Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Suara Horor


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 73


Oleh Sept


Rate 18 +


Demi kebaikan, yang belom menikah dan masih belum cukup usia. Semoga kalian skip. Oke!


***


Di dalam sebuah kamar presidential suite, terlihat kelopak bunga-bunga bertaburan di atas lantai dan juga di atas ranjang. Aroma mawar memenuhi isi ruangan, belum lagi balon-balon yang melayang berbentuk hati memenuhi langit-langit kamar.


"Ya ampun, siapa yang mengaturnya?" gumam Naomi melihat kamar pengantinnya.


"Kamu suka seperti ini, Nom-nom?" tanya Vincent geli. Lucu saja, kamar dipenuhi balon-balon. Seperti perayaan ulang tahun anak kecil saja.


"Bukan aku yang minta!" Naomi menggeleng, karena ini memang bukan gayanya.


"Ini bukan gayaku!" tambah Naomi sambil melipat tangan.


Vincent tersenyum, kemudian mengendurkan dasi.


"Lalu bagaimana gayamu? Tunjukkan padaku!" ucap Vincent dengan tatapan menggoda.


[Astaga! Apa dia sedang menggodaku?]


Naomi panik karena tatapan aneh suami barunya itu. Suami brondong yang manis, yang ganteng, yang muda dan pasti sangat mempesona. Belom apa-apa Naomi sudah traveling.


"Ke mari!" titah Vincent mendekat.


[Sekarang, kamu milikku!]


"Kau mau apa, Vin?" tanya Naomi spontan.


"Lah ... aku bantu lepas gaun itu. Sini!"


Naomi melangkah mundur, ia beringsut dan kelihatan gelisah.


"Nggak, aku bisa sendiri!"


Buru-buru ia berjalan melewati Vincent, dengan pipi merona, Naomi masuk ke ruang ganti.


[Ya ampun ... dia seperti ABG!]


Vincent tersenyum, menyaksikan Naomi yang malu-malu. Padahal, selama ini yang ia tahu, sosok Naomi adalah wanita mandiri dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Nom ... Nom Nom!" panggil Vincent. Sejak tadi istrinya belum juga muncul. Sedangkan ia sendiri sudah ganti pakaian. Mau mandi tanggung, nanti aja sekalian.


Tap tap tap


"Nggak mandi?" tanya Naomi yang juga sudah pakai baju ganti.


"Bareng?"

__ADS_1


Naomi buru-buru berbalik ke kamar mandi. Ia langsung menutup pintu dari dalam.


"Bagaimana aku tidak tergila-gila? Astaga!" gumam Vincent kemudian menyusul Naomi.


"Nom ... buka dong!" titahnya sambil berdiri di depan pintu.


Tok tok tok,


"Nom nom!" panggil Vincent sekali lagi.


"Bentar, aku dulu. Nanti gantian." Noami berteriak dari dalam.


"Ish ... bareng ya. Kita dah menikah loh!"


"Sana! Jangan ganggu!"


Tok tok tok,


Vincent tidak menyerah, ia terus mengetuk pintu kamar mandi sampai pintu itu terbuka.


KLEK


"Astaga! Gantian aja!" Naomi membuka pintunya sedikit. Namun, cela yang sedikit itu tidak disia-siakan oleh Vincent.


Pemuda yang sedang di puncaknya itu, langsung menerobos masuk.


"Apa sih! Bareng aja, hemat waktu!" Vincent tersenyum menggoda.


"Ya ampun! Turunin! Katanya mau mandi!" teriak Naomi.


"Nanti aja, tanggung!" jawab Vincent sambil membawa istrinya keluar kamar mandi. Kini keduanya kembali ke kamar.


Bukkkkk ...


Keduanya sudah mendarat di atas ranjang yang dipenuhi kelopak mawar yang segar.


"Mandilah dulu!" ucap Naomi.


Vincent menggeleng sambil berucap, "Habis ini, ya?"


CUP


"Vin ....!"


Naomi mengeliat tak kala Vincent langsung menyerang ceruk lehernya. Wanita itu terlihat sangat malu. Pipinya langsung merah merona.


[Akhirnya aku bisa melakukan apa saja!]


Vincent menyeringai, menatap Naomi bagai mangsa.


"Nggak sia-sia aku nunggu kamu!" bisik Vincent.


Hal itu membuat Naomi berpikir dan memutar otak.

__ADS_1


"Memang kenapa?" tanya Naomi dengan napas yang memburu. Ini karena ulah berondong jagung manisnya itu yang sangat lihat.


Naomi tidak menyangka, Vincent sangat berani seperti sekarang. Apa karena mereka sudah menikah? Membuat pria itu semakin berani padanya.


"Singkirkan tanganmu, geli! Vin!" Naomi beringsut, tapi Vincent malah senang.


"Maaf, ya. Tapi ... kamu gak bisa hentikan aku malam ini!" bisik Vincent dengan nada mengancam.


Naomi mendesis, kemudian bibirnya mengulas senyum. Mana pernah ia menduga, bila Vincent bisa seperti sekarang. Ya ampun, apalagi ketika Vincent mulai melepaskan semua kancing bajunya satu persatu.


Jantung Naomi rasanya tidak bisa dikontrol lagi. Benda itu berdebar-debar sangat kuat, wajah Naomi pun perlahan mulai terasa panas saat melihat bidang kokoh yang kini ada di atasnya.


Mungkin ia menyesal, mengapa tidak dari dulu menikah. Ternyata, hal seperti ini cukup menyenangkan. Meskipun bikin ser-seran.


"Mau di atas atau bawah?" tanya Vincent ketika ia sudah turun dari ranjang. Pria itu sibuk melepas sabuk dan juga lain-lainnya.


"Ya ampun!" Naomi membuang muka. Melihat Vincent sekilas otaknya sudah lari ke mana-mana. Apalagi mendengar pertanyaan Vincent. Naomi sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.


Sedangkan Vincent, melihat Naomi masih malu-malu kucing. Perlahan ia tarik tali handuk yang melilit pinggang Naomi.


[Aduh! Mati aku!]


Jantung Naomi makin meletup-letup. Selama ini tidak ada yang pernah melihatnya tanpa memakai apapun.


Karena malu, tangan Naomi mencoba menutupi tubuhnya. Namun, tangan Vincent jauh lebih cepat menyibak kain handuk warna putih bersih tersebut.


Melihat pemandangan yang lebih bagus dari pada hutan berlantara di Amazon, Vincent hanya bisa menelan ludah. Ia sempat berkedip, kemudian langsung naik.


Apalagi Naomi, wanita itu langsung panik saat melihat antena Vincent mencuat begitu tinggi.


"Ya ampun!" Naomi reflek menutup mata. Dia memang hebat dalam karir, tapi tidak dengan hal seperti ini.


"Kenapa menutup mata? Ayolah ... Kita sudah menikah. Kenapa masih malu-malu?" bisik Vincent yang kini sudah mengungkung Naomi di bawahnya.


Naomi mengeser tubuhnya sedikit, karena ada yang menempel, sesuatu yang keras dan terasa hangat. Tubuhnya pun jadi terasa kaku, dan canggung. Apalagi kini mereka seperti bayi. Rasanya sangat malu. Ingin menarik selimut atau bedcover, tapi Vincent menggeleng. Pria itu ingin menikmati pemandangan yang memanjakan mata tersebut.


Sesaat kemudian


CUP ...


Naomi perlahan memejamkan mata, menikmati sensasi rasa ketika bibir mereka berbenturan. Apalagi Vincent begitu lihai. Menyesap pelan dan dalam, membuat Naomi semakin merremangg.


Masih dengan jantung yang berdegup kencang, ia menyambut permainan lidah Vincent. Keduanya bermain-main, saling membuai hingga akhirnya Vincent mulai mengambil tindakan yang membuat mata Naomi kembali memejam. Brondong memang luar biasa.


Detik berikutnya, terdengar suara yang membuat bulu-bulu merinding. Suara-suara lirih Naomi membuat Vincent tambah bergejolak. Pemuda itu sendiri masih belum menyangka, ia bisa memiliki Naomi sepenuhnya.


Malam ini, mereka mandi keringat bersama-sama. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Vincent terus bergerak. Semakin lama, semakin cepat. Hingga ia merasakan ada sesuatu yang ingin keluar. BERSAMBUNG



IG Sept_September2020


__ADS_1


__ADS_2