Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Mantu Milyader


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 40


Oleh Sept


Rate 18 +


Rasanya ingin sekali hatinya bertanya, mengungkit tentang masa lalu yang terjadi sebelum ia muncul dalam hidup Dirga seperti sekarang ini. Namun, buaian pria tersebut membuat Levia lupa. Sejenak ia lupa dengan apa yang membuatnya kesal dan marah pada pria tersebut.


Ketika Dirga sudah mulai menyentuh dengan sejuta kelembutan, maka dinding hati Levia perlahan luluh lantah. Apalagi Dirga selalu bisa membuatnya mabuk kepayang oleh permainan yang sepertinya ada saja cara pria tersebut membuatnya lemas tidak berdaya.


Ya, sepertinya malam ini. Malam panass di tempat tinggal Levia semasa kecil. Benar-benar panas, karena memang tidak ada AC. Ditambah lagi sikap Dirga, menambah panas suasana dalam kamar yang sempit dan tidak seluas kamar pria itu.


"Besok kita ganti ranjangnya, ya? Kalau kamu kebetulan ingin menginap ... biar kita mainnya enak!" bisik Dirga.


Pria itu, masih sempat-sempatnya berbicara, padahal wajahnya sudah tegang dan bermandikan keringat. Napasnya pun sudah semakin memburu karena sembari terus memompa tubuh dibawahnya.


Dalam hati, Levia tersenyum getir. Apa-apaan si suaminya itu. Malah mau membeli ranjang untuk rumah lamanya hanya agar supaya permainan mereka tidak seberisik ini.


Ya, ranjang kamar Levia benar-benar bersuara. Dan suara yang terdengar sangat menganggu. Dirga berharap, seisi rumah tidak menyadari apa yang mereka lakukan malam ini. Meskipun tidak apa-apa sih, karena mereka memang sepasang suami istri. Hanya saja Dirga merasa tidak enak. Baru semalam bermalam sudah menciptakan kegaduhan di tengah-tengah malam.


Kriet ... Kriet ... kriett ...


Kamar sebelah, tepat satu dinding tembok dengan Levia. Reva harus menyalakan ponsel dan memakai headset untuk menutupi telinganya.


Gadis yang sedang hamil muda itu mengumpat keras karena suara-suara yang terdengar dari kamar sebelah. Dengan muka ditekuk seperti cucian kusut, Reva tidur kembali sambil menyalakan music yang kencang. Namun, hanya ia yang bisa dengar. Karena pakai headset saat memutar musiknya.


Hal lain lagi terjadi di kamar sebelah yang lain. Semalaman Reza terjaga sambil melirik tembok yang bersebelahan dengan kamar Levia.


"Apa yang kalian lakukan?" gumam Reza dengan miris.


Tidak bisa tidur, Reza lantas melempar tubuhnya di tengah-tengah ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Apa sebaiknya ia juga harus menikah?


***


Kamar Levia


"Mereka dengar tidak, Lev?" tanya Dirga yang juga merasa terganggu dengan suara ranjang bergoyanggg mereka.


Levia tidak mengubris, mana sempat ia peduli. Sedangkan dirinya sekarang tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Ia sibuk mengeliat karena sentuhan-sentuhan Dirga.


Apalagi ketika tangan pria itu kelewat creative, bermain-main di area terlarang. Sangat professional. Karena mampu mengalihkan seluruh amarah Levia menjadi suara-suara yang membuat Dirga semakin bersemangat dalam kegiatan memompa setiap malam.


"Tahan ya ... Kita keluar sama-sama!" bisik Dirga ketika merasakan sesuatu yang mau menyembur dari ujung sana.


Satu ... Dua ... tiga ...


Semakin cepat Dirga memompa, semakin tubuh Levia mengeliat, membuat Dirga mencengkram kedua pundak istrinya tersebut, dan ... apa yang harus keluar ya keluar begitu saja.


Bukkkk ...


Dirga langsung lemas melemparkan tubuhnya tepat di sisi Levia. Namun, tangannya kemudian meraih pinggang Levia. Membuat Levia miring dan menatap wajahnya.


"Lev ..."


"Heemm."


"Besok ikut balik denganku, ya," ucap Dirga dengan suaranya yang serak.


"Kenapa?"


"Besok aku ke luar kota, dan aku pasti tidak tenang meninggalkanmu di sini."


"Aku bosan di apartment."

__ADS_1


"Ikut saja, kita bahkan belum sempat bulan madu ... habis masalah kerjaan beres, kita langsung ke tempat yang kamu mau!" ucap Dirga kemudian memeluk tubuh Levia erat.


"Apa dia sedang merayu? Apa dia tahu aku marah?" batin Levia.


"Bagaimana?" tanya Dirga lagi, kini sambil mengusap lembut kepala Levia. Tadi pagi ia sempat cemburu, melihat bagaimana cara Reza menatap dan mengusap rambut istrinya tersebut.


Karena Levia juga merasa suntuk dan bosan, akhirnya ia malah mengangguk.


"Bagus ... aku suka kalau kamu gampang dirayu seperti ini!" pungkas Dirga spontan, tapi pelan.


Seketika, bibir Levia langsung mengerucut. Namun, saat Dirga melepas pelukannya. Ia langsung menangkap bibir itu. Hingga tidak mampu lagi menolak pesonanya.


Dirga rampas lagi bibir munggil yang kini terasa manis tersebut. Ia sesap kembali, semakin lama, sesapan makin dalam dan bergelora. Levia sendiri sedikit kaget, karena sepertinya biji terong kembali menjadi perkasa lagi.


[ASTAGA]


Sepertinya ada ronde ke dua, padahal ranjang Levia tidak bisa dikondisikan. Terlalu bersuara saat keduanya bergelutt di atas sana.


"Nanti kedengaran sebelah!" bisik Levia yang baru sadar, jika suara ranjang mereka sangat mengusik.


"Gak apa-apa, tanggung!" ujar Dirga sambil mengerling.


Akhirnya, mereka pun mandi keringat lagi. Bergadang sampai fajar menjelang.


***


Esok harinya.


Di ruang makan, mama Dona pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan enak untuk tamu agung. Pasti ada maunya, karena ia bersikap sangat manis pagi itu.


Sedangkan Reva dan Reza, keduanya terbangun dengan kantung mata panda yang jelas kentara.


"Kalian bergadang semalaman?" tanya mama Dona pada ke dua anaknya yang sudah duduk di meja makan.


Uhuk ... uhuk ...


Dirga yang juga duduk di sana, entah kenapa malah terbatuk tanpa sengaja. Levia sendiri, hanya menelan ludah sambil mengulurkan segelas minuman untuk suaminya.


Yang bergadang dirinya, yang kurang tidur kok Reza dan Reva. Seketika, Levia merasa canggung. Jangan-jangan kedua saudaranya itu mendengar suara aneh dari kamarnya? Malu rasanya.


"Banyak suara nyamuk, Ma!" jawab Reva sambil melirik Levia.


Sedangkan Reza, pria itu memilih diam dan memakan habis semua sarapan. Kemudian pamit pergi pagi-pagi karena ada kerjaan. Mungkin dia juga jealous, bila ingat suara-suara aneh semalam yang cukup menyayat hati.


Beberapa saat kemudian


"Nggak menginap lagi?" tanya mama Dona basa-basi ketika melihat Levia pamit dengan suaminya.


"Kapan-kapan, Ma."


Mama Dona kemudian sok akrab dengan memeluk Levia, seolah sedih karena mau berpisah. Padahal, Levia masih ingat bagaimana perlakuan mamanya itu. Tapi ia tidak peduli. Palsu atau asli, asal mama Dona baik padanya, ia tidak peduli yang lain.


"Eh, apa ini?" Mama Dona melotot saat Levia memberikan amplop coklat yang cukup tebal pada dirinya.


"Bukan apa-apa, Ma. Terima kasih banyak, kami balik dulu."


"Kami balik dulu, Ma." Dirga pun ikut pamit.


Sedangkan Reva, sejak sarapan ia memilih di kamar. Ternyata ia sedang asik telpon dengan kekasih barunya.


Bahkan saat Levia pamit pun, ia sama sekali tidak peduli. Hingga deru mobil terdengar meninggalkan rumah, ia baru keluar.


"Sudah pulang?" tanya Reva sambil melangkah keluar.

__ADS_1


"Hemmm!"


"Uang dari mana, Ma?" Mata Reva melotot melihat mamanya kipas-kilas pakai banyak uang.


"Dari mana lagi? Dari mantu mama yang milyader itu donk!" ucap mama sombong.


Reva langsung manyun.


***


Di tempat lain, setelah menempuh perjalanan beberapa saat mereka sudah tiba di apartment. Bukannya langsung istirahat, mereka langsung berkemas.


"Kenapa bawa baju banyak?" tanya Levia.


"Sekalian, kan. Nanti gak usah pulang, setelah pekerjaan beres, kita langsung terbang."


"Eh ... aku nggak punya passport!" sela Levia.


"Bisa diurus!"


Levia pun pasrah, terserah apa mau suaminya.


Siang itu mereka berdua bersama sekretaris Dirga langsung terbang ke Bali. Ternyata, ada pertemuan dengan orang penting di sana.


Saat membicarakan perihal bisnis, Dirga meninggalkan Levia di dalam kamar hotel. Namun, ketika urusan bisnisnya selesai, ia buru-buru kembali ke hotel.


"Ke mana kamu, Lev?"


Dirga keluar balkon kamar hotelnya, menatap ke bawah. Melihat kesekeliling, dilihatnya seorang wanita memakai dress putih dengan ujung bajunya yang melambai-lambai tersapu angin.


Buru-buru ia turun, menyusul ke bawah. Hotel mereka yang langsung menghadap pantai langsung, membuat tempat itu cocok sekali untuk honeymoon.


SETTT ...


"Aku cari di kamar!" ucap Dirga yang tiba-tiba memeluk dari belakang.


Levia menoleh, tapi langsung dapat kecupann di pipi.


"Lautnya indah banget ... jadi aku turun saja."


Levia memejamkan mata, menikmati angin yang menerpa wajahnya, sembari menikmati kehangatan pelukan suaminya itu.


Tidak jauh dari sana, seperti mata-mata, Miska menatap dengan pandangan iri. Dari sorot matanya, sepertinya gadis itu ingin memisahkan keduanya.


Sedangkan yang mau dipisahkan, malah terlihat semakin larut dalam pelukan mereka.


"Udah, lepasin ... dilihat orang." Levia merenganggkan lengan Dirga. Malu lama-lama dilihat orang yang lalu lalang.


"Biarkan saja, apa masalah mereka?"


"Ish!"


Dirga malam memutar tubuh Levia, kemudian memeluknya dari depan.


"Sebentar lagi ... seperti ini. Karena ... aku suka aromamu!" bisik Dirga tulus. Seketika, Levia tidak berkutik.


"Bagaimana dengan aroma kekasihmu yang dulu? Apa kamu juga menyukainya?" tanya Levia dalam hati.


BERSAMBUNG


Agar hubungan lancar, buang mantan pada tempatnya. Move on! Unfaedah lagi.


__ADS_1


__ADS_2