Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 2.4


__ADS_3

“Hei, Bro,” sapa Andre.


“Sore,” sapa Dea juga.


Rian dan Rio masih terpaku. Bukan karena kedatangan Andre, namun Dea. Mereka masih belum percaya dengan sosok Dea yang merupakan Dion. Tahu sendiri kan? Drum itu adalah musik paling besar dalam sebuah band. Dan memainkannya pun memerlukan tenaga yang besar. Saat memukul dengan menggunakan stick drum, seorang drumer harus berkonsentrasi antara otak kiri dan otak kanan. Sedangkan Bian, cowok pendiam di band Scorpio menanggapinya dengan biasa saja. Yah, memang begitulah sifatnya.


“Oke, langsung saja kita latihan,” perintah Rian.


“Tunggu!” henti Dea. “Aku boleh mengganti pakaian dulu?” pinta Dea.


Rian berpikir. Dia memandang Dea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ganti pakaian? Bukankah dengan seragam itu saja sudah cukup untuk latihan. Perlahan, Rian teringat. Syarat itu. Kemudian dia mengangguk dan mempersilahkan.


Sesaat kemudian, Dea datang. Dia menggunakan kaos merah dan celana jeans panjang. Dan tidak lupa, sebuah topi menutupi wajahnyanya. Rambut panjangnya tidak tampak. Dia menyembunyikan dengan wig yang berada di kepalanya. You are right! Dea berubah menjad seorang Dion saat bermain drum.


Semua mata terpaku tak terkecuali Bian. Kini, sosok wanita yang tadi masih di lihat telah hilang. Seorang cowok. Dea benar-benar kelihatan seperti seorang sosok laki-laki sejati.


“Oke, langsung saja kita latihan,” ucap Andre memecahkan keheningan.


Semua anggota Scorpio segera bersiap-siap. Andre memegang gitarnya. Rio sudah stand by dengan bass kesayangannya. Bian, sudah sejak tadi berdiri di depan mikropon. Dia siap untuk mengeluarkan suara emasnya. Sedangkan Rian, dia sudah siap untuk membuka latihan. Begitupula dengan Dion, dia telah siap untuk memperlihatkan permainan drumnya.

__ADS_1


Suara Bian sangat merdu. Bahkan mengalahkan suara serak-serak dari Lady Gaga. Latihan pertama ini, Rian mengusulkan untuk menyanyikan lagu yang hits masa kini. Sebuah lagu berbahasa inggris dengan jugul Just Dance.


What's going on, on the floor?


love this record baby but


I can't see straight anymore


Keep it cool


What's the name of this club?


Just dance!


Plak… plak… plak… Rian bertepuk tangan. Dia sangat puas dengan permainan dari anggotanya. Mereka bermain dengan sangat indah. Sungguh memukau! Mereka benar-benar sangat berbakat dengan alat musik kesayangan itu. Dan suara Bian. Dia benar-benar memiliki suara yang sangat indah. Amazing! Kata itu yang cocok untuk suara merdu itu.


“Good Job!” puji Rian. “Kalau seperti ini, kita bisa memenangkan perlombaan The Battle of Band satu minggu lagi,” lanjut Rian lagi.


“The Battle of Band? Maksud kamu kita akan bertanding dengan band-band yang lain?” tanya Dea terkejut.

__ADS_1


“Ya,” jawab Rian singkat.


“Tapi, waktunya terlalu singkat. Apa kita akan bisa?” kata Rio sedikit khawatir.


“Tidak usah khawatir. Kita adalah seniman musik hebat. Pasti kita bisa mendapatkan kemenangan,” kata Andre semangat. “Benarkan, Bian?” tanya Andre.


Bian mengangguk menyetujui. Lalu, Andre memandang Dea. Matanya seolah memberikan pertanyaan sama kepada Dea. Dea mengangguk setuju. Dia benar-benar sangat yakin bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan. Mengapa tidak? Permainan mereka sangat bagus. Andre sangat berbakat bermain gitar. Dia bisa memadukan dengan alat musik lain. Rio, walaupun dia paling pendek di anggota itu tapi dia bermain sangat bagus dengan bassnya. Dan tidak kalah, Rian, ketua band Scorpio, dia bisa mengarahkan anggota Scorpio sehingga bisa bermain dengan baik. Lalu tidak ketinggalan dengan Bian. Cowok pendiam dengan sosok dewasa itu, dia memiliki suara yang sangat merdu.


“Aku yakin kita pasti menang,” kata Dea mengebu-ngebu.


Semua anggota Scorpio terdiam. Tertegun dengan reaksi Dea yang bersemangat. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Apakah yang lucu? Dan hanya satu jawabannya. Suara Dea. Suara ceweknya membuat mereka tertawa. Suara melengking yang membedakannya dengan cowok dalam bandnya tersebut. Memang penampilannya seperti cowok tapi suara ceweknya tidak bisa di ubah. Yah, memang tidak bisa di pungkiri, Dea tetaplah seorang cewek.


“Dea, bila kamu berpakaian seperti itu, lebih baik kamu tidak usah berbicara. Kamu kelihatan seperti…,” kata Andre mencoba menahan tawa. “BANCI KALENG,” lanjutnya.


Dea merenggut. Huh! Andre resek. Apa maksunya banci kaleng? Dea benar-benar merasa sangat kesal. Bad mood. Perlahan, dia tersenyum. Kesalnya mulai menghilang. Tidak buruk juga masuk band ini. Mungkin, jalan inilah yang terbaik untuknya dan…  Kak Dion pasti bahagia, pikir Dea.



BAK, BIK, BUK, BUM!

__ADS_1


LIKE! VOTE! COMMENT!


__ADS_2