![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Malam semakin larut. Dea belum pulang. Masih di persimpangan. Dia menelusuri jalan tanpa arah. Air matanya masih menangis. Perih terasa sangat lekat dalam hatinya. Bian. Selama ini dia telah menyembunyikan kebenaran itu. Dan seenaknya dia keluar dari Scorpio untuk menghindari dirinya.
Ponsel Dea berkali-kali berdering. Dari Andre. Dan juga dari Rian, Rio, dan Bian. Tidak satupun yang Dea jawab. Dia hanya melirik ponselnya dan meletakkan kembali ke dalam tas. Kemudian dia terus melangkah tanpa tujuan. Tanpa sadar, dia telah berada di sebuah taman kanak-kanak. Ada sebuah ayunan yang mengingatkan kenangan bersama Dion. Sudah lama dia tidak ke sekolah kecil itu. Mungkin sejak kematian Dion, dia tidak pernah mengunjunginya.
Dea duduk di ayunan tersebut. Memandang langit. Air matanya kembali menetes dengan deras. Fakta ini terlalu berat baginya. Mungkin terlalu berat untuk pikirannya. Dulu, Dion dan Dea suka mengunjungi tempat ini. Dan ayunan inilah tujuannya. Mereka bisa berada di ayunan itu sampai berjam-jam. Bermain riang dengan ayunan yang mulai berkarat.
Perlahan, Dea beranjak dari ayunan itu. Dia kembali menelususri jalan. Dia sangat binggung. Kalau pulang rumah, anggota Scorpio pasti menunggu dirinya. Tapi kalau tidak pulang, dia harus menginap di mana dan orang tuanya pasti khawatir?
“Maaf Tar, aku sudah membuat kamu repot!” kata Dea.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kok. Aku senang kamu mau membuatku repot!” ujar Tari tersenyum ramah.
Tari tahu. Gadis itu pasti mempunyai masalah, mungkin saja masalah berat. Kelihatan banget dari kedua matanya yang memerah dan membengkak. Namun dia belum juga mendengarkan sepatah katapun tentang masalah itu. Dan sekarang, dia hanya bisa bungkam. Dia membiarkan Dea untuk lebih tenang.
Pukul 23.50
Mata Dea belum bisa terpejam, tidak bisa tidur. Berulang kali dia mencoba untuk menutup matanya. Dan berulang kali dia bangun dan bersadar di tempat tidur. Tari yang tersadar secara tidak sengaja, kini mulai gelisah. Apalagi melihat Dea terus memandangkan langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ternyata sahabatnya itu benar-benar sedang masa sulit. Perlahan, Tari bangun lalu memeluk gadis itu. Terdengar suara isak tangis. Dea menumpahkan air matanya.
“Aku sungguh tidak menyangka, Tar!” Dea mulai bercerita. “Bian… bahwa Bian yang menyebabkan Kak Dion meninggal dunia,”
Tari diam. Tidak berkomentar. Mungkin dia terkejut tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mendengar cerita dengan seksama. Dia tahu rasa sakit di hati Dea itu. Sangat perih. Dan lagi, air mata Dea terus tumpah. Menetes semakin deras.
__ADS_1
“Aku binggung Tar. Apakah aku harus membencinya atau aku harus mengikhlaskan saja?” lanjut Dea. “Tapi aku tidak bisa. Dion adalah orang yang sangat berharga, dia kakak tersayangku,”
Tari kembali memeluknya, semakin erat saja. Sahabatnya ini sedang rapuh. Dea sedang binggung dan gundah. Scorpio? Dea baru ingat. Apa yang harus di lakukan dengan Scorpio. Dia tidak mungkin terus bertahan dengan band itu. Sungguh tidak mungkin. Dan Andre. Apakah dia harus tetap melanjutkan hubungan ini?
“Sudah, jangan menangis lagi?”. Bujuk Tari.
MENURUT KALIAN GIMANA CERITA INI?
MOHON VOTE, COMMENT, LIKE, AND SHARE YA ...
__ADS_1