
Dinikahi Milyader Bagian 27
Oleh Sept
Rate 18 +
Pagi-pagi Dirga sudah membuat orang spot jantung.
"Lev ... janjimu aku tagih. Tidurlah bersamaku!" ucap Dirga lirih.
Mata Levia langsung membulat sempurna, kata-kata Dirga seolah menggandung belut listrik yang mampu menyengat tubuhnya. Reflect, ia menepis Dirga dengan siku.
Dasar Dirga yang sudah berhari-hari memang tidak bisa tidur nyenyak. Ia sama sekali tidak peduli pada penolakan Levia. Seakan masa bodohhh, ia malah semakin mempererat lengannya. Menjerat Levia dalam pelukan.
"Apa yang kalian lakukan?" ujar Reza yang baru keluar rumah.
Tangan Reza sudah mengepal. Mungkin dia kembali cemburu, tiba-tiba sang adik ada yang meluk.
Sedangkan tidak jauh dari sana, Diska terlihat sedang mematai-matai sang kakak.
"Aduh! Kasus nih!" gumam Diska yang berada di dalam mobilnya sendiri. Rupanya, ia sejak tadi mematai matai sang kakak. Mami Jean yang memintanya. Sebab, Jean khawatir dengan kondisi sang putra akhir-akhir ini yang kelihatan tidak baik-baik saja. Bila di telpon, terdengar loyo dan tidak bersemangat. Jean pikir, Dirga pasti sedang ribut dengan Levia. Atau setidaknya pasti anaknya itu sedang dalam masalah.
Sekarang, setelah melihat suasana yang nampak kacau, Diska bergegas turun menghampiri tiga orang tersebut. Sebelum turun, ia merapikan rambutnya terlebih dahulu.
Tap tap tap
Ia berjalan setengah berlari.
"Eh ... maafin Mas Dirga, dia habis minum obat. Jadi agak begini!" ucap Diska dengan asal.
Diska langsung menarik lengan abangnya. Untuk menjauh dari Levia.
[Obat? Sakit apa?]
Levia ingin tahu, tapi tidak jadi bertanya. Hanya bertanya-tanya dalam hati saja.
"Ish ... Mas, pagi-pagi jangan bikin onar di rumah orang. Ayo pulang!" bisik Diska sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Dirga.
TOENGGG!!!!
Dirga menonyor kepala adeknya, membuat Diska langsung menginjak kaki Dirga.
"Ayo pulang! Jangan macem-macem!" bisik Diska lagi.
Dirga yang tidak dipengarui obat atau minuman, mendesis kesal. Pria itu langsung melepaskan diri dari Diska.
[Anak nakalll!]
"Ngapain kamu ke sini? Kamu nguntit Mas Dirga, ya? Gadis nakal!" cetus Dirga sebal sambil melotot dan bermuka galak.
"Mas sendiri ngapain di sini? Meluk-meluk wanita di depan rumahnya, tuh ... banyak orang lihat!" Diska menatap sekeliling. Padahal hanya satu dua yang memperhatikan mereka. Diska lebay, segalanya dilebih-lebihkan. Padahal, sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus.
"Ish ... kenapa kamu ikut campur! Levia saja tidak apa-apa. Iya kan, Lev? Jangan lupa janjimu!" ucap Dirga dengan nada mengancam di kalimat akhirnya.
Levia bergidik ngeri, kemudian menatap Diska.
"Dis, bawa saja dia pulang. Sepertinya dia sangat kacau!" seru Levia.
Hal itu justru memicu emosi Dirga.
"Aku kacau karena kamu! Tiga malam aku tidak bisa tidur dengan tenang karena kamu terus saja datang menganggu!" cetus Dirga dingin.
"CIH!!!" Reza langsung mencebik. Ia melipat tangan di dadaa. Menatap remeh pada Dirga. Sepertinya Dirga sedang mabukk, pikir Reza. Ya, Dirga memang mabukkk. Tepatnya dimabuk Levia.
"Tuan ... tolonglah, suasana kami masih sangat berduka. Saya harap Tuan jangan ganggu kami. Dan terima kasih bantuannya kemarin!" ucap Levia sambil menundukkan kepala. Kemudian dia hendak pergi meninggalkan rumahnya. Sepertinya, Levia mau ke sebuah tempat.
"Pembohong!" ujar Dirga tajam.
Seketika Levia berhenti melangkah. Dan semua mata menatap ke arahnya.
Melihat Levia bingung, Dirga melanjutkan kata-katanya.
"Penipu!"
Levia semakin tidak mengerti. Dahinya mengkerut memperhatikan Dirga dari tempatnya berdiri.
"Ucapanmu tidak bisa dipegang!" cecar Dirga lagi.
"Mas, kamu ini kenapa? Dia sedang sedih kenapa kamu menekannya terus?" bisik Diska sembari menarik lengan Dirga. Namun, sang kakak malah menepisnya.
"Biar! Biar dia sadar! Omongannya ternyata tidak bisa dipegang!" ketus Dirga.
Levia hanya bisa menelan ludah, jangan-jangan Dirga membahas janjinya. Jangan-jangan pria itu menagih janjinya di kantor polisi beberapa hari yang lalu?
Melihat situasi yang tidak nyaman, Reza pun maju.
"Jagan bicara omong kosong, sepertinya anda sudah keterlaluan menekan adik saya!" sela Reza yang merasa tidak nyaman dengan kata-kata yang Dirga ucapkan. Dirga sekilas terlihat seperti sedang mengintimidasi adik tirinya itu.
"Katakan pada adikmu itu, dia yang suka bicara omong kosong!" jawab Dirga setengah emosi. Padahal, wajahnya sudah pucat.
Levia pun maju ke depan, ia kini sejajar dengan Reza, tidak mau mendengar Mas Reza berdebat dengan Dirga. Ia pun maju dan bertanya pada Dirga to the point.
"Lalu ... mau Tuan apa sekarang? Kalau hanya mencari wanita untuk ditidurii, Tuan salah datang ke mari! Saya tidak serendah itu!"
Mata Reza mau melompat dari wadahnya, sedangkan tangannya sudah mengepal. Siap menghajar pria yang tidak sopan tersebut. Berani sekali mau melecehkann Levia, adik kesayangannya.
"Kamu salah paham!" Dirga membela diri.
BUGH ...
__ADS_1
Reza langsung saja memberikan hadiah bogem mentah. Dan itu membuat Diska marah. Reflect, ia maju dan mendekati Reza dan langsung memiting kakak tiri Levia tersebut. Kini, suasana pun menjadi kacau. Mereka jadi bahan tontonan warga yang lewat.
"Dis! Lepasin Mas Reza!" Levia mendekat dan meminta Diska melepaskan kakaknya.
Reza sendiri tersenyum kecut. Ia tidak menyangka, gadis yang terlihat kalem itu ternyata pandai memiting juga. Belum tahu si Reza, Diska anak siapa.
"Tapi dengarkan dulu penjelasan Mas Dirga!" ujar Diska sambil melepaskan Reza.
"Dengarkan apa lagi Diska! Kamu sepertinya tidak tahu tentangnya. Tiba-tiba datang dan mengajak seorang wanita tidur, apa salah kalau aku marah? Jujur, ini sangat merendahkan!" Levia menatap sebal dan melirik tajam ke arah Dirga.
"Mas Dirga tidak bermaksud seperti itu, iya kan Mas?" Diska melotot pada abangnya. Berharap kakak laki-lakinya itu bisa diajak kompromi.
"Dia hanya memiliki ganguan tidur pasca kecelakaan. Pasti dia nyaman sejak mengenal Mbak Levia. Mas Dirga bukan pria mesumm seperti yang kalian duga. Ada alasan medis yang bisa menjelaskan semuanya. Bukan karena dia mesumm ... ingat! Bukan karena itu," tambah Diska. Ia serius sekali dalam hal meluruskan kesalahpahaman ini. Tidak mau orang-orang berpikir buruk pada Dirga.
"Jangan jadikan itu alasan! Sangat tidak logis!" ujar Reza sambil memegangi lengannya yang nyeri karena dipitingg Diska tadi.
Hufff ...
"Kamu sih, Mas! Apa susahnya mengajak menikah! Bukannya ngajak tidur bareng!" Diska ikut sebal juga jadinya.
"Oke, Maaf! ... Dan karena aku sudah minta maaf, janji yang kemarin harus kamu tepati," tuntut Dirga.
"Kamu janjiin apa Lev pada dia?" sela Reza.
"Itu ...!" Levia bingung mau bicara apa.
"MENIKAH, iya kan Lev?" ujar Dirga santai namun dengan tatapan mengancam.
"Menikah? Kamu gak ngacau kan? Mas kira kalian baru kenal?" Jelas Reza tidak terima.
"Baru atau sudah lama, kalau saling cocok tidak masalah, kan?" ganti Diska yang menyela.
"Tolong ... kami sedang dalam suasana berduka. Hal-hal seperti ini sepertinya kurang pantas dibicarakan," pungkas Reza yang intinya tidak mau melepas adiknya menikah.
[Apa dia pikir pernikahan hanya sebuah permainan?]
Levia nampak memikirkan sesuatu, kemudian ia berbicara.
"Yang lain, jangan menikah! Tapi yang lain!"
Sebuah lampu langsung keluar dari pikiran Dirga.
"Ikut denganku sekarang!"
Reza akan mencegah, tapi Levia mengangguk. Seakan tidak apa-apa. Dari pada ia harus menikah dengan pria kaya yang aneh tersebut. Ya bagi Levia, Dirga hanya pria aneh.
***
ORCHID ROYAL APARTMENT
Ternyata, Dirga tidak main-main. Pria itu benar-benar meminta Levia menemaninya di apartment. Mulanya Levia menolak, tapi dari pada menikah, sepertinya sehari menemani Dirga itu tidak jadi soal. Dari pada selamanya terjebak dalam pernikahan.
"Mbak lihat, kan? Aku nggak bohong? Mas dirga memang mau tidur. Bener-bener tidur. Bukan aneh-aneh yang Mbak Levi bayangkan!" ucap Diska yang melihat Dirga sudah lelap di sofa sambil memegang tangan Levia.
Levia mau menarik tangannya, tapi Dirga malah memegangnya erat. Tidur beneran apa tidak, Levia jadi curiga. Tapi karena di sana juga ada Diska. Dan karena di ruang tamu, ia pun tidak khawatir yang berlebihan.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Levia lantas bertanya pada Diska. Ia yang kini sudah duduk di sofa yang lain menatap wajah lelah Dirga.
"Kenapa tidak dibawa ke dokter?" tanya Levia tiba-tiba.
"Sudah."
"Terus?"
"Nggak ada hasilnya, dia sering mengigau dan tidak bisa tidur lama. Aku saja heran, apa yang membuat Mas Dirga berbeda saat dekat dengan Mbak Levi."
"Pasti ada sebabnya. Uang kalian kan banyak, kenapa tidak berobat ke luar negri?"
"Sudah, Mbak!"
"Oh ...!"
Drettt Drett ...
Diska buru-buru mengangkat telpon, ia menjauh sebentar untuk bicara di telpon. Sesaat kemudian, Diska malah menyambar tas yang ada di atas meja.
"Mbak! Aku ada perlu. Titip Mas Dirga! Jangan takut! Dia pria sopan."
"Eh!"
Tap tap tap
Terdengar derap langkah kaki Levia yang semakin lama semakin menghilang.
Jam sembilan malam.
"Dia nggak pingsan, kan?"
Levia jadi takut sendiri, jangan-jangan Dirga mati. Buru-buru ia periksa napas pria yang tidur seharian sampai malam tersebut.
Levi mendekat, ia memegang tangan Dirga. Memeriksa denyut nadi.
"Masih! Tapi kenapa tidur lama sekali?"
"Apa aku bangunkan saja?"
"Mas Reza pasti sudah menunggu di rumah."
"Tapi masa aku tinggal?"
__ADS_1
"Gimana, ya? Aku tunggu lima belas menit. Kalau dia gak bangun, aku pulang saja."
Levia mondar-mandir sambil bicara sendiri. Sedangkan Dirga, lewat ekor matanya, ia melirik Levia. Pria itu sengaja pura-pura tidur. Padahal sudah bangun sesaat yang lalu.
15 menit kemudian
Levia memastikan bahwa Dirga masih tidur, ia dekatkan telinganya ke atas perut Dirga. Ingin memastikan pria itu masih bernapas.
"Masih!" gumam Levia.
"Aku hanya tidur. Mengapa kau pikir aku mati?"
DEG
Levia jelas kaget, mendengar suara Dirga yang tiba-tiba. Dengan canggung ia mengangkat kepalanya. Namun, Dirga malah menekan punggung gadis tersebut. Sekilas Levia seperti sedang rebahan di atas tubuh Dirga.
"Maaf, aku kira tadi pingsan," ujar Levia yang canggung sambil berusaha meloloskan diri. Namun, Dirga yang licik malah memeluknya erat.
"Sepertinya, aku harus segera menikahimu, Lev!"
GLEK ...
Levia yang masih terhimpit dalam dekapan Dirga, semakin kesusahan menelan ludah.
Menikah itu dilakukan oleh orang yang saling mencintai bukan? Lalu bagaimana jika diajak menikah hanya karena pasangan butuh teman tidur.
Meskipun orang itu adalah seorang Milyader, apa hati Levia senang? Ini adalah lamaran paling buruk.
"Tuan ... sepertinya anda masih mengigau!" ujar Levia pelan.
Dirga langsung melepaskan pelukannya. Ia kemudian membetulkan posisi. Kini, Dirga sudah duduk sambil menyandar. Sedangkan Levia berdiri di depannya dengan canggung setelah Dirga memeluknya erat barusan.
"Aku pria kaya, mapan ... tampang ... aku rasa aku tidak buruk rupa. Kenapa sepertinya kamu enggan menikah dengan pria sepertiku?"
Levia menggeleng.
"Anda hanya main-main!"
"Aku? Aku main-main?" Dirga mengeryitkan dahi.
"Ya ... pasti pernikahan hanya permainan bagi anda. Karena mudah sekali mengajak wanita untuk menikah!" ucap Levia kemudian.
"Kau memang gadis aneh! Di saat semua wanita ingin menikah denganku. Dan aku ingin menikah denganmu ... kau bilang aku main-main ... ish?" Dirga mendesis kesal.
"Kalau begitu, menikah saja dengan wanita itu. Wanita-wanita yang mengejarmu," timpal Levia.
Suasana menjadi hening.
[Apa aku salah ucap?]
Levia bergidik ngeri, apalagi sorot mata Dirga begitu intense menatapnya.
SETTT ...
Dirga menarik tangan Levia, membuat gadis itu langsung terduduk di pangkuan Dirga.
"Eh!"
Levia yang kaget karena mendadak ditarik, langsung bergegas berdiri. Namun, Dirga malah melingkarkan lengan pada pinggang Levia. Ia tatap mata Levia tanpa kedip.
[Diskaaa ... kau bohong! Apanya yang tidak aneh-aneh. Sepertinya kamu sudah salah menilai kakakmu!]
Levia semakin gelisah, tatapan Dirga lama-lama meresahkan.
[Astaga! Apa yang akan dia lakukan]
Levia semakin panik karena Dirga malah mendekatkan wajahnya.
[Mati aku]
CUP ...
[Kamu harus tahu Diska! Kakakmu tidak seperti yang kamu banyangkan! Dia ...]
Levia tidak bisa berpikir jernih lagi, ketika lidah Dirga memaksa masuk ke dalam mulutnya.
[MESUMMM]
Levia memekik dalam hati, tapi sesapan Dirga membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah pertama kalinya seorang pria berhasil menerobos masuk ke dalam bibirnya.
Dirga begitu piawai memainkan perannya, dengan lembut ia membuat Levia tidak berkutik. Dan tanpa sadar, ada sesuatu yang seharusnya tidak muncul. Karena itu membuat Levia langsung berjingkat karena merasa takut.
Dengan napas yang masih memburu, dan jantung yang berdegup kencang. Dirga kembali menarik Levia. Membuat gadis itu dalam kuasanya lagi.
[Aku rasa ... aku yang sudah ikut Gila]
Levia merasa blank. Diciium Dirga membuat otak Levia langsung kosong. Mau menghindar, tapi pesona Dirga memang memabukkan. Siapa yang bisa menolak pria tampan dan kini memperlakukan dirinya dengan lembut tersebut.
"Aku tidak main-main!" bisik Dirga kemudian kembali merampas bibir gadis tersebut. Terasa lembut dan gurih. Entah, Levia habis makan apa. Yang jelas, di meja sepertinya ada sekotak besar pizza. Sepertinya Diska yang memesan untuk keduanya.
Sesaat kemudian, Dirga melepas tautan bibir mereka. Memberikan jeda Levia untuk mengambil napas. Ditatapnya wajah Levia yang bersemu. Sepertinya dia sedang malu.
"Malam ini, tidurlah di sini!" ucap Dirga dengan suara serak.
BERSAMBUNG
Awas aneh-aneh sebelum stempel MUI dicap. Bisa-bisa kamu dibully emak-emak se-dunia perterongan Dirga!!!!
Tahan tahan ini ujian kwkwkkw
__ADS_1