![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
“Andre, kok kita ke sini?” bisik Dea.
Andre tidak menjawab. Dia tetap melangkah menuju sebuah kursi di sudut ruangan. Tempat ini di penuhi oleh bunga-bunga indah. Suasana remang-remang sehingga terlihat romantis. Di depannya terdapat sebuah panggung indah. Ada alat-alat band memenuhi panggung itu.
“Kita ke sini mau melihat rival kita,” kata Rian menjelaskan. “Five Lions. Mereka adalah juara pertama The Battle of Band tahun lalu”.
“Mereka hebat,” tambah Bian singkat.
Oh! Dea mengangguk mengerti. Kemudian duduk dengan sangat tenang. Dia memperhatikan permainan dari anggota Scorpio itu dengan seksama. Seperti perkataan Bian, mereka sangat hebat. Dea benar-benar terpesona. Apalagi drumernya, dia terlihat seperti Kak Dion yang memukul drum dengan pesonanya. Tidak salah kalau mereka bisa menjadi juara pertama dalam The Battle itu.
Penampilan band Five Lions usai. Tepuk tangan bergemuruh, semuanya terpukau. Mereka turun dari atas panggung. Tiba-tiba, anggota Five Lions menuju ke tempat Scorpio. Mata mereka memancarkan kebencian. Bara api yang bisa di rasakan dari aura tubuh mereka.
“Hai, Rian. Lama tidak jumpa ya!” kata cowok itu.
Rian hanya diam. Dia tidak berbicara apa-apa. Dari matanya pun memancarkan kebencaian. Rasa benci yang sama dengan para anggota Five Lions itu. Dea hanya memandang dengan tatapan heran berserta sejuta tanya. Apa hubungan Rian dan anggota Five Lions? Apa yang telah terjadi di antara mereka?
__ADS_1
Perlahan, anggota Five Lions meninggalkan mereka. Dea masih bertanya-tanya namun tidak ada satupun yang menjawab. Bahkan Andre yang banyak berbicarapun, kini enggan untuk berkomentar. Dea hanya diam. Dia binggung. Mau bertanya? Waktu sekarang tidak tepat. Kalau nanti? Apa Rian mau menceritakannya.
“Malam Pa, Ma,” sapa Dea ketika membuka pintu rumah.
Papa dan Mamanya hanya tersenyum. Lalu Dea melangkah menuju ke kamar. Dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Five Lions. Dia masih teringat-ingat dengan nama dan wajah itu. Dan juga masih mengingat jelas suasana ketika Rian bertemu dengan Five Lions. Mata Rian. Raut wajah Rian. Ya, semuanya memancarkan kebencian. Dea dapat merasakan adanya kisah sedih di antara mereka.
Tok… tok… tok…
“Belum Ma,” jawab Dea sembari membuka pintu.
Dea mempersilahkan mamanya masuk. Dan kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Mamanya hanya menggelengkan kepala. Sudah lama, dia tidak berbicara pada gadis itu. Sejak Dion meninggal, dia selalu mengabaikan Dea. Kesedihan kehilangan itu. Kesedihan yang membuat wanita itu selalu terpuruk dalam kedukaan.
“Maafkan mama,” ucap mamanya sembari menangis dan membelai kepala Dea. “Selama ini mama kurang memperhatikan kamu,” lanjut wanita itu.
__ADS_1
Dea tertegun. Ada apa dengan mamanya? Selama ini dia tidak pernah menyalahkan wanita yang mengandungnya itu. Dia bisa memahami kesedihan yang di alami mama. Karena dia juga mengalaminya. Perlahan, dia merangkul wanita itu. Menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Mamanya terlihat sangat rapuh.
“Tidak apa-apa kok, Ma,” kata Dea menenangkan mamanya.
Dion, kakak tersayang itu meninggalkan Dea dan keluarganya dua tahu yang lalu. Dia mengalami kecelakaan maut antara sepeda motornya dengan sebuah mobil sedan. Dia sempat di bawa ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak terselamatkan. Dan sampai sekarang, Dea masih ingat dengan jelas kata-kata terakhir kakaknya. Tentang drum.
“Dea, bermainlah. Kakak sangat ingin kamu bisa bermain drum seperti kakak,” ucap Dion.
Setelah berkata seperti itu, Dion menghembus nafasnya. Dan saat itupula Dea menangis terisak-isak. Selama seminggu, dia tidak pernah tersenyum. Apalagi untuk tertawa. Dia tidak mampu.
Tiba-tiba, dia merasakan adanya cahaya kehangatan. Dia mulai berpikir untuk membahagiakan kakaknya. Dia ingin bermain drum. Dia ingin membuat kakaknya bahagia walaupun Dion tidak di sisinya.
“Mama, Dea yakin kalau Kak Dion pasti bahagia di sana,” kata Dea memeluk mamanya dengan erat.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE! JANGAN LUPA VOTE! JANGAN LUPA COMMENT! THANK YOU...