Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Pingsan


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 41


Oleh Sept


Rate 18 +


"Anginnya kenceng banget, masuk yuk. Laper juga ... belom makan!" bisik Dirga.


[Makan apa ini? Dia nggak lagi ngasih kode, kan?]


Mendadak Levia merasa bulunya meremang. Jangan-jangan Dirga mau macem-macem lagi.


"Lev! Kok malah bengong. Masuk yuk, aku laper," ucap Dirga sekali lagi karena Levia tidak merespon.


Padahal, Dirga memang lapar. Habis meeting langsung balik ke hotel karena buru-buru, sudah kangen sama gadis karbolnya itu. Eh, sekarang malah Levia suudzon. Dikira Dirga mau makan yang lain. Kebanyakan diajak traveling oleh Dirga, Levia sekarang agak geser. Jadi suka menjurus layaknya suaminya itu.


Dengan pasrah, Levia pun beranjak. Meninggalkan hamparan pasir di pantai yang masih ingin ia nikmati. Namun, karena Dirga mengajak kembali ke Hotel, ia pun menurut saja. Lagian juga sepertinya ia mulai masuk angin. Perutnya terasa kembung akhir-akhir ini.


Hotel Hilton Bali


Mereka berdua makan di sebuah tempat yang lumayan nyaman. Dalam hati Levia tadi sempat ngedumel. Mau makan saja suaminya pilih-pilih viewnya yang bagus. Mau makan kan? Apa mau lihat pemandangan?


Tapi, saat Levia di ajak duduk di kursi dekat jendela yang mengarah tepat ke lautan biru yang nampak indah, ia tidak banyak berkomentar. Malah larut dalam pemandangan yang menyejukkan mata tersebut.


"Gimana? Kamu suka tempatnya?"


Kepala Levia mengangguk tanpa menatap suaminya.


Besok aku ajak kamu ke tempat lebih indah. Miss Julie sudah menyiapkan tickets untuk penerbangan kita besok.


"Besok?" Levia seketika menoleh.


"Ya."


"Ke mana?" tiba-tiba Levia jadi penasaran.


"R! Nanti kamu tahu. Pasti kamu suka."


Dan Levia hanya mengangguk pelan.


Sesaat kemudian, seorang pelayan datang bersama pesanan yang sudah Dirga pesan sebelumnya.


"Nggak ada alergi, kan? Aku pesan seafood."


"Nggak ... nggak ada."

__ADS_1


"Ya sudah, mari makan. Makan yang banyak, biar punya tenaga buat nanti malam."


JLEB


Uhuk ... uhuk ...


Levia terbatuk-batuk, pelayan yang masih berdiri di belakang mereka, langsung memberikan minum sambil menahan untuk tidak tersenyum.


Sementara itu, dengan santai Dirga melanjutkan makan. Sambil sesekali tersenyum tipis melirik Levia yang mendadak salah tingkah.


[Mengapa kamu jadi manis begini, Lev?]


Dirga terus saja makan sambil mencuri pandang ke arah Levia yang sudah salting sejak tadi.


"Ada yang salah dengan wajahku? Apa ada nasi sisa atau remahan atau apa?" tanya Levia lirih karena tidak tahan ditatap suaminya.


"Bukan, hanya ... kamu cantik!" ucap Dirga cepat.


"Ehem ... ehem!" Reflek Levia mengambil segelas minuman untuk menutupi rasa gugupnya. Ia tengak sampai habis tak bersisa.


[Sejak kapan kau pandai membuatku berdebar ... ish!]


Belum juga berangkat ke lokasi honeymoon mereka, tapi Levia seperti sudah mabuk madu akibat gombalan suaminya.


Tidak sia-sia Dirga lama move on. Rupanya ia sedang mengasah skill untuk jadi penakluk hati seorang wanita. Dirga yang semula kaku seperti kanebo kering, dingin seperti mesin freezer, kini suka sekali membuat Levia melting. Meleleh seperti mozzarella yang terkena panas. Lumer-lumer deh itu hati Levia kena gombal dan bujuk rayu seorang Azzam Bernabas Dirgantara.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, mendadak sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Levia.


"Apa kamu pernah membawanya ke sini juga?"


"Hah?" Dirga langsung menoleh. Ia menatap Levia yang masih fokus menatap ke arah jendela.


"Siapa?" tanya Dirga balik. Untuk sesaat ia sempat terkejut. Namun, bisa menguasai keadaan.


"Dia ... seseorang yang pernah kamu cintai begitu dalam."


Kali ini Levia terlihat sangat tenang, mungkin karena pikirannya sudah fresh saat menikmati pemandangan laut yang memang menenangkan tersebut.


"Kenapa membahas masa lalu? Sedangkan kita sekarang fokus pada masa depan."


Dirga juga terlihat nampak serius, senyum dalam bibirnya yang semua menggembang, kini sudah menghilang perlahan.


"Aku hanya penasaran, apa dia juga pernah ke mari? Menikmati laut yang sama denganmu."


"Ya ... kami sering ke mari."

__ADS_1


"Bahkan kami berencana akan menyelengarakan pesta pernikahan di Bali. Ya ... di sini. Aku ingin mengatakannya, agar kamu tahu dari mulutku sendiri."


Levia beringsut, ia mulai menjaga jarak. Kejujuran yang ia ingin dengar, malah membuatnya tidak nyaman.


"Oh ... makanya kau tidak bisa melupakannya. Aku membaca semua buku yang dia baca, aku juga membaca surat-suratmu untuknya."


Dirga terdiam, tangannya mengepal.


"Kau cemburu pada orang yang sudah mati, Levia?" tanya Dirga dengan dingin.


Ia memang tidak suka membahas sesuatu tentang Arunika. Karena hanya membuatnya tidak nyaman dan rasa bersalah yang semakin menumpuk dalam hatinya.


"Tidak, dia masih hidup ... ya. Dia masih hidup dalam hatimu!"


Levia memegang dadaaaa suaminya. Ia bisa merasakan degup jantung Dirga. Ia yakin, Arunika masih ada dalam hati pria tersebut. Karena barang-barang Arunika masih tersimpan rapi dalam apartment Dirga.


Sementara itu, Dirga jelas langsung menepis prasangka Levia yang tidak berdasar bagi Dirga.


"Jangan bicara omong kosong, Levia ... Bagaimana mungkin kamu tahu apa yang ada dalam hatiku? Dan ini sangat konyol ... sudah berapa minggu kita menikah? Sudah berapa puluhan kali aku menyentuhmu ... Bagaimana bisa aku memikirkan orang lain ketika aku hanya bisa fokus padamu saja?" ujar Dirga miris. Ketika Levia meragukan isi hatinya.


Ini seperti malam-malam mereka selama ini tidak penting, tidak berarti dan tidak memberikan kesan apapun untuk keduanya. Dirga mungkin lupa, lupa mengatakan cinta, hingga Levia merasa suaminya hanya ingin tubuhnya. Bukan hatinya!


Levia sendiri memilih memalingkan wajah, mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Dirga bohong, masih ada Arunika dalam hati pria tersebut. Levia yakin, itu karena barang-barang Arunika tersimpan rapi di apartment mereka. Hanya itu yang jadi bahan petimbangan Levia, kalau suaminya masih menyimpan mantan dalam hatinya.


"Kita bicara lain kali, aku mau balik ke kamar," ucap Levia dengan suara serak. Kini ia hanya ingin menjauh sebentar. Karena saat ini ingin menangis. Tapi tidak mau dilihat oleh Dirga.


"Selesaikan dulu! Kita belum selesai bicara!" ujar Dirga tegas. Bahkan tangannya pun sudah mencengkram lengan Levia.


"Tolong, aku hanya ingin sendiri."


Dirga menghela napas panjang, kemudian melepas lengan Levia. Mau tidak mau, Dirga melepaskan istrinya yang tiba-tiba galau tersebut.


Ia juga sempat kecewa dengan Levia. Yang namanya manusia, pasti punya masa lalu. Levia terlalu kekanak-kanakan, cemburu pada masa lalu yang jelas tidak bisa Dirga hapus. Bukannya fokus menatap masa depan, Levia malah meratapi masa lalunya. Jujur, Dirga agak jengkel. Untung dia sayang, kalau nggak, sudah ia marahi Levia.


Sambil menahan kesal, Dirga meminum sisa minuman yang masih tersaji di meja. Kini ia duduk seorang diri. Menikmati rasa kesalnya pada istrinya itu. Tapi, beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang ke mejanya dengan wajah panik dan napas yang memburu.


"Tuan ... gadis yang bersama anda tadi... itu ... anuuuu!"


Dirga langsung berdiri, pria itu terlihat kesal menanti pelayan yang tidak kunjung bicara.


"Kenapa istri saya?"


"Itu ... Pingsan saat menuju kamar kecil."


BERSAMBUNG

__ADS_1


Gemas kan denger pasangan bahas masa lalu, udah ya. Bagaimana pun juga masa lalu tidak bisa dihapus. Mau gimana lagi! Nyesek sih, kalau mau berhasil melangkah ke depan, stop jangan menoleh ke belakang. Kalau masih bandel, ya udah. Makan tuh masa lalu. *Menasehati diri sendiri sih.


Bener-bener unfaedah. Hihihihi


__ADS_2