Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Bersorak Dalam Hati


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 79


Oleh Sept


Rate 18 +


Malam itu Diska ternyata menginap di kediaman sang kakak, Azzam Bernabas Dirgantara. Alasannya karena kangen keponakan, padahal Diska hanya mau tenangin diri. Ya, karena sedang ribut kecil masalah rumah tangga yang lumrah.


Diska yang terbiasa hidup wah, ibaratnya sultan sejak kecil, mungkin rasa respect wanita itu kurang peka. Kurang peka terhadap perasaan pasangan jika menyangkut masalah ekonomi.


Bagi Diska mungkin semuanya bukanlah masalah, tinggal di rumahnya, memakai semua fasilitas yang sudah ada sejak lama, pokoknya selama ini dia yang dominant. Diska menjadi kurang sadar, kadang hal semacam ini membuat pasangannya kurang nyaman.


Setelah menerima nasehat dari kakak iparnya, barulah pikiran Diska sedikit lebih terbuka. Sedikit ada rasa empathy, ketika Levia menceritakan bagaimana rasanya di posisinya yang sekarang.


Mereka yang dari keluarga B aja, tiba-tiba harus masuk dalam circle sultan. Jelas kadang ada slentingan miring, dan jelas ini mempengaruhi mood dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Diambil hati atau tidak, kadang-kadang tanggapan orang lain berpengaruh pada suasana hati.


Mungkin suami Diska, si Reza sekarang ini sudah pada titik di mana, ia tidak bisa menahan lagi rasa yang membuatnya kurang nyaman. Tapi namanya suami istri, sudah terbiasa tidur satu ranjang, tiba-tiba kok tidak ada di sisi, malam itu Reza menyusul Diska tengah malam.


***


Ketika Reza datang, semua sudah tidur. Yang buka pintu pun cuma ART di sana. Dan Reza langsung tanya pada Bibi, istrinya di mana. Tidak butuh waktu lama, Reza langsung meluncur ke TKP.


KLEK


Pelan Reza membuka pintu, kemudian menutup pintunya kembali. Memguncinya dari dalam.


Ia tersenyum tipis, menatap wajah istrinya yang sedang terlelap. Diamatinya wajah Diska yang sedang tidur tersebut. Kemudian, fokus Reza beralih pada kelopak mata istrinya itu.


Bengkak dan sembab, sepertinya Diska banyak menangis seharian ini. Reza kemudian duduk di tepi ranjang, menghela napas dalam-dalam. Ini adalah kali pertama ia mendapati gadis manjanya menangis cukup banyak.


Merasa bersalah, Reza kemudian mengusap rambut Diska. Mungkin terlalu capek, dan terlalu nyenyak. Di sentuh begitu Diska tidak bangun.


Lama-lama Reza malah menguap, alhasil ia langsung saja naik ke ranjang. Berbaring di sisi Diska.


"Maafin Mas Reza, Dis!" bisik Reza kemudian meraih tubuh Diska.


Memeluk tubuh hangat itu dengan erat dan mencoba untuk tidur.


Sesaat kemudian


Tangan Diska bergerak-gerak.


[Ada aroma Mas Reza ... kenapa gulingnya pakai parfum Mas Reza]


Kelopak matanya bergerak-gerak juga, Diska pun semakin mempererat pelukannya. Ia pikir sedang meluk guling.


Semakin lama Diska merasa aneh, kenapa ia merasa ada hembusan napas yang terasa hangat, dengkuran halus yang seperti biasanya setiap malam.


[Pasti aku mimpi]

__ADS_1


Makin lama semakin tidurnya tidak tenang, dan matanya perlahan terbuka. Spontan ia menjerit kaget, karena seseorang memeluknya di bawah cahaya lampu yang temaram.


Akibat teriakan Diska, Reza yang baru terlelap pun langsung terbangun. Pria itu bicara sambil masih matanya tertutup rapat.


"Ini Mas Reza, jangan kaget!" seru pria itu tanpa dosa setelah membuat anak orang terkejut tengah malam akibat ulahnya.


Diska langsung mengantur napas, benar itu adalah suaminya. Karena suaranya pun sama.


"Mas Reza ... ka ... kapan datang?" tanya Diska masih deg degan karena kaget.


Reza kemudian melepas tangannya yang semula memeluk tubuh Diska. Pria itu membetulkan posisi duduknya, setengah berbaring sambil bersandar pada ranjang.


"Ada air putih?" pintanya kemudian.


Buru-buru Diska menyambar gelas di atas nakas. Ia berikan minuman itu pada suaminya yang tengah haus.


"Makasih!" ucap Reza setelah menengak habis satu gelas air putihnya.


"Mas kapan datang?" tanya Diska yang heran karena suaminya sudah menyusul. Padahal meraka lagi perang dingin, itu seiget Diska.


"Beberapa saat yang lalu," ujar Reza kemudian menarik lengan Diska agar tidur di sebelahnya. Seperti kucing kecil yang imut, Diska langsung menurut.


"Mas gak bisa tidur di rumah."


"Kenapa?"


"Sepi!"


"Makanya aku susul ke sini. Ngapain seharian tadi, kenapa matanya bengkak begini?" tanya Reza. Yang selama ini memang lebih ngemong.


"Ini ... em ...!"


Diska sulit menjawab.


"Jangan keluar rumah, kalau kita ada masalah ya, Dis." Reza mulai menasehati istrinya.


"Emm ... itu ... kan ...!" Diska mengigit bibirnya menahan untuk tidak bicara. Tapi raut wajahnya mengatakan kesedihan yang juga ia pendam selama ini.


Melihat betapa sulitnya Diska bercerita, Reza yang sudah hafal betul karakter istrinya tersebut, hanya bisa membelai rambut Diska lembut. Diska itu gadis baik, meski kaya raya tidak pernah aneh-aneh.


Selama ini, Diska juga tidak pernah melakukan hal yang fatal di mata Reza. Jadi bukan salah Diska jika istrinya itu terlahir kaya raya sejak kecil. Mungkin dia harus lebih pandai menempatkan rasa. Karena rasa nyaman sebenarnya berasal dari hatinya sendiri.


"Maaf, mungkin Mas banyak kurangnya," ucap Reza.


Pria itu mengusap wajah Diska lembut, seperti biasanya. Seperti saat-saat masih pengantin baru dulu.


"Maaf ucapan ku tadi siang ..." tambah Reza.


"Diska yang salah, harusnya Diska ngerti posisi Mas Reza," sela wanita tersebut.

__ADS_1


"Kalau Mas Reza nggak mau tinggal di rumah Diska, Diska mau kok tinggal ikut Mas Reza," tambah Diska lagi.


Reza tersenyum tipis, kemudian membelai rambut istrinya lembut.


"Kamu nanti stres, nggak bisa istirahat di sana. Aku tahu bagaimana keluargaku ... Maaf, jika selama ini mereka banyak merepotkan kita."


Diska langsung mendongak, ia menggeleng pelan.


"Diska nggak berpikir begitu, Mas!"


Reza langsung meraih tubuh Diska, mendekapnya erat.


"Aku bersama mereka sudah sangat lama, mari tidak usah pura-pura semua baik-baik saja." Reza seolah paham, rasa tidak nyaman Diska selama ini.


Ia meminta agar mereka berdua kini lebih baik jujur saja. Jika ada hal yang menganjal, mending dikatakan.


"Diska gak masalah Mas kalau tinggal di sana."


"Nggak ... ini hanya nambah masalah."


"Tapi ..."


"Sudah, jangan terlalu memikirkan hal itu. Seharian ini Mas banyak pikiran. Bahkan waktu tiba di rumah, kamu malah tidak ada. Sendirian Mas di dalam kamar, di sana Mas mikir, semalam aja Mas gak bisa tidur ... gak enak juga kalau marahan!" ujar Reza jujur.


"Tumben? Biasanya juga cepet tidur," celetuk Diska.


"Itu karena beban pikiran Mas banyak. Pulang kerja banyak yang dipikirin. Ya sudah, akhirnya tidurnya cepet."


"Ya udah, mulai sekarang bagi aja bebannya sama Diska ... biar gak berat," balas Diska.


Reza tersenyum getir.


"Hidup sebenarnya gak semudah yang kamu bayangin, Diska."


Ganti Diska yang terdiam.


"Tapi Diska kan cuma gak mau Mas Reza stress. Banyak pikiran. kalau cerita sama Diska, siapa tahu Diska bisa bantu ... bisa Diska hibur juga kan, biar gak makin stress. Tuh ... baiknya aku kan? Aku siap hibur suami ... meski bukan gadis penghiiburrr," ujar Diska yang sudah mulai mencair dan mencoba bercanda.


"Ya sudah ... sekarang Mas lagi stress berat, hibur Mas, sekarang!"


Diska menarik diri, ia mendongak menatap suaminya. Sejak kapan Reza jadi suka ngelawak. Garing banget pikir Diska.


"Apasih!" celetuk Diska.


"Matiin lampunya, gihhh!"


"Mau ngapain?" tanya Diska dengan wajah pura-pura polos. Padahal, hatinya bersorak. BERSAMBUNG


***

__ADS_1


Kunci dalam setiap hubungan adalah komunikasi, jika terlalu banyak memendam segala sesuatu dalam hati ketika memiliki masalah, bukannya selesai tapi malah membuat masalah itu semakin lama semakin besar dan lama-lama meledak. Menghancurkan hubungan itu sendiri. *Celoteh unfaedah author Sept.


IG : Sept_September2020


__ADS_2