
Dinikahi Milyader Bagian 58
Oleh Sept
Rate 18 +
Sore hari, ketika langit sudah senja merata. Kondisi mansion masih nampak sepi. Terlihat Bibi sedang mengelap meja sambil melirik pintu kamar Zio, sang majikan.
Sambil pura-pura bersih-bersih, bibi menerima telpon dari nyonya besar.
"Belum, Nya ... Tuan belum keluar dari kamarnya sejak siang tadi," ucap Bibi pelan.
Di kediamannya sendiri, Elvira langsung terkekeh. Hingga suaminya merasa aneh.
"Mama kenapa?" tanya Radika menatap aneh pada istrinya yang telpon sambil menahan tawa.
Elvira menggeleng, kemudian berjalan ke dapur.
"Wah, sepertinya itu bekerja dengan baik. Bibi tetep awasi mereka ya. Saya malam ini tidak menginap lagi."
"Iya, Nya."
Sukses membuat putranya seperti apa yang ia harapkan, Elvira tidak lagi menginap di sana. Karena ia juga sibuk bersama Naomi. Mereka harus memeriksa dan mempersiapkan pesta pernikahan keduanya.
"Telpon siapa, Ma?" tanya Radika yang tiba-tiba muncul di belakang tubuhnya. Membuat Elvira terhenyak.
"Oh ... ini ... em itu ..."
Melihat istrinya aneh, Dika langsung kembali bertanya.
"Mama sembunyikan sesuatu dari Papa?" tanya Radika curiga.
"Ish, bukan. Aduh ... emm!" Elvira malu menceritakan kelakuannya pada sang suami.
"Mama gak punya laki-laki lain, kan?" tuduh Radika.
"Astaga Papa. Ngomong apa sih .... Bukan ... Papa satu aja nggak habis-habis!" timpal Elvira spontan.
"Lah terus, tadi telpon siapa?"
"Bibi, bini asih yang ada di mansion Zio."
"Bibi? Mama ketawa-ketawa gitu telpon Bibi?" masih tidak percaya.
"Ya ampun, nih ... lihat?" Elvira kemudian memberikan ponselnya. Makin tua, Radika memang suka cemburu berlebihan. Mungkin takut kehilangan. Karena Elvira semakin cantik, sedangkan dirinya semakin kisut.
Singkat cerita, Elvira menceritakan semuanya. Meskipun agak malu.
"Ya ampun, Mama!!!"
Radika geleng-geleng mendengar kenyataan yang dilontarkan istrinya itu.
"Mama dapat dari mana?"
"Oh itu, Bibi yang cariin."
"Terus masih ada?" tanya Radika.
Seketika, Elvira memincingkan mata.
[ASTAGA suamiku!]
Elvira jelas tahu maksud pertanyaan dari suaminya itu. Tidak mau meladeni, ia langsung melengos, pergi meninggalkan Radika.
"Ma ... Mama!"
"Nggak ada!"
"Maaa!"
Elvira buru-buru pergi. Sedangkan Radika terkekeh melihat ekspresi ketakutan istri tersayangnya tersebut. Pengantin usang yang selalu harmonies, itulah Elvira dan Radika. Pasangan janda perawan dan perjaka karatan. Keduanya sudah bahagia, kini tinggal memikirkan anak-anak mereka.
***
Mansion
__ADS_1
Zio masih tertidur pulas, sedangkan wanita mudah yang terbaring di sisinya nampak mengerjap. Perlahan ia membuka mata.
Begitu matanya terbuka, Kevia langsung panik. Apalagi saat ia menatap tubuhnya yang tidak tertutup apapun.
Takut Zio melihatnya, ia langsung menarik selimut yang ada di bawahannya. Begitu sekali tarikan, selimut yang semula menutupi sebagian tubuh Zio, malah tertarik ke arahnya semua. Alhasil, Zio yang kini terekspose sempurna.
"Astaga!" pekiknya.
Buru-buru Kevia menutup mata dan berpaling. Bangun tidur langsung disuguhi terong bakar. Pikiran Kevia langsung kacau.
Dahinya mengkerut, ia mendesis mengingat hal gila yang sudah ia lakukan pada pria di sebelah.
[Ya Tuhan]
Dengan pelan, ia mencoba turun dari ranjang. Ia kembali meringis, karena salah satu bagian tubuhnya terasa perih. Akibat main terlalu lama, akhirnya menyisahkan rasa kebas serta perih yang luar biasa.
Malu, sudah pasti. Sambil menahan perih ia mencoba lari dari kenyataan. Dengan kain selimut yang menutupi tubuhnya ia tertatih menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian
Kevia sudah mandi, ia mau keluar tapi ragu. Bagaimana nanti menghadapi suaminya. Kevia benar-benar malu jika ingat betapa bar-barnya dirinya tadi siang.
Ia menghela napas dalam-dalam, saat bayangan pertemuan tadi terus muncul di pelupuk mata.
"Astaga!! Keviaaa!"
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, Kevia ingat betul bagaimana ronde kedua berjalan. Bagaimana ia memaksa pria itu memasukkan sesuatu dalam dirinya.
AGRHHH
Rasanya Kevia mau menjerit, mau di taruh mana mukanya.
"Ya Tuhan ... bagaimana nanti?"
***
Tok tok tok
Sudah lama Kevia tidak berani keluar dari kamar mandi, hingga terdengar suara pintu diketuk.
"Kevia ... Via!" terdengar suara berat yang khas. Suara yang tadi sempat duet dengannya.
Wajah Kevia kembali pucat, ia ingat bagaimana menaiki pria tersebut. Ia juga ingat bagaimana mereka melakukan hal gila bersama. Mencoba banyak gaya. Kevia benar-benar ada di masa yang sangat memalukan.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Lama sekali mandinya?" tanya Zio yang ternyata sudah bangun sejak tadi.
Tidak mungkin mengunci diri karena malu, dengan menundukkan wajah, Kevia membuka pintu.
KLEK
"Kamu nggak kenapa-kenapa?" Zio langsung menyentuh kedua pundak Kevia saat pintu terbuka dan Kevia berjalan keluar.
Karena malu, Kevia menggeleng dengan wajah tertunduk.
"Ya sudah, cepat ganti baju. Aku mandi dulu," seru Zio yang melihat Kevia ingin menghindar dari tatapannya.
Begitu Zio masuk kamar mandi, Kevia langsung bernapas lega. Ia buru-buru ganti baju meski masih sakit saat dipakai jalan. Dengan cepat ia mengganti pakaian.
Setelah itu buru-buru keluar, karena canggung pada suaminya. Suami yang tadi ia ajak main gila-gilaan.
Beberapa saat kemudian
"Bi ... Bibi!" panggil Zio yang kehilangan jejak istrinya.
Tap tap tap
Bibi muncul dari dalam.
"Iya, Tuan."
"Kevia mana?"
"Loh? Bukannya tadi di kamar bersama Tuan?" tanya Bibi balik.
"Nggak, tadi saya mandi seperti dia keluar."
__ADS_1
Di kamar tamu, mendegar suara ribut-ribut, Kevia pun membuka pintu.
"Aku di sini," ucap Kevia lirih.
"Nah, itu Non Kevia," seru Bibi.
Entah mengapa, bibir Zio seketika mengulas senyum dan melangkah ke arah istrinya.
"Jangan ke sini ... jangan!" batin Kevia yang melihat senyum Zio sekilas. Demi apapun, ia benar-benar malu bertemu dengan suaminya itu.
"Kamu di sini rupanya."
Glek ...
Kevia mengangguk sambil menunduk.
"Boleh aku masuk?"
Belum dijawab, Zio langsung menerobos masuk. Semakin jedag-jedug lah hati Kevia dibuatnya.
Bukkk
Zio langsung duduk di tepi ranjang.
"Duduklah, jangan berdiri saja. Kamu pasti lelah."
[Tuhan ... bisahkan aku menghilang sekarang?]
Wajah Kevia seperti tomat. Melihat Zio, dalam kepalanya malah terbayang-bayang apa yang ia lakukan bersama pria tersebut.
Zio sendiri terlihat santai, wajahnya malah berseri. Auranya memancar, makin ganteng. Tapi dalam kepala Kevia, malah muncul wajah Zio yang dipenuhi keringat saat mereka senam bersama beberapa waktu yang lalu.
Ingin menyadarkan dirinya sendiri, Kevia berusaha konsentari. Menghapus bayangan kotor dalam kepalanya.
"Sadar Kevia!" batin wanita tersebut.
"Duduklah!" Zio menarik begitu saja lengan Kevia. Merasa sudah dekat dan memiliki karena apa yang sudah keduanya lakukan.
Sementara itu, Kevia makin mati gaya ketika duduk berdua di tepi ranjang bersama suaminya. Jantungnya memacu lebih cepat, sepertinya sebentar lagi mau meledak. Apalagi Zio malah menyentuh tangannya.
"Mari kita coba pernikahan ini, Kevia," ucap Zio tiba-tiba.
Kevia hanya diam, membuat Zio langsung menghadap dirinya.
"Kita coba hubungan ini, aku harap kamu menerimaku ... Dan apalagi aku adalah pria yang pertama."
Jantung Kevia sudah si level tidak aman. Meletup-letup tidak karuan. Pas saat Zio mau mengecupp tangannya, reflek ia tarik. Mungkin masih canggung.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau menerimaku? Tidak mungkin Kan? Setelan apa yang sudah terjadi pada Kita?"
Mak Jleb ...
Kevia benar-benar ingin menghilang, ia sangat malu sekali.
"Apa kamu malu, Kevia?" tanya Zio yang melihat pipi Kevia sudah seperti udang rebus.
"Jangan malu kalau di depanku, aku yang harusnya malu. Karena tidak bisa mengimbangimu ...!"
Zio terus saja bicara, padahal Kevia sudah tidak punya muka lagi.
"Nanti malam kita coba gaya yang lain ya? Apa mau di kamar ini saja?" goda Zio. Sepertinya pria itu sedikit peka, bisa membaca situasi yang ada.
"Itu ... emm!" Kevia mau beranjak. Lama-lama dia bisa stroke mendengar ucapan suaminya. Malu sampai ubun-ubun.
"Mau ke mana?"
Settttt
Zio menarik lengan Kevia, hingga Kevia kembali terduduk. Tapi tidak di ranjang. Melainkan duduk di pangkuan suaminya.
"Kamu hottttt, aku suka," bisik Zio di telinganya. Zio seperti sudah kena canduuu. Aduh, mati Kevia. Bulu-bulunya langsung meremangg seketika.
BERSAMBUNG
Bisikan Zio mengalahkan bisikan goibbb! Hahahha
__ADS_1