![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Dea kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kemudian dia membaringkan tubuh ke tempat tidur. Hari ini dia tidak bersemangat. Mungkin karena kepergian Olivia yang sudah di anggap sebagai kakaknya. Sedih rasanya. Tidak tahu sejak kapan, dia seakrab itu dengan gadis itu. Tapi aneh, walaupun wajah Andre dan Olivia sangat mirip, sifatnya beda jauh. Seperti bulan dan matahari. Jauh… banget!
Tiba-tiba, dia kepikiran. Perkataan terakhir di bandara tadi.
Andre memang manja, tapi dia sangat baik dan perhatian. Kakak harap kalian bisa akur.
Ya, Andre memang manja. Baik. Juga perhatian. Tapi Dea tidak bisa melepaskan perasaan takut karena kehilangan sahabat. Kalau benci? Jelas Dea bohong. Dia sangat menyayangi Andre. Rasanya dia ingin selalu Andre selalu berada di sisinya. Dan kata honey itu, tidak buruk juga kok!
Apa sebaiknya aku belajar masak aja ya? Batin Dea secara tiba-tiba. Kemudian dia melangkah pergi ke kamar mandi. Ganti pakaian dan melangkah keluar kamar. Dia menuju dapur. Apa yang mau aku masak nih? ucap Dea dalam hati.
“Kamu lagian ngapain?” kata mama Dea menongolkan kepalanya dari pintu.
Dea menggelengkan kepala. “Tidak ada kok, Ma!”
“Kamu mau belajar masak?” tanya mama sembari memperhatikan Dea yang sedang memandang bahan-bahan makanan. “Mau mama ajarkan?”
“Ya,” jawab Dea pelan dengan menganggukkan kepala.
“Memang kamu mau masak apa?”
“Kalau bisa sih yang mudah-mudah aja ma,”
“Kalau masak nasi goreng, kamu mau?”
__ADS_1
“Mau, Ma!” jawab Dea singkat dengan penuh semangat.
Mamanya mengambil beberapa bahan makanan. Dia mengajarkan dengan dengan sabar. Walaupun berkali-kali Dea selalu salah mengenal bumbunya, namun dia tetap senang mengajari anak gadisnya itu. Memang ibu adalah wanita paling hebat. Dia yang melahirkan, dia yang membesarkan, dan dia pula yang mengajarkan tentang segala hal. Pantas, surga itu berada di telapak kaki ibu.
“Akhirnya selesai juga!” kata Dea lega.
“Kamu sudah berusaha dengan baik!”
“Terima kasih, Ma!”
“Kalian sedang apa? Wah, ada bau yang enak nih!” ujar papa Dea berdiri di depan pintu dapur. “Kamu masak?” tanya papa melirik Dea. “Kok tumben, pasti untuk cowok kan?”
“Apaan sih, Pa? Memang salah kalau aku mau belajar masak, aku kan perempuan,”
“Boleh kok Pa!” sodor Dea. Papanya mengambil sesendok nasih goreng dan masukkan ke dalam mulut. “Bagaimana? Enak?”
“Kok rasanya… ,” kata papa dengan mengerutkan kening. “Enak banget!” lanjutnya sembari tersenyum.
“Huh! Papa buat aku jantungan aja!”
“Benar dugaan papa, kamu masak untuk cowok kan! Hayo, siapa dia?” goda papa.
“Apaan sih, Pa?” renggek Dea. “Ma, lihat papa nih, godain aku terus,”
__ADS_1
Mamanya hanya tersenyum. Senang melihat anak gadisnya sudah besar dan mengenal tentang cinta. Sementara papa, dia masih menggoda Dea dengan tatapan tanya. Buat Dea menjadi salah tingkah saja. Memang benar sih, dia belajar masak untuk seorang cowok. Andre, cowok itu tidak tahu sejak kapan sudah memengaruhi dirinya. Tapi berkat dia, Dea merasakan kebahagian tawa dan canda yang sudah lama hilang. Dia bisa melihat mama kembali tersenyum. Dan juga papa yang sudah kembali seperti biasa. Sejak Dion meninggal, suasana ini sudah jarang sekali terjadi. Mungkin belum pernah terjadi lagi. Namun malam ini, Dea merasa sangat berterima kasih kepada Andre. Karenanya, dia bisa merasakan kenangan indah itu.
Pagi-pagi sekali, dia sudah mendapatkan pesan. Dari Andre. Dia menyuruh Dea tidak pulang setelah pelajaran sekolah usai. Katanya lagi, dia ingin membawanya ke suatu tempat. Sudah lima belas menit berlalu, cowok itu belum juga muncul. Padahal tadi, dia menyuruh cepat datang ke parkiran. Dan sekarang, dia tidak tahu rimbanya.
Sesaat kemudian, cowok itu akhirnya datang. Bareng Tari. Kok bisa?
“Hai Tar,” sapa Dea.
Cewek itu diam saja. Dia melihat lama ke arah Dea, tapi tidak ngomong apa-apa. Perlahan, dia meninggalkan Dea. Heran. Ada apa dengan Tari? Apakah Andre sudah mengatakan sesuatu kepadanya. Mungkin perkataan yang menyakitkan untuk Tari.
“Kamu berbicara apa ke Tari?” gumam Dea.
“Tidak ngomong apa-apa. Dia tadi hanya tanya, aku mau ke mana? Aku bilang aja mau pergi latihan Scorpio,”
Oh, untunglah. Hampir saja jantungnya mau copot. Melihat tingkah aneh dari Tari. Mungkin Tari ada urusan, makanya dia mengabaikanku, batin Dea.
Kemudian, Dea menaiki sepeda motor Andre dan melaju meninggalkan sekolah.
TOLONG AKU! TOLONG VOTE-NYA!
__ADS_1