Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
KAGET


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 78


Oleh Sept


Rate 18 +


"Dis, Mama kemarin bikin kue. Cobain ya? Ini Mama dapat resep di internet. Lagi hits ini, Dis. Mama sama Reva mau coba buka usaha bakery lagi," ucap mama Dona.


Dia seakan gak peduli meskipun mata Diska terlihat sedikit sembab. Jelas-jelas wanita paruh baya itu paham, Diska habis ribut dengan putranya. Seolah tidak peduli, dan itu bukan masalah penting. Dalam kepala mama Dona hanya ada cuan, cuan dan cuan.


Diska memaksa tersenyum, meskipun hatinya tertekan. Dengan wajah pura-pura ia mencoba kue buatan sang mama mertua.


"Lumayan, Ma." Komentar Diska dengan suara serak.


"Lumayan? Ini sih enak banget bagi liidahh Mama. Pasti omsetnya besar!" cetus mama Dona.


Mata mama Dona langsung hijau. Padahal bagi Diska kuenya B aja. Masih enak kue yang dititipin di rak-rak indoapril.


Diska sih yakin, usaha mama Dona kali ini paling juga omsetnya mines lagi. Sebenarnya ia tidak masalah, jika Reza memberikan uang atau apapun pada keluarganya. Hanya saja, mengapa harus di belakangnya?


Pernah beberapa kali menolak uang pemberian suaminya, bukan berarti Diska nggak butuh uang Reza. Ia hanya ingin uang Reza disimpan. Toh uang Diska sudah banyak. Makin ke sini, Reza malah tidak seperti yang Diska harapkan.


Suaminya malah sering sekali TF ke rekening Reva. Adik iparnya yang merupakan single mom tersebut. Bukannya apa-apa, hanya saja hatin Diska kurang sreg.


***


Beberapa saat kemudian


Reza keluar kamar dengan wajah dingin, ditekuk seperti cucian kusut.


"Aku balik duluan," ujar Reza.


Melihat Reza mau pergi, buru-buru Diska pun pamit.


"Diska juga pergi dulu ya, Ma. Ada acara, Diska lupa."


Setelah memeluk mertuanya dan pamit, Diska menatap suaminya.


"Diska duluan, Mas!"


Dengan menahan kesedihan, Diska memilih meninggalkan rumah itu. Rumah yang sebelumnya disiapkan Reza untuk keluarga kecilnya.


Sayang, baik Diska maupun keluarga Dirgantara selalu mendominasi. Dan Diska lebih suka rumah yang ada kolam


renangnya. Rumah dengan fasilitas yang belum bisa Reza penuhi. Mungkin awal ketidaknyamanan dimulai dari sana.


***


SETTT ...


Setelah terdengar suara mobil menjauh, mama Dona langsung menarik lengan Reza.


"Jangan aneh-aneh kamu, Za! Mama gak suka kalian bertengkar!" seru mama Dona sok peduli. Padahal hanya peduli uangnya saja.


"Reza ada urusan, Ma. Kita bicarakan lain kali."

__ADS_1


Reza memilih menghindar, habis ribut dengan Diska membuat kepalanya pusing.


"Reza pergi, Ma!'


Mama Dona hanya geleng-geleng kepala. Sambil berdoa dalam hati, semoga Reza segera punya momongan. Agar status keluarga mama aman. Kiranya itulah yang ada dalam benak mama Dona saat ini.


[Sodaranya banyak yang punya anak, jadi gak mungkin Diska mandull. Masa Reza? Gak juga, Reva saja langsung hamil! Apa aku suruh Reza program lagi, ya? Aku gak mau miskin!]


Mama Dona menatap mobil di depannya yang lama-lama menjauh dan keluar dari pagar rumah yang ia tempati sekarang.


***


Kediaman Azzam Bernabas Dirgantara


Begitu tiba, Diska langsung masuk, ia mencari kakak iparnya.


"Mbak ... mbak Levi!"


Dilihatnya Levia sibuk dengan balita yang sedang main ayunan elektrik.


"Diskaaa ...!" pekik Levia ketika melihat siapa yang datang.


"Eh ... tumben main ke sini," sambung Levia. Namun, detik berikutnya ia dibuat terkejut. Karena Diska memeluknya erat sambil menangis.


"Bik .. Bibikk..!"


Tap tap tap ...


Seorang asisten datang menghampiri.


"Iya, Nya."


Sang asisten pun mengangguk. Dan Levia kemudian menarik tangan Diska menuju kamarnya. Tidak mau Diska menangis dan dilihat anak-anak.


***


Di dalam kamar bernuansa emas. Levia mengintrogasi adik iparnya.


"Katakan sama Mbak! Apa yang terjadi?"


Diska mengusap wajahnya, menyusut hidung dan malah menundukkan wajah.


"Dis! Ada apa? Cerita sama Mbak!"


Levia terlihat begitu penasaran, belum pernah Diska tiba-tiba datang lalu menangis seperti ini.


"Apa Mas Reza?" tebak Levia yang menduga-duga.


Tangis Diska malah pecah. Melihat adik iparnya malah nangis sesengukan. Levi hanya bisa memeluknya.


Beberapa saat kemudian


Diska sudah sedikit tenang, dan ia sudah mulai menceritakan apa yang sudah terjadi.


"Maafin keluarga Mbak ya, Dis?" ucap Levia lirih saat sudah mendengar cerita Diska.

__ADS_1


Diska menggeleng, "Bukan salah Mbak Levi!" ucap Diska sambil menguap pipi.


Keduanya pun bicara dari hati ke hati. Sebagai yang lebih berpengalaman dalam masalah rumah tangga, Levia mencoba memberikan pengertian. Bukan berarti ia membela Reza, hanya saja ia ingin Diska memahami bagaimana perasaan mereka. Menikah dengan pasangan yang status sosial jauh di atas mereka, itu membuat kurang nyaman. Apalagi Reza sebagai pria, sebagai kepala rumah tangga. Mungkin malah terasa tidak nyamannya.


"Lalu Diska harus bagaimana, Mbak? Masa Diska tinggal bareng sama mereka di sana?" tanya Diska kemudian.


"Kenapa? Kamu nggak mau?"


Diska terlihat berpikir. "Bukan nggak mau, hanya saja ... mungkin Diska nggak nyaman."


"Hem, repot kalo kamu nggak mau ngalah. Dan setahu Mbak ... Mas Reza juga keras."


Diska langsung menghela napas panjang. Diska juga tahu betul karakter suaminya sendiri. Tapi sekarang ia sudah tidak seperti tadi. Habis curhat sama Levia, membuat ia merasa lega.


***


Pukul tujuh malam.


Dirga baru pulang karena ada jamuan bersama klien penting. Dan begitu pulang, ia heran. Tumben ada Diska di rumah.


"Mana Reza?" tanya Dirga sambil menyerahkan tas pada istrinya.


Levi dan Diska saling menatap, kemudian salah satu dari mereka menjawab. "Di rumah!"


"Ke sini sendirian?" tanya Dirga lagi. Dan adiknya hanya mengangguk.


"Oh ... ya sudah. Mas Dirga mandi dulu!"


Sesaat kemudian, semua sudah berkumpul. Mereka makan malam bersama-sama. Sambil makan, mereka juga mengobrol santai.


"Reza apa kabar, Dis? Lama Mas gak lihat dia?" tanya Dirga.


"Sibuk, Mas!"


Dirga hanya manggut-manggut. Selesai makan, mereka di ruang keluarga. Kembali membicarakan hal receh, atau membahas masa kecil mereka.


Hingga tiba-tiba ponsel Diska berdering. Karena yang menelpon adalah Reza, Diska pun keluar sebentar untuk menerima telpon.


"Hemm!"


"Rumah kosong, kamu di mana?" tanya Reza. Namun, terdengar tidak begitu khawatir. Karena Reza mendengar suara ribut-ribut di telpon. Itu karena anak-anak Levi dan Dirga yang menyusul ke teras depan. Mereka bercanda di belakang tantenya.


"Sayang, kalian masuk dulu ya?" pinta Diska sambil mengusap lembut kepala keponakannya.


"Di rumah Levi?" tebak Reza.


"Hemm! Malam ini aku nginep ya?"


"Iya!" Jawab Reza singkat. Membuat Diska jengkel, ia kan mau dilarang. Karena sebal, Diska mematikan ponselnya seperti anak kecil yang lagi ngambek, merajuk cari perhatian.


***


Tengah malam.


Diska yang sedang tidur di kamar tamu tiba-tiba menjerit tengah malam. BERSAMBUNG

__ADS_1


IG Sept_September2020



__ADS_2