Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 11.3


__ADS_3

From : Tari


Dea, kamu di mana?


Kamu pergi ke sekolah, kan?


Pesan itu tertera dengan sangat jelas di ponsel Dea. Ya, pagi-pagi sekali dia sudah keluar dari rumah Tari. Pergi ke sekolah, itulah kalimat sebelum dia meninggalkan rumah Tari. Faktanya, dia sekarang tidak berada di sekolah. Pemakaman ini. Tempat sunyi yang tidak ada seorangpun. Hanya ada tumpukan tanah-tanah dari orang yang meninggalkan dunia fana ini.


Dion Purnama Putra. Masih sangat jelas terpapar di batu nisan. Dea mengusap lembut benda tak bernyawa itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Pergi ke sekolah? Anggota Scorpio pasti mencarinya dan dia juga malas bertemu dengan Andre. Pulang ke rumah? Kalau jam sekarang, mama dan papa sedang kerja. Tidak ada siapa-siapa di rumah.


“Kak, Dea harus bagaimana?” tanya Dea dengan air mata yang terus mengalir.


Angin sepoi-sepoi. Dion seolah mendengarkan suara tangisan dari Dea. Air mata belum berhenti, masih mengalir sangat deras dan menetes di tanah yang sudah tertutup rumput jarum. Butuh waktu yang sangat lama untuk melupakan Dion. Sampai sekarang, dia tidak bisa melupakan cowok itu dan perihnya rasa kehilangan yang sangat menyakitan. Jadi, apakah dia harus bersikap bagaimana kepada orang yang telah membunuh orang yang berarti itu? Membencinyakah? Ataukah membuatnya seperti pepatah darah di balas dengan darah?


“Kak, aku sudah tidak sanggup bertahan seperti ini? Sejak kakak pergi, aku selalu menangis,” kata Dea tidak berhenti menangis.


Hatinya terasa perih. Lebih sakit daripada di tusuk pedang. Dia merebahkan kepadanya ke gundukan tanah coklat itu. Semakin deras air mata mengalir itu. Bengkak dan kemerahan di matanya tidak di hiraukan. Yang penting saat ini baginya, dia bisa merasa lega.


Perlahan, Dea beranjak pergi, ingin pulang ke rumah. Setidaknya, dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.

__ADS_1


Dia menelusuri jalan. Berkali-kali celingak-celinguk berharap ada mobil taxi yang lewat yang bisa membawanya ke rumah. Sudah lima belas menit berjalan, tidak ada satupun mobil taxi apalagi tukang ojek di temuinya. Tiba-tiba, matanya tanpa sengaja melihat sebuah mobil Taxi yang sedang berhenti. Dia segera berlari. Lalu menyeberang melewati jalan itu.


DAK… Dea terbanting. Tubuhnya menyentuh depan sebuah mobil sedan hitam dengan kencang. Dia terkulai lemas di depan mobil yang menabraknya. Kepalanya berlumuran darah. Kaki dan tangannya menjadi memar yang memilukan. Dan akhirnya dia pingsan.



“Aku di mana?”


Dea bangun dari tempatnya, sebuah kursi kayu bercat biru. Di sekelilingnya terdapat bunga-bunga indah. Di tambah lagi, dengan sebuah gedung yang tidak asing lagi. Taman kanak-kanak itu. Dea mencoba untuk menelusuri gedung. Mencoba mencari seseorang untuk bertanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Seseorang sedang berduduk santai di sebuah ayunan. Sosok laki-laki yang sudah di kenalnya dan sudah lama pergi.


“Kak!” panggil Dea.


“Kak, mengapa kakak bisa berada di sini?” tanya Dea


“Kakak hanya ingin mengunjungi kamu.,” jawab Dion tersenyum.


Dea tertegun. Cowok itu masih sama. Perhatian dan dewasa. Dea merangkulnya lagi. Sekarang sangat erat. Dion hanya bisa tersenyum. Perlahan dia membelai kepala Dea dengan lembut. Gadis itu menerimanya dengan senang hati.


“Dea, kakak boleh tanya?” tanya Dion.

__ADS_1


“Boleh,”


“Kamu marah sama Bian yang menyebabkan kakak meninggal?”


Mendadak wajah Dea cemberut. Dia sedih. Yah, mungkin dia sudah keterlaluan. Bian. Cowok itu tidak pernah melakukan kejahatan kepadanya. Dan kecelakaan itupun karena ketidaksengajaan. Jadi, apakah dia harus marah kepada cowok itu? Walaupun begitu, tetap saja kalau Bian telah menyebabkan Dion meninggalkan dan meninggalkan dirinya.


“Kakak tahu kamu pasti marah saat mendengarkan itu tapi kematianku sudah menjadi takdir. Tidak ada yang patut di salahkan,” kata Dion lagi.


Dea masih terdiam. Memang benar, semua sudah menjadi takdir yang tidak dapat di elakkan. Dan dia sudah bersikap kekanak-kanakan. Tak bersikap dewasa. Seharusnya dia bisa menjaga perasaan Bian dan Scorpio. Lagipula, Bian juga merasa sangat tersiksa. Dia selalu di kelilingi rasa bersalah. Itu sungguh menyakitkan.


“Sejak kamu bertemu Scorpio, kakak sangat senang. Kamu mulai tersenyum lagi,” ucap Dion sembari membelai kepala Dea. “Kakak sangat terluka jika kamu sedih,”


“Kak, maafkan  aku yang selama ini bersikap kekanak-kanakkan. Tapi aku melakukan itu karena aku sayang kakak,”


“Kakak paham. Tapi sikap itu menyakitkan orang-orang yang menyayangimu!”



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. TERIMA KASIH JUGA SUDAH VOTE, COMMENT, AND LIKE...

__ADS_1


__ADS_2