
Dinikahi Milyader Bagian 76
Oleh Sept
Rate 18 +
Bila kehidupan Naomi dan Vincent terlihat indah dan hampir sempurna karena menyambut kehadiran buah hati yang sebentar lagi launching. Lain cerita dengan Diska.
Adik kandung dari Dirga tersebut terlihat murung. Diska menatap kosong ke arah taman lewat balkon kamarnya. Dilihatnya kolam renang sebelah kanan jalan dekat taman, sepi.
Trampoline pun dibiarkan menganggur begitu saja. Andai dia memiliki anak, pasti tidak gelisah seperti sekarang.
Tap tap tap
"Dis!" panggil Reza.
Diska menoleh, ia menatap suaminya yang akan berangkat kerja.
"Jangan melamun!" ujar Reza kemudian menepuk bahu istrinya lembut. Sepertinya Reza menyadari. Akhir-akhir ini Diska memang sering sekali terlihat melamun. Tatapan Diska kosong dan sering kaget kalau diajak bicara. Seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Siapa yang melamun?" kelit Diska.
Reza hanya bisa menghela napas panjang.
"Mau aku anter ke rumah mama? Atau ke tempat Levia?" tawar Reza. Mungkin istrinya bosan. Sendirian di dalam rumah yang megah tersebut.
Diska menggeleng.
"Lalu?"
"Aku mau di sini saja."
"Oh ..."
"Ya udah, nanti telat. Katanya ada meeting pagi?"
"Hemm ... kalau bosen, telpon aja."
Diska tersenyum kecut.
"Aku berangkat ya?"
Wanita yang sedang berjuang untuk garis dua itu hanya mengangguk kemudian memeluk suaminya.
"Hati-hati!" ucap Diska.
Reza pun berangkat ke kantor, dan Diska hanya sendirian di rumah. Meski ada banyak asisten dan penjaga.
[Siapa yang mandullll di antara kami?]
Diska membolak-mbalik buku di tangannya. Meski tangannya memegang buku, tapi kepalanya sibuk menerka-nerka. Apa salah satu diantara mereka ada yang memiliki faktor yang membuat keduanya susah memiliki keturunan?
"Sepertinya kami harus cek ke dokter, tapi apa Mas Reza mau?" gumam Diska.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Ini adalah hari minggu pagi, Reza masih terlelap di atas ranjang meski waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi.
"Mas ... Mas Reza!"
Diska menepuk pundak suaminya dengan pelan. Ia membangunkan suaminya dengan lembut.
"Iya!"
Masih dengan mata tertutup, tapi mulut menjawab.
"Bangun dong."
"Ini hari minggu, Mas mau tidur seharian."
"Emm ... aku mau ngomong."
Reza mengerjap, kemudian membetulkan posisi duduknya. Ia setengah bersandar.
"Ngomong apa, sayang?"
"Em ... jangan marah ya?"
Reza seketika mengerutkan dahi.
"Marah? Maksudnya?"
[Aduh ... marah nggak ya Mas Reza kalau aku ajak cek kesubura?]
Sebelum mengatakan maksud hatinya, Diska ketar-ketir. Takut Reza tersinggung.
Reza langsung menyibak selimut yang semula menutupi sebagian tubuhnya.
"Kamu sakit?" Spontan telapak tangannya menempel ke kening Diska.
Diska langsung beringsut, kemudian menggeleng kepala.
"Bukan! Aku sehat. Sangat sehat. Hanya saja ... em. Mas jangan marah ya?"
"Astaga, langsung aja Dis. Ada apa sebenarnya?"
Diska mengigit bibirnya. Sungguh sulit mengatakan hal ini. Belum terucap saja sudah membuatnya gelisah.
"Kita cek kesuburan," ucap Diska sangat lirih.
"Hah?"
Terang saja Reza langsung terkesiap. Ajakan Diska tidak logis. Menikah juga baru tahun kemarin. Kenapa tergesa-gesa periksa segala. Apa Diska meragukan kejantanannn suaminya sendiri.
"Jangan aneh-aneh," cetus Reza.
[Tuh! Alisnya menungkik tajam. Jelas Mas Reza tersinggung]
"Mas Reza marah ya sama Diska?"
__ADS_1
Reza menggeleng kemudian beranjak. Ia turun dari ranjang dengan muka masam.
***
Malam harinya.
Sudah pukul 9 malam, tapi Reza belum masuk kamar. Padahal Diska sudah siap dengan pakaian kebesarannya. Ia mau mencoba malam ini, siapa tahu bulan depan dapat kabar gembira.
"Dah jam sembilan, Mas Reza kok belum masuk?" gumam Diska.
Ia kemudian mengambil jubah tidur, memakainya dan keluar kamar mencari sang suami.
"Mas ... Mas Reza!"
Di ruang tamu tidak ada, di teras juga tidak ada. Diska kembali masuk ke dalam, mencari di mana suaminya.
Samar-samar ia mendengar suara orang bicara di dapur. Diska pun melangkah dengan pelan. Ia mau menguping.
Tidak jauh dari sana, terlihat Reza duduk di dapur sambil menyesap kopi.
"Iya, besok aku transfer!" ucap Reza.
"Hemm ... oke!"
Reza mengusap wajahnya dengan berat.
"Iya, besok siang aku ke sana."
Reza terus bicara di telpon. Tanpa tahu, istrinya sedang mencuri dengar. Sementara itu, dahi Diska mengekerut. Ia terus saja menguping.
"Tidak usah hubungi istriku, besok aku transfer!"
KLIK
Tut Tut Tut
Reza mematikan ponselnya dengan wajah muram.
"Telpon siapa, Mas?" tanya Diska tiba-tiba muncul di dapur.
"Astaga! Kamu bikin Mas kaget!"
Diska mendekat, kemudian duduk di depan Reza.
"Telpon siapa?" ulang Diska tajam.
"Sudah malam, ayo tidur!"
Bukannya menjawab, Reza malah beranjak dan meninggalkan Diska sendirian. BERSAMBUNG
***
Lebih baik dicintai dari pada mencintai. Nasehan unfaedah hehehe
IG Sept_September2020
__ADS_1
*NB : Untuk someone, jangan main hp lama-lama. Ingat kesehatan matanya. Dan ingat, aku adalah mata-mata itu. Hihihihih kaboooorrrr.