Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 12.3


__ADS_3

“Tidak apa-apa kok,” Dea menggelangkan kepala. Kemudian dia meneliti cowok yang ada di hadapannya sekarang. Wajah Bian tidak terlihat pucat, juga tidak terlihat seperti orang trauma. Apa mungkin dia sudah untuk menghilangkan rasa takut dengan mobil?


“Sebelum pergi, aku akan memperkenalkan seseorang kepada kamu,” kata Bian sembari menarik seseorang untuk ke depan. “Perkenalkan, dia Angel. Dan dulu dia adalah pacar Dion,”


Dion tersentak, melongo, mengangga, pokoknya semua ekspresi yang membuatnya terkejut. Pacar? Selama ini, Dion tidak pernah menceritakan apa-apa tentang pacarnya. Dia memandang gadis itu dari ujung kaki hingga kepala. Cantik, menawan, dan sepertinya ramah. Dea mendekati kemudian memeluknya. Dia seolah merasakan keberadaan Dion di samping Angel. Sangat dekat.


“Terima kasih,” kata Dea meneteskan air mata. Gadis itupun merangkul Dea dengan sangat erat, seolah tidak hendak melepaskannya.


“Sebaiknya kita pergi sekarang!” kata Bian memecahkan keharuan.


Semuanya mengangguk. Mereka setuju dan segera menuju ke kendaraan masing-masing. Bian, Angel, Rian, dan Rio pada mobil yang tadi, mobil merah milik Bian. Sedangkan Dea bersama Andre pergi menggunakan sepeda motor merah. Mereka berangkat ke tempat tujuan.



Dea meneteskan air mata. Suasana permakaman ini begitu sunyi sehingga suara isakannya terdengar sangat jelas. Setelah puas menumpahkan air mata, dia berdiri menghampiri anggota Scropio yang hanya terdiam melihatnya.

__ADS_1


“Andre, Rian, Bian, dan Rio, aku akan memperkenalkan kalian kepadaka kakakku, Dion,” kata Dea.


Andre mendekati gundukan tanah itu. lama dia untuk menatapnya. “Selamat siang, Kak!”


Begitupula dengan Rian dan Rio. Dia menyapa gundukan tanah yang terdapat Dion itu. Sementara Bian, dia terpaku dan ada berkas bening-bening kaca di matanya. Kesedihan yang menyakitkan terpancar di setiap organ tubuhnya. Dia  sangat menyesal. Dea mendekatinya. Menatap lekat mata cowok itu. Tanpa kata, dia coba mengungkapkan bahwa dirinya sudah ikhlas dengan kepergian Dion.


“H… hai,” sapa Bian sebisa mungkin dan perlahan air matanya jatuh.


Hening. Sunyi. Suasana saat itu sungguh haru. Kemudian, Angel yang sedari tadi hanya terpaku mulai bertindak. Dia mengelus lembut batu nisan itu. Tidak lama, air matanya mengalir. Dia menangis terisak-isak. Bila di lihat, gadis itu sangat merindukan Dion. Sangat jelas terlihat dari kedua matanya dan tindakan.


Matahari sore sudah tampak di permukaan langit. Perlahan-lahan, mereka beranjak meninggalkan pemakaman umum. Sudah saatnya mereka untuk pulang ke rumah masing-masing.


“Dea, bisa bicara sebentar?” tanya Angel tiba-tiba ketika Dea hendak menaiki sepeda motor.


Dea mengeryitkan alisnya tinggi. Dia memandang Angel dengan heran. Perlahan, dia menanggukkan kepala dan mendekati gadis itu. “Ada apa?” tanyanya.

__ADS_1


Angel mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Selembar kertas seperti surat dan sebuah kotak berbalut bungkus hadiah. Dia menyodorkannya dengan tersenyum. “Aku mau memberikan surat terakhir dari Dion,”


“Surat dari Dion?” tanya Dea semakin heran.


“Ya, dia menulis surat ini di rumahku tepar pada hari kecelakaannya,” kata Angel menjelaskan. “Dia menceritakan kalau surat itu di persiapkan untuk ulang tahun adiknya,” lanjutnya Angel lagi.


Dea mengambilnya. Air mata menetes, deras, dan semakin deras. Dia menangis dengan terisak-isak. Sejak kedatangannya tadi, dia sudah terlalu banyak menumpahkan air mata. Hingga membuat matanya mulai memerah dan bengkak.


Andre yang melihat dari kejauhan mulai mendekat. Kemudian, dia merangkul erat gadis itu dalam pelukannya. Membiarkan Dea menangis deras di dadanya.



**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. JANGAN BOSAN-BOSAN UNTUK MEMBACANYA YA. NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA. MOHON KRITIK DAN SARANNYA. **


__ADS_1


__ADS_2