
Dinikahi Milyader Bagian 66
Oleh Sept
Rate 18 +
Malam itu Kevia tidak langsung memberikan hasilnya pada Zio. Ia menyimpan alat tersebut, besok saja ia akan mengatakan hasilnya pada suaminya itu.
Kevia kemudian berjalan keluar dari kamar mandi, ia melangkah menuju ranjang. Ditatapnya putri-putri kecilnya yang masing-masing sudah tidur dengan pulas. Bibirnya mengulas senyum, sembari mengusap perutnya yang masih rata.
[Kalian mau punya dedek]
Kevia menghampiri satu persatu, lalu mengecupp mereka bergantian. Ia usap kepala anak-anaknya dengan penuh sayang. Mereka adalah malaikat kecilnya. Anak-anak yang membuatnya merasakan hidup bahagia.
Tidak bisa tidur hingga beberapa jam kemudian, akhirnya ia memilih main ponsel. Sembari meng-upload foto-foto mereka saat jalan-jalan di sekitar menara Eiffel.
Ia melihat juga komentar yang tertera, baru beberapa menit sudah banyak yang menekan tanda love.
Pose putri-putrinya memang mengemaskan, pernah beberapa kali ditawari menjadi brand ambassador sebuah pakaian bermerek anak-anak, tapi suaminya langsung menolak keras.
Bukan karena sombong ataupun karena mereka sudah banyak uang dan materi, Zio tidak suka saja anak-anak mereka harus keluar rumah menjalani hal-hal seperti itu. Pemotreran dan lain-lain pasti akan membuat anak-anaknya terganggu, mungkin itu salah satu alasan Zio.
Karena sudah semakin larut, tidak tahunya Kevia malah tertidur sambil memegang ponselnya. Dan ketika menjelang fajar, Zio yang terbangun langsung membetulkan selimut istrinya. Mengambil ponsel Kevia dan meletakkan di atas nakas.
Baru juga beranjak, tiba-tiba salah satu anaknya terbangun.
"Papa," panggil Annabelle sambil mengucak mata.
__ADS_1
Gadis kecil itu kemudian turun dan minta gendong papanya.
"Hiyaa ... anak Papa sudah bangun? Nggak bobo lagi, sayang?"
Anna menggeleng, kemudian menempelkan kepalanya pada pundak sang papa. Ya begitulah. Cinta pertama anak gadis adalah ayahnya. Begitu juga dengan Annabelle, Mirabelle dan Isabelle, semua sangat dekat dengan Zio.
"Sini, bobo lagi sama Papa, ya?"
Anna menggeleng, hanya mempererat lengannya pada leher sang papa.
"Mau digendong?"
Anna mengangguk.
"Iya ... iya ... Papa gendong."
[Kalau Isabelle ikut bangun, repot ini]
Zio tersenyum tipis, memiliki bayi kembar tiga kadang juga membuatnya repot. Tapi ia menikmati moment seperti ini. Karena anak-anak adalah jantung hatinya.
"Sini, Papa gendong kakan dan kiri."
Zio meraih tubuh Mirabelle. Menggendong anak itu. Mereka berputar-putar membuat anak-anak terkekeh karena merasa senang.
Karena tawa ketiganya, Kevia pun terbangun begitu juga dengan Isabelle. Begitu bangun, Isabelle malah merajuk. Anak itu ngambek melihat papanya yang hanya menggendong Anna dan Mira.
Alhasil, Kevia yang menggendong anaknya tersebut.
__ADS_1
"Nggak mau sama Mama!" rengek Isabelle.
Zio pun menurunkan kedua anaknya, kemudian ganti menggendong Isabelle seorang.
Dua saudaranya yang sudah puas bermain bersama sang papa, kini kembali naik ranjang. Mereka menonton acara cartoon pagi-pagi bersama sang mama yang duduk bersandar di tengah-tengah mereka.
***
Pagi hari.
Di sebuah Bandara International di salah satu kota yang lalu lintas penerbangan terpadat di dunia, Zio dan Kevia sedang menuju Bandara. Mereka akan menjemput papi Rayyan dan mommy Jean, serta Diska dan suaminya. Karena Dirga masih harus di rumah sakit menemani Levia.
Sepanjang perjalanan, Kevia terus saja melirik pria yang sedang mengemudi di sampingnya tersebut. Ia sebenarnya mau cerita hasil tes kehamilan yang ia lakukan kemarin.
"Mas ...," panggil Kevia.
"Hemm!" Masih serius dengan kemudi. Pandangan Zio lurus ke depan. Ia fokus mengendara karena membawa orang-orang yang ia sayang.
"Itu ... emm ... e ... e ..."
"Apa, Sayang?" Zio menoleh sebentar kemudian kembali fokus.
"Itu ... Sepertinya aku hamil."
CHITTTTT ...
BERSAMBUNG
__ADS_1