
Dinikahi Milyader Bagian 23
Oleh Sept
Rate 18 +
Drett ... drettt ...
Ponsel dalam saku Dirga bergetar, membuyarkan lamunan pria tersebut sejenak. Dirga kemudian meninggalkan mobil, pria itu kemudian menjawab panggilan masuk dari adik perempuan satu-satunya.
"Ya!" ujar Dirga ketus di telpon.
"Lama banget sih, Mas! Diska udah nunggu dari tadi!" protes Diska karena sang kakak tak kunjung naik ke lantai atas. Ia hanya bisa menunggu di depan pintu apartment Dirga, karena masih tertutup.
"Iya ... ya ... ya!" pungkas Dirga yang mendengar suara adeknya super bawel tersebut.
Dirga pun memasukkan ponsel ke dalam saku celana lagi. pria itu kemudian melangkah menuju mobil kembali. Dilihatnya Levia masih tertidur dengan nyenyaknya. Sebenarnya tidak tega, tapi bagaimana lagi. Dirga harus membangunkan gadis tersebut.
"Lev!"
Ia tepuk pundak Levia sedikit keras agar gadis itu merespon.
"Levia!" panggil Dirga sekali lagi. Diamatinya kelopak dengan bulu-bulu lentiknya itu mulai bergerak-gerak.
Sesaat kemudian, Levia pun mengeliat. Ia mengerjap, dan saat sadar ia di mana, Levia langsung membetulkan posisi duduknya yang sempat merosot ke bawah.
"Sudah sampai, ayo masuk!" ajak Dirga. Pria itu juga menyodorkan meminum mineral kemasan, mungkin gadis itu haus.
Levia menggeleng, menepis minuman tersebut. Dia kemudian melepaskan sabuk pengaman dan bersiap turun. Saat menurunkan sebelah kakinya, ia sempat bingung, mungkin nyawanya belum penuh sepenuhnya karena habis bangun tidur.
"Diska mana?" Barulah Levia sadar, Diska tidak bersama mereka.
"Udah jalan duluan, tadi nunggu kamu tidur lama."
"Em ... maaf!"
Levia menundukkan wajah, merasa tidak enak karena ketiduran.
"Ya sudah, sudah larut malam. Ayo masuk!" ajak Dirga lagi.
Keduanya pun masuk ke dalam, berjalan beriringan layaknya sebuah sandal. Suasana di sana sangat sepi, mungkin karena sudah larut. Apalagi Dirga dan Levia bagai orang bisuuu dadakan. Keduanya sama sekali tidak bertegur sapa, sampai masuk lift pun, hanya ada hebusan napas keduanya.
Yang satu mungkin karena masih ngantuk dan lelah, yang satu sibuk merapal mantra untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang gadis yang ada di sebelahnya.
KLIK
Akhirnya mereka sampai di depan apartment Dirga. Baru tiba langsung diberi sambutan bimoli oleh Diska (bibir monyong lima mili).
"Lama bener sih, aku sampai jamuran nunggu kalian. Udah malam juga, pacaran besok lagi!" celetuk Diska yang juga sudah capek dan lelah pasca pulang dari kantor polisii.
Sedangkan Dirga, ia sama sekali tidak mendengar sindiran adik perempuannya. Suara Diska hanya terdengar seperti tawon yang mendengung dan tidak usah dihiraukan.
"Ayo masuk!" ujar Dirga. Sementara itu, saat pintu terbuka oleh access card yang dibawa Dirga, Diska langsung nyelonong masuk duluan.
Mungkin karena terlalu amat sangat capek, tanpa melepas sepatu, Diska langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Dia tidak memberi ruang untuk sang kakak dan gadis pujaan kakaknya itu.
__ADS_1
"Hey! Cuci muka dulu!" titah Dirga yang baru menyusul masuk bersama Levia.
"Nanti aja. Diska ngantuk banget!" jawab Diska yang sudah menutup kedua matanya. Artinya ia tidak mau diganggu.
Melihat adiknya seperti itu, Dirga kemudian menatap Levia saja.
"Bersihkan tubuhmu dulu sebelum tidur, mandi air hangat. Di kamarku saja, pakai bajuku dulu, besok aku belikan baju baru dan aku antar ke rumah."
Dahi Diska langsung bergerak-gerak, begitu pula dengan kelopak matanya.
[Belajar dari mana kamu, Mas?]
Diska tidak bisa menahan senyumnya. Lewat ekor matanya ia mengintip, dilihatnya Levia masih berdiri mematung. Mungkin karena masih canggung.
"Kamu masih ingat kan kamarku yang mana?" tanya Dirga dengan tidak bermaksud apa-apa.
SETTT ....
Seketika Diska langsung duduk dari posisinya yang semula rebahan. Gadis itu lalu menatap Dirga penuh selidik.
"Levia pernah ke kamarmu, Mas?" cecar Diska spontan.
Dirga langsung melihat ke arah Levia. Entah mengapa dia malah teringat pertama kali Levia menolong dirinya. Duh, memalukan sih.
"Bukan begitu, ... bukan! Itu ... Em ... Tuan Dirga pingsan ketika mandi!" Levia begitu sulit mengatakan apa yang terjadi waktu itu. Karena itu hanya membuat pipinya seperti cumi rebus karena menahan malu.
Tiba-tiba, dalam kepalanya muncul siluet Dirga yang waktu itu polos.
[Astaga, ada apa dengan kepalaku? Ini pasti efeknya dipukul Nyonya tadi!]
"Kalian berdua! Ish!" Dirga mungkin malu, pria itu kemudian mendesis kesal dan masuk kamar.
Sedangkan Levia, ia jadi canggung dan hanya garuk-garuk kepala padahal tidak gatal.
"Mbak lihat semua?" tanya Diska kepo setelah sang kakak masuk kamarnya.
"Hah?"
"Kalian harus nikah kalau begini!"
Dahi Levia makin mengkerut.
"Mbak kan udah lihat semua!" celetuk Diska.
Levia pun menggeleng keras.
"Nggak! Beneran nggak lihat. Saya langsung ambil kain handuk untuk menutupi tubuhnya. Dan lagi posisinya tengkurap. Nggak lihat ... bener-bener nggak lihat apa-apa!"
"Lihat juga nggak apa-apa, Mbak. Anggap saja DP!" ujar Diska santai.
KLEK
BLUGHHH ...
Sebuah bantal meluncur dari dalam kamar. Bantal itu dilempar Dirga pas mengenai kepala Diska. Rupanya, Dirga menguping dari balik pintu.
__ADS_1
Diska langsung menutup mulutnya rapat-rapat, gadis itu kemudian kabur ke kamar tamu. Sebelum sang kakak memberikan pelajaran yang lebih dari sekedar timpukan bantal.
"Udah ya, Mbak. Diska tidur dulu!" ucap Diska sambil menoleh ke arah Levia.
KLEK
Diska mengunci pintu kamarnya dari dalam.
[Loh ... aku bagaimana? Aduh ...!]
Levia makin gelisah, apalagi didengarnya derap langkah yang semakin dekat. Itu pasti Dirga.
Levia benar, sesaat kemudian Dirga muncul. Pria itu datang sambil menenteng kotak putih kecil dengan logo plus warna merah.
"Nggak usah ... ini nggak apa-apa."
Levia mundur, ia menghindar saat Dirga mau mengoles salep di sebagian wajahnya. Ada beberapa bekas cakaran Nyonya Pram.
"Udah, diem aja!"
Levia hanya bisa menelan ludah, ia kemudian membiarkan Dirga memberikan salep pada wajahnya. Namun, karena lama-lama merasa tidak nyaman, ia kemudian mengulurkan tangan.
"Biar saya sendiri!" ucap Levia mengulurkan tangan.
Dirga hanya menatapnya lama, tanpa memberikan salep di tangannya. Pria itu malah memintanya memutar badan.
"Hadap sana!"
Levia malah mendongak, tidak paham pada perintah Dirga.
"Putar badanmu, Lev!"
Akhirnya Levia menurut.
[Ish! Kenapa kau diam saja saat orang lain menyerangmu? Gadis bodohhh!]
"Aduh!"
Levia merasa perih saat bekas cakaran di sekitar leher bagian belakang dioles salep. Ia ingat betul, itu luka yang diberikan Nyonya Pram saat ia hampir berhasil membuka pintu kamar hotel. Mungkin karena sangat jengkel, wanita paruh baya itu meraihnya, dan menyakar punggung Levia dengan garang.
"Apa lebih baik?" tanya Dirga setelah memberi salep dan meniup-niup belakang leher Levia.
"Hemm!"
[Sepertinya ... aku yang tidak baik-baik saja, Lev!]
Dirga menelan ludah, mungkin bisikan setann terlalu kuat. Karena pria itu malah langsung ...
BERSAMBUNG
Heheheheh ...
IG : Sept_September2020
__ADS_1