Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Biji-Biji Dirgantara


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 44


Oleh Sept


Rate 18 +


Sebenarnya Dirga sudah menyiapkan sebuah rencana untuk mereka berdua. Habis dari Bali rencananya ia akan membawa Levia ke sebuah tempat. Tempat yang jauh dan butuh waktu tempuh yang lumayan lama. Namun, karena kondisi Levia yang sekarang sedang hamil muda, akhirnya Dirga mengcancel semuanya.


Nanti, bila Levia kondisinya sudah memungkinkan, mereka akan melakukan itu, honeymoon yang tertunda. Pergi ke tempat terjauh dan terpencil. Hanya mereka, menikmati hari-hari dipenuhi belai mesra. Tapi, sekarang itu tinggal impian. Entah kapan mereka akan melakukannya.


***


Di sebuah Bandara


Terminal kedatangan, Dirga berjalan sambil menggandeng tangan Levia. Keduanya baru tiba di Jakarta kembali beberapa saat lalu. Di belakang mereka miss Julie mengikuti sembari menarik koper mereka.


"Mau makan dulu?" tanya Dirga sembari terus melangkah menuju mobil yang sudah siap menjemput keduanya.


"Nggak, mau langsung pulang."


"Oke, kita langsung pulang."


Setelah sampai di depan mobil, pria berkacamata hitam tersebut, dengan perhatian membuka pintu untuk Levia. Ia perlakuan Levia bak seorang putri kerajaan.


"Hati-hati!" Dirga memegangi kepala Levia agar tidak membetur.


Miss Julie memperhatikan keduanya, sekretaris berpenampilan modis itu tersenyum tipis melihat sang atasan yang terlihat sangat perhatian. Padahal, beberapa tahun ke belakang, bosnya itu seperti pria es. Dingin layaknya udara di kutub.


***


ORCHID ROYAL APARTMENT


Saat tiba di apartment, Dirga langsung meminta istrinya itu berbaring.


"Udah, kamu berbaring di sini. Kalau mau apa-apa bilang aja."


Levia pun menurut, lagian badannya juga terasa capek. Ia memang ingin rebahan sejak turun dari pesawat tadi.


Beberapa saat kemudian, ketika Dirga masuk kamar untuk menyiapkan makan, Levia malah tertidur. Ia pun meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Ditatapnya wajah Levia yang tidur pulas.


Dirga mendekat, menurunkan wajahnya. Mengecupp kening Levia dengan lembut. Kemudian mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Capek banget, ya?" gumam Dirga. Tidak mau membuat istrinya bangun, Dirga pun memutuskan keluar kamar.


KLEK

__ADS_1


Dengan pelan ia keluar kamar, pria itu kemudian menatap pintu ruangan yang lain. Setelah mengambil napas dalam-dalam, ia melangkah ke ruangan itu.


Dirga kemudian mengambil sebuah box besar. Perlahan ia menyapu seluruh ruangan. Dilihatnya satu persatu rak buku dalam ruangan itu. Semua barang-barang Arunika masih tersimpan rapi, dan Dirga baru sadar akan hal itu. Mungkin selama ini ia tidak menyadari, hal-hal kecil seperti itu, membuatnya terbelengu dengan masa lalu.


Tapi kini semua perlahan berubah. Entah sejak kapan ia sudah tidak mengalami ganguan tidur. Ya, mungkin terhitung sejak Levia hadir dalam hidupnya. Dan mungkin akhir-akhir ini ia sering terjaga, tapi bukan karena sulit tidur lagi. Dirga sengaja tidak tidur karena punya jadwal khusus tiap malam. Apalagi kalau bukan olahah raga malam.


Hampir tidak pernah absen setelah ia resmi menikahi seorang gadis biasa tapi mampu membuatnya tidur lelap dengan nyenyaknya. Ya, Levia Caraka. Gadis muda itu sudah mengacaukan sekaligus membuat hatinya yang tercacar kembali utuh.


Sambil mengenang pertemuan dengan Levia, tangan Dirga memasukkan satu demi satu benda-benda peninggalan milik mantan tunangannya tersebut. Ia kemas semuanya dalam box-box besar. Kemudian menutupnya rapat.


Masa lalu, kini harus ia kubur dalam-dalam. Demi Levia, demi benih yang kini mulai tumbuh dalam rahim wanita yang paling membuatnya nyaman tersebut.


Tok tok tok


Dirga menoleh, dilihatnya Bibi berdiri di depan pintu.


"Nona Levia sudah bangun, Tuan."


"Oh ... iya." Dirga beranjak. Kemudian berpesan pada ART-nya tersebut.


"Bi, bawa semua ini ke gudang ya."


"Baik, Tuan."


KLEK


"Sudah bangun?"


Diberi senyum paling manis semanis madu hutan, Levia pun balas dengan senyumnya yang mahal. Bumil itu hanya tersenyum tipis, kemudian bertanya pada suaminya.


"HP Levia mana? Kok nggak ada?"


"Ish ... bangun tidur nanyain HP. Cari yang lain lah ... bukannya nyari suami?" canda Dirga.


Levia pun hanya tersenyum tipis, sejak kapan suaminya suka bercanda?


[Dia aneh sekali!]


"Makan dulu, baru aku kasih HP-nya."


Akhirnya, keduanya pun makan. Seperti perjanjian, Dirga memberikan ponsel pada istrinya itu.


"Bukan, ponselku sendiri. Yang milik papa?"


Dirga melipat tangan sambil menatap istrinya.

__ADS_1


"Ini ponsel baru, pakai ini saja. Ponsel yang kemarin sudah aku simpan."


Levia melirik, sambil berguman dalam hati.


[Mengapa kamu selalu mengambil ponselku?]


Ya, sudah dua ponsel milik Levia yang diamankan Dirga.


"Ini terlalu mahal!" Levia menolak halus. Levia dapat mentaksir harga ponsel barunya itu. Pasti setara harga sebuah motor keluaran terbaru.


"Pakai aja, ponselmu yang lama terlalu jadul!"


Levia lantas mengatupkan bibir, mau menolak tapi Dirga pasti memaksa. Suaminya kan type pemaksa.


"Pakai aja, kita couplean!" Dirga menyodorkan ponsel miliknya. Dan benar saja, ponsel mereka benar-benar sama. Hanya beda casing saja. Silver dan gold.


"Ini pasti mahal, nggak usah."


"Jangan menolak, kamu tahu kan aku orangnya seperti apa?" Dirga melirik nakal.


Buru-buru Levia langsung mengambil ponsel itu. Takut Dirga macan-macam.


"Nah, gitu. Susah amat diajak kembaran!" celetuk Dirga sambil mengusap lembut kepala Levia.


[Pulang dari Bali kenapa dia jadi semakin manis?]


***


Di tempat yang lain. Di belahan dunia yang memiliki hamparan salju ketika musim dingin. Di sebuah salah satu rumah sakit besar di sebuah kota ternama di LN.


Zio sedang berada di salah satu ruangan VIP, pria tampan itu sedang bersandar sambil memangku sebuah laptop.


Tap tap tap


Terdengar derap langkah kaki yang mendekat. Pria itu kemudian menyapa seseorang yang kini duduk di depannya.


"Kenapa nggak married aja?" tanya dokter Titan.


Zio hanya balas dengan senyum kecut. Belum apa-apa sudah ditikung. Membuat Zio kembali menutup hati rapat-rapat.


Kini, bukannya mencari hati yang baru, pria keturunan Dirgantara tersebut malah melakukan sesuatu yang tidak lazim. Sadar usianya tidak selamanya muda, Zio melakukan sesuatu untuk mendapat keturunan tanpa harus menikah. BERSAMBUNG.


Bang Zio. Di sini, di negeri Novelaaa tersayang... banyak gadis-gadis berwajah emak yang nganggur. Hehehe


__ADS_1


__ADS_2