Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 9.5


__ADS_3

Dea tertegun. Sejak dulu. Bagaimana bisa? Dea menatap mata Tari dengan lekat. Gadis itu tidak berbohong. Bahkan tidak sedikitpun.


“Sejak dulu? Maksud kamu?”


“Aku sudah menyatakan cintaku kepada Andre. Dan dia menjelaskan semuanya. Dia manyukai kamu,” kata Dea menjelaskan. “Pertama, aku agak marah dengan sikap Andre dan juga kamu, tapi aku mulai memahami, cinta itu tidak dapat di paksakan, apalagi kelihatannya kamu juga menyukai dia,”


“Apaan sih?” kata Dea malu.


“Hahaha… akhirnya Dea, cewek yang dulu tomboy namun sekarang feminim sedang jatuh cinta,” peluk Tari.


“Apaan sih kamu?” ulang Tari.


Dea tersipu. Dia merasa sangat malu tapi senang juga sih. Jadi, selama ini Tari sudah mengetahui semuanya. Ah, leganya. Masalah cinta ini sudah selesai. Dan juga tidak mendapatkan kata ‘ pengkhianat’. Seperti yang selama ini Dea pikirkan. Untunglah.


“Tapi kamu harus janji ya untuk selalu cerita kepadaku. Selama ini kita jarang sekali untuk bersama. Aku lebih takut kehilangan kamu daripada Andre,” kata Tari lembut.


Benar, sejak Andre datang di kehidupannya sudah jarang sekali Dea bercerita kepada Tari. Mungkin lebih tepatnya tidak pernah. Padahal dia sangat merindukan masa-masa persahabatan yang indah itu. Tari, sahabatanya, dia juga takut kehilangan cewek itu. Dan bila harus memilih, dia pasti akan memilih Tari. Dan untung saja, hal itu tidak terjadi. Tari dan Dea bisa berhubungan sahabat dengan baik lagi. Lalu dengan Andre, dia juga bisa menjalin hubungan percintaan dengan lancar. Tidak ada lagi penghalang.


“Yuk, pulang!” ajak Tari.


“Bentar, aku mau sapa Kak Dion dulu?” kata Dea sembari mendekati makam Dion.

__ADS_1


Dea mengusap batu nisan itu. Air matanya menetes lagi. Ini adalah tangisan bahagia. Bukan tangisan sedih yang dia lakukan seperti beberapa hari yang lalu. Tari hanya memandang sahabatnya dengan senyuman. Ya, Dion adalah orang yang berarti bagi Dea.


“Kak, lihatkan tadi! Aku dan Tari, kami akan tetap menjadi sahabat selamanya,” kata Dea dengan tersenyum.


Setelah berkata seperti itu, Dea dan Tari pulang. Mereka melangkah kaki meninggalkan pemakaman itu tanpa ragu. Kebahagiaan telah datang. Buktinya, saat pulang mereka bergandengan tangan. Sungguh, kebahagiaan adalah hal terindah.



Tit… tit… tit…


Pagi-pagi sekali suara klason sepeda motor telah mengusik Dea. Dia baru saja menikmati sarapan pagi. Nasi goreng seperti biasa. Dan buatan mama tercinta. Kamu tahu? Nasi goreng buatan mama Dea adalah masakan yang paling enak.


Dea segera melangkah pergi ke jendela. Mengintip. Andre. Kok pagi-pagi sekali dia sudah berada di depan rumahnya. Apalagi dengan senyuman jahil yang selama ini di rindukannya. Eh, merindukan, kok bisa ya?


“Ngapaian kamu ke sini?”tanya Dea dengan nada membentak.


“Mau jemput kamu!”


“Hah! Jemput? Aku pergi bareng dengan papa aku!” tolak Dea sembari membalikkan badan.


‘Tari sudah cerita tentang kemarin. Dan sekarang, aku benar-benar tidak akan pernah melepaskan kamu?” kata Andre memberhentikan langkah Dea. “Honey, I love you” ucap Andre membuat Dea merinding mendengarnya.

__ADS_1


Tari, jadi ini semua gara-gara Tari. Awas ya!  Dea tetap melangkah untuk masuk ke rumah. Bila dia tetap di sini, dia pasti akan semakin di jahili oleh Andre.


Tidak beberapa lama, Dea keluar dengan membawa tas dan perlengkapan sekolah. Mungkin sedikit cemberut. Dia merasa di kerjai oleh Andre dan Tari. Begitupula papa.


“Aku ikut kamu! Papa aku tidak bisa ngantar!” kata Dea dengan enggan.


Andre tersenyum. Dia menang. Sepertinya cewek itu juga sudah pasrah. Akhirnya, dia bisa juga mendapat hati Dea walaupun belum sepenuhnya. Andre memberikan sebuah helm. Supaya aman! Lalu, mereka berangkat pergi ke sekolah.



“Cie… cie… ada yang jadian nih!” goda Tari ketika mereka telah sampai di parkiran sekolah. “Selamat ya!”


“Apaan sih? Kami tidak jadian?” kata Dea malu.


“Tapi bentar lagi. Benarkan, Ndre?” tanya Tari.


Andre manggut-manggut. Spontan, Dea memukul lembut ke tubuh Andre. Andre hanya terdiam. Dia tersipu dengan wajah Dea yang lagi malu-malu. Dea terlihat sangat cantik. Merah merona di wajahnya. Rasanya Andre ingin mencubit kedua pipi yang menggemaskan itu. Di tambah lesung pipi yang melengkung di wajahnya, benar-benar semakin membuat Dea menjadi cantik.


Duh, seperti kisah kehidupan Dea akan happy ending nih. Tapi tidak tahu juga. Sang penciptalah yang tahu tentang kehidupan seorang manusia. Mungkin saja, akan ada prahara besar setelah kebahagiaan ini.


__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA BAB 9 YA... JANGAN LUPA LIKE, RATING, VOTE, COMMENT, AND FAVORITE-NYA!


__ADS_2