Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
IDE PASUTRI


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 46


Oleh Sept


Rate 18 +


Zio sedang duduk di salah satu kursi di dalam sebuah jet pribadi miliknya. Pria itu membiarkan hidangan makanan begitu saja, Zio nampak melamun. Pria berparas tampan dengan sedikit bulu-bulu halus di wajahnya tersebut, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Mungkin ia mulai bimbang, apa keputusan ia terbang kembali ke Amerika serikat sudah benar. Di tengah perjalanan ia malah mulai meragu. Untuk apa jauh-jauh ia menemui gadis yang sama sekali tidak ia kenal.


Karena merasa bosan, lama-lama rasa kantuk pun menyerang. Zio akhirnya terlelap sambil bersandar.


***


Resort di Sidney


"Surprise!"


Bukkkkk ...


Sebuah bucket bunga mawar merah besar jatuh dari tangan seorang pria. Ketika ia membuka kamar tempat teman dekatnya menginap, tiba-tiba ia mendapat pemandangan yang pahit.


"Brengsekkk!"


BUGH ...


Pria itu menghajar seorang laki-laki yang hanya memakai celana pendek dan rambut acak-acakan. Apalagi, di leher pria itu terlihat banyak bekas sesuatu. Sebuah bekas sepertinya sisa-sisa pergulatan semalam.


"STOP! Zio ... Hentikan!"


Teriak sang wanita yang kala itu hanya memakai pakaian dalam.


Zio menatap nanar pada dua penghianat tersebut. Jauh-jauh terbang ke sana, Zio malah mendapati teman dekatnya tidur dengan pria lain.


Waktu itu Zio sangatlah muda, ia masih berumur pertengahan 20an. Masih sibuk meniti karir. Suatu hari, ia ingin memberi kejutan di hari ulang tahun teman dekatnya yang saat itu mempuh pendidikan di Sidney. Tapi, ia sendiri malah yang terkejut.


Mendapati wanita yang ia sukai berhianat. Dan mulai dari sana, ia menganggap wanita sama. Wanita hanya mendekatinya karena latar belakang keluarganya. Semua tentang uang, tidak ada wanita yang benar-benar setia.


***


"Tuan ... Tuan!"


Zio tersentak, ia langsung menoleh melihat sekretarisnya yang sudah berdiri di sebelahnya.


Rupanya Zio habis mimpi buruk, ia teringat dengan kejadian yang sudah lama. Sebuah penghianatan yang membuatnya jadi enggan menikah.


Apesnya lagi, saat mulai tertarik dengan gadis sederhana, si pencuri sushi, tidak tahunya gadis itu malah menikahi Dirga. Untuk sesaat ia merasa kecewa, tapi lama-lama mencoba menerima. Karena nasibnya tidak seburuk Dirga.


Sepupunya itu mengalami hal lebih parah, harus bolak-balik menemui dokter untuk menyembuhkan traumanya. Zio lebih beruntung, karena tidak menyaksikan kekasihnya mati dengan tragis.


"Tuan ... Kita sudah sampai."


Sekretaris Zio kembali berbicara. Sementara itu, Zio hanya mengangguk pelan. Kemudian bersiap untuk turun karena mereka sudah tiba. Sembari berdiri, ia merapikan jas yang dikenakan. Kemudian turun dari jet yang sudah mendarat secara sempurna tersebut.


***


Di dalam mobil, sang sekretaris kembali bertanya.


"Langsung ke hotel, Tuan?"


Zio menggeleng, kemudian mengeluarkan kartu nama dari dompet. Mereka pun menuju ke sebuah alamat yang tertera di dalam kartu nama tersebut.

__ADS_1


Setelah menempuh beberapa puluh kilo meter. Akhirnya mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah berlantai dua dengan pagar warna coklat.


Sesaat kemudian, pagar otomatis terbuka, dan mobil yang membawa Zio langsung melesat ke dalam.


Baru turun dari mobil, dokter Titan langsung menyambut kedatangan Zio. Sambil mengendong buah hatinya yang berwajah orientalll.


Dokter langsung memeluk kawannya itu, kemudian meminta putrinya untuk menyapa Zio.


"Hallo Om Zio!" sapa dokter Titan sambil menatap putrinya yang baru berusia dua tahun.


"Cantik sekali, siapa namanya?" tanya Zio yang gemas melihat mata Ella yang sipit. Mirip seperti ibunya.


Istri dokter Titan pun muncul dari belakang, ia sambut kedatangan Zio dengan senyum ramah.


"Ayo, masuk ... di luar sangat dingin," ajak mamanya Ella. Seorang wanita keturunan Asia.


Mereka pun masuk bersama-sama, Ella kini sudah duduk di pangkuan Zio. Mereka mengobrol sambil makan pai apel.


"Sebentar lagi dia datang," tiba-tiba dokter Titan mengatakan hal itu setelah melihat ponselnya.


"Dia?" Zio mengeryitkan dahi.


"Dia sangat baik, aku mengenalnya," sela mamanya Ella.


"Kalian mengenalnya?" Zio semakin bingung. Ia pikir wanita itu hanya wanita asing. Tapi, ternyata keluarga dokter Titan mengenalnya.


"Kalian sedang menjebakku?" ucap Zio dengan tatapan menuduh.


"Itu lebih baik, dari pada kamu asal menaruh benih sembarangan!" celetuk dokter Titan.


"Aku bilang tidak usah!"


"Kamu akhirnya datang, berarti kamu serius."


"Ya udah, sekalian menolong. Sama-sama untung. Iya kan, Ma?" Dokter Titan menatap istrinya. Seolah meminta persetujuan.


Sang istri jelas mengangguk, karena gadis yang dimaksud merupakan mantan pekerja part time di klinik hewan miliknya. Mama Ella merupakan dokter hewan. Dan selama ini mengenal gadis tersebut. Gadis yang terancam di deportasi.


"Kenapa kalian tidak mendirikan yayasan amal saja?" sindir Zio yang merasa ditipu.


"Sudah, kami sudah merencanakan hal itu, iya Kan, Ma?"


Lagi-lagi istrinya mengangguk.


"Dia cantik kok. Kamu pasti suka!" ujar mama Ella yakin. Karena ia tahu selera Zio dari suaminya.


Zio hanya mencebik, kemudian menyesapp minuman hangat yang sudah dibuatkan oleh tuan rumah.


Ting Tung ...


"Nah ... itu dia datang!" seru mama Ella sambil beranjak.


"Kalian tunggu, aku bukain pintu dulu!" pesan mama Ella kemudian meninggalkan meja bundar tersebut.


....


Beberapa saat kemudian


Tap tap tap


Seorang wanita muda berjalan perlahan masuk bersama mama Ella. Dokter hewan tersebut menggandeng lengan sang gadis masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Di luar pasti dingin sekali. Harusnya pakai baju yang lebih tebal," ucap mama Ella sambil terus melangkah.


Sang gadis hanya tersenyum kecil. Namun, tidak bisa menutupi kegelisahan hatinya. Tawaran dari keluarga dokter Titan, tentang masalah yang ia hadapi membuatnya gelisah.


"Nah ... itu dia. Duduk sini, perkenalkan! Dia Zio Dirgantara. Pria yang kami ceritakan padamu tempo hari."


Dirga tidak begitu merespon, dia hanya melirik gadis tersebut. Kemudian menyesapp minuman hangatnya.


[B aja!]


Rasanya Zio menyesal terbang jauh-jauh ke sana. Karena merasa temannya itu sudah mengerjai dirinya.


Mereka bertiga kemudian duduk bersama, sedangkan mama Ella ke kamar karena sang putri sudah menguap. Sepertinya sudah mengantuk.


"Kalian bicara berdua dulu, aku mau telpon sebentar."


Dokter Titan sengaja meninggalkan Zio, ia ingin temannya itu bicara empat mata dengan gadis yang rupanya sengaja ia jodohkan dengan Zio. Dari pada Zio macan-macam, baginya keputusan Zio yang ingin punya anak tanpa menikah, itu adalah keputusan yang tidak tepat.


Membuat anak itu seni, seni yang dilakukan dua orang. Bukannya menaruh benih sembarangan tanpa harus adanya sentuhan fisik. Ingin membatu sang teman, dia mengatur semuanya dengan sang istri. Kini, ia membiarkan Zio mengenal dulu calon ibu dari anaknya. Siapa tahu, mungkin mereka jodoh, pikir dokter Titan dan sang istrinya tersebut.


Di ruang tamu.


"Sudah lama tinggal di sini?" tanya Zio malas. Sikapnya acuh dan terkesan dingin. Ia bertanya hanya sekedar basa-basi.


Gadis itu kemudian membuka hoodie yang menutupi kepalanya, dia bicara sambil menundukkan wajah.


"Cukup lama!" jawab sang gadis.


Zio mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.


"Kenapa sampai mau di deportasi?"


"Haruskah aku menjawab?"


[Ish ... Kamu Keterlaluan Titannn. Gadis apa yang kau kirim padaku?]


Zio mendesis kesal.


"Berapa usiamu?" tanya Zio lagi.


"23."


"Masih muda sekali. Kau tahu berapa usiaku? Aku 10 tahun lebih tua darimu," ujar Zio terus terang.


"Bagiku, usia tidak penting." Dari nada bicaranya, terdengar sendu.


Zio langsung menatap gadis tersebut. Dia baru sadar, pelipis gadis itu nampak memar.


"Kau habis jatuh?"


Ditatap seperti itu, gadis tersebut langsung memalingkan wajah.


"Kau dipukul?" tebak Zio sambil menyibak rambut gadis itu yang semula menutupi sebagian wajahnya.


[Titannnn! Kali ini apalagi? Gadis apa yang kau kirim Titannn!]


Zio kembali mendesis kemudian memutar kursi gadis tersebut.


"Lihat aku!" seru Zio. BERSAMBUNG.


Nama gadis itupun masih dirahasiakan. Hehehe ...

__ADS_1



__ADS_2