Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 3.4


__ADS_3

“Yuk!” ajak Andre. “Berhubung aku tidak bawa motor, kita pakai taxi aja!”


Dea menganggukkan kepala. Dia menurut saja. Dea dan Andre segera ke depan gerbang gedung itu. Mereka menunggu mobi; taxi. Tidak beberapa lama, mobil berwarna biru itu datang. Andre mempersilahkan Dea memasuki mobil duluan. Ladies the first, begitu kelihatannya.


Mobil Taxi membawa mereka ke jalanan kota. Dea sangat menikmati perjalanan tersebut. Angin malam yang sepoi-sepoi. Kesejukan yang berbeda dengan kesejukan dari hujan. Di tambah dengan  rembulan yang hanya tampak pada malam hari. Tiba-tiba, mobil itu berhenti pada sebuah restoran. Restoran dengan lampu berkelap-kelip di setiap sisi ruangan. Restoran dengan menu sea food sebagai makanan utama. Restoran dengan suasana Negara Italia yang romantis.


“Kok kita berhenti di sini?, bukannya kita harus pulang ke rumah?” tanya Dea.


“Aku lapar!” jawab Andre singkat.


Andre menarik tangan Dea dengan paksa. Setelah dia membayar, mereka masuk ke dalam restoran megah itu. Banyak muda-mudi yang sedang makan malam di sana. Ada juga segerombolan para pemuda yang asyik berbincang-bincang. Andre mengajaknya ke sudut ruangan kiri restoran itu. Dia mengambil sebuah kursi dan mempersilahkan Dea seperti seorang putri. Dea tertegun dan melongo. Malam ini, Andre sangat berbeda. Dia menjadi sosok dewasa yang membuat hati Dea terpesona.


Andre memandang Dea dengan tatapan tajam. Perlahan, tangannya memegang pipi Dea. Semakin tinggi hingga kepalanya dan melepaskan wig yang menyelimuti rambut panjang Dea. Gadis itu tersipu. Tangan Andre menyentuh dengan lembut lalu membelai kepala Dea. Rambutnya sedikit berantakkan, namun Dea tidak berkomentar.


“Kamu cantik kalau rambut kamu di gerai!” puji Andre.

__ADS_1


Dea kembali tersipu. Perkatan Andre tadi membuat dirinya seperti melayang. Apalagi perilaku-perilaku Andre bak seorang pangeran yang sedang melayani sang putri. Dea benar-benar sangat senang. Tiba-tiba, Andre memegang tangan Dea, kemudian menggenggamnya dengan sangat lembut. Matanya memandang Dea dengan penuh tatapan cinta. Bibirnya tersenyum dengan sangat lebar, kelihatan banget wajah senangnya.


“Setahun yang lalu, sejak malam itu ketika kamu menjadi Dion, aku sudah jatuh cinta kepadamu. Kamu seolah heroin. Aku sempat frustasi karena menganggap diriku tidak normal. Namun, ketika pertama kali aku datang ke SMA Nusa Bangsa dan bertemu denganmu, aku langsung mengenalmu,” ucap Andre dengan nada romantis. “Apakah kamu mau menjadi pacarku?” ucap Andre dengan gugup.


Dea tersentak. Spontan melepaskan genggaman Andre. Tidak mungkin! Dia tidak menduga kalau Andre akan mengucapkan pernyataan cinta itu. Penyataan cinta itu sungguh terlalu cepat baginya. Perlahan, Dea hendak berlari meninggalkan Andre. Dea benar-benar shock. Apalagi wajah Tari selalu terbayang dalam benaknya.


“Tunggu!” henti Andre sembari memegang pergelangan Dea.


“Mengapa kamu katakan itu?” ucap Dea, tidak tahan untuk mengeluarkan air mata.


“Maksud kamu apa?”


“Lalu, kenapa kamu menangis?” tanya Andre penasaran dengan air mata Dea.


Dea diam. Dia memberontak. Pergelangan tangannya sampai memerah. Lalu, dia memberhentikan sebuah taxi. Dia masuk ke dalam taxi itu dan perlahan meninggalkan Andre yang terpaku. Di dalam Taxi, Dea menangis. Air matanya lebih deras daripada tadi. Dia tidak tahu mengapa air mata itu mengalir deras. Apalagi hatinya terasa sangat perih. Seperti di sayat-sayat oleh pisau yang sangat tajam.

__ADS_1



“Huh,” kata Dea menghela nafas.


Dea berbaring di tempat tidur. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Kompetisi itu. Dan juga pernyataan cinta dari Andre yang mendadak. Dea benar-benar di buat pusing oleh serangkaian kejadian itu. Ini terlalu mendadak untukknya!


Air mata Dea kembali menetes. Dia tahu bahwa hatinya sangat menyukai Andre. Dia juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu datang. Namun, dia tidak bisa menerima perasaan itu. Tari. Alasan satu-satunya adalah Tari. Dia tidak ingin menghancurkan hati sahabatnya. Apalagi bila sahabatnya menganggap dirinya sebagai pengkhianat. Dia tidak menginginkan itu.


Perlahan, Dea menghapus air mata. Harus melupakan Andre. Harus! Dia tidak ingin terus berlarut dalam kesedihan ini. Dia harus mengikhlaskan Andre untuk bersama Tari. Yah, walaupun hatinya terasa sakit.


Dan sekarang masalahnya adalah dia tidak tahu harus bersikap apa di depan Andre. Apakah harus seperti biasa dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa? Ataukah dia harus menjauh diri dari Andre. Dea benar-benar sangat binggung.



MOHON LIKE-NYA TEMAN-TEMAN!

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, AND SHARE YA!


TERIMA KASIH


__ADS_2