahann]
Wanita tersebut kemudian meninggalkan Levia yang masih terpaku sambil mengepalkan tangan.
***
Pagi Hari
Padahal tidur larut malam, tapi Levia bangun pagi-pagi sekali untuk membersihkan rumah dan juga memasak. Setelah bicara pada papanya sebentar yang hanya merespon dengan anggukan, Levia pun pergi dari rumah itu.
Ia mau mampir ke laundry, memasukkan dress mahal dan juga jas milik pria kaya yang menyebut dirinya pencuri semalam.
"Hati-hati ya, Mbak. Bajunya mahal!"
Pegawai laundry hanya senyum.
Sedangkan Levia, dengan berjalan beberapa puluh meter ia sampai di halte. Levia sedang menunggu bus pertama pagi itu.
Tin tin tin
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Levia. Kaca depannya perlahan terbuka, hingga Levia bisa melihat sosok pria yang duduk dan juga sedang menatapnya.
"Ada apa dengan laki-laki mesuumm ini? Kenapa dia tahu aku di sini?"
"Hey ... kamu! Masuk!" teriak pria yang duduk di balik kemudi.
Orang yang berada di dekat Levia menatap Levia. Membuat Levi tidak enak.
"Maaf! Saya tidak kenal anda!" Levia menggeleng.
"Masuk atau mau aku seret?"
Seketika orang-orang di dekat Levia terkekeh. Sambil nunggu bus datang mereka malah dapat hiburan.
"Udah, Mbak. Naik aja ... jangan ngambek."
Levia menoleh, dilihatnya gadis sekolah yang juga sedang menunggu bus.
"Saya nggak kenal dia!"
"Levia!" teriak pria itu lagi.
"Gak kenal tapi tahu nama Mbak," celetuk orang di sebelah Levia.
"Bukan! Nama saya bukan Levia."
Tin tin tin ...
Klakson kembali berbunyi, cukup menganggu yang lain.
"Bener! Saya nggak kenal!" Levia menatap satu persatu orang yang menatapnya.
KLEK
Pria itu turun dari mobil, langsung menarik lengan Levia dengan paksa.
"EH!"
BERSAMBUNG
Biar gak bingung dengan keturunan Dirgantara, cusss baca ini dulu kak. Biar nyambung ... hehehe
IG Sept_September2020
__ADS_1