![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Ting… tong… ting… tong…
Sudah beberapa kali, Dea dan Bian menekan bel rumah Andre. Masih tidak ada yang keluar dari rumah. Dea mulai gelisah, benar-benar sangat takut terjadi sesuatu kepada Andre. Sudah cukup laki-laki itu membuat hatinya sedih. Dia tidak mau mengalami sakit yang lebih dari ini.
“Dea, sebaiknya kita pulang saja!” kata Bian sudah mulai kecewa.
Dea mengangguk. Studio Scorpio. Itu tujuan terakhir. Dia berharap, Andre berada di sana. Tiba-tiba terdengar suara gerbang di buka. Sebuah sepeda motor merah masuk. Kemudian pengemudinya membuka helm dan … Andre. Raut cowok itu terlihat bad mood. Dan benar, ada memar-memar merah di wajahnya.
“Andre, kamu tidak apa-apa?” tanya Dea khawatir. Dea mendekatinya dan meneliti wajah memar cowok itu.
Andre diam. Dia tidak mengubris perkataan Dea. Perlahan, dia melangkah masuk ke dalam rumah. Melihat itu, Dea tak berkutik seperti patung. Air matanya tumpah. Benarkah itu? Andre mengabaikannya. Bagaimana ini, air matanya terus mengalir?
Tiba-tiba, Bian memberhentikan langkah Andre. Memandang mata cowok itu dengan tatapan tajam. Dia tahu bahwa Andre sedang terluka. Begitupula dengan Dea.
__ADS_1
Andre segera menuju ke tempat Dea. Dia memeluk gadis pujaan hatinya dengan lembut. Spontan, Dea merangkul cowok itu erat.
“Maafkah aku!” kata Dea sembari terisak-isak.
“Tidak apa-apa kok!” jawab Andre lembut.
Cukup berlangsung lama kejadian romantis itu berlangsung. Hingga sebuah suara sepeda motor yang berlalu memecahkan suasana hangat itu. Kemudian, Andre menyuruh Dea dan Bian masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Papa dan mama Andre sedang pergi ke luar negeri. So, dia harus tinggal sendiri di rumah megah ini. Bian, yang tadi hanya penengah mulai memberikan mereka waktu. Dia beranjak ke dapur untuk membuat minuman.
“Kamu ada kotak P3K?” tanya Dea dengan malu-malu.
“Apakah aku boleh mengobati kamu?” tanya Dea lagi. Kini wajah memerah, malu banget.
Andre mengangguk lagi tanpa berbicara. Dia mempersilahkan Dea untuk mengobati luka itu. Banyak sekali memar-memar merah pada wajahnya. Sungguh mengerikan!. Dan lagi, ada darah beku di bibir bawahnya. Terkoyak lebar dan berdarah merah.
__ADS_1
Andre meringis kesakitan. Sekali-kali dia menjerit kecil. Dan Dea hanya tertawa. Lucu. Wajah Andre terlihat seperti anak kecil yang manja kepada ibunya. Sungguh-sungguh lucu. Sedangkan Andre, dia hanya diam. Dia membiarkan senyuman bibir Dea berkembang. Mungkin karena senyuman itu menyejukkan hatinya.
“Nih, ponsel kamu?” beri Andre.
“Terima kasih,” jawab Dea. Dea mengambilnya lalu memasukkan ke dalam saku bajunya.
Gara-gara benda itu, Andre sampai terluka. Benda itu? Ah, bukan. Semua ini gara-gara Andika. Seandainya dia tidak bertemu dengan Andika, kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Dan wajah Andre… ya, memar itu pasti tidak ada.
Dea kembali diam, duduk dengan santai di sofa ruang keluarga. Dia menantikan Andre untuk bercerita tentang memar itu. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan membuka mulut tentang luka ini. Dan lagi, dari tadi dia hanya diam. Tidak berkutik. Tidak pula berbuat jahil seperti biasanya.
Dea ingin bertanya. Tapi takut. Biarlah seperti ini. Tunggu Andre mau bercerita dengannya. Lagipula dia tidak boleh geer. Belum tentu memar itu karena adu kekuatan dengan Andika. Namun… namun… ekspresi awalnya tadi. Entahlah, Dea belum mau mengambil pusing. Cukup dulu dengan keadaan seperti. Mengobati memar-memar merah di wajah cowok itu.
__ADS_1
HEY YANG DI SANA! PLEASE LIKENYA!