Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 10.2


__ADS_3

Dea hanya tersenyum melihat perilaku dari Bian itu. Sesaat dia merasakan diri Dion dari Bian. Tidak tahu karena apa. Hanya saja, sikap dewasa dan perhatian dari cowok itu seperti kehangatan seorang kakak. Namun mengapa? Dari dua bola mata Bian terlihat kesedihan. Kesedihan yang belum pernah tampak ke permukaan. Apalagi saat Bian memandangnya. Pemuda itu seolah terluka.


“Bian, kok kamu kelihatan sedih?” tanya Dea dengan memberani diri.


“Maksud kamu apa? Aku tidak sedih kok!”


“Tapi, mata kamu selalu memancarkan kesedihan. Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang melukai kamu?”


“Tidak kok. Tidak pernah!” jawab Bian.


Oh, syukurlah. Dea kembali menghirup jus mangga, minuma kesukaannya. Tapi pikiran belum bisa menghilangkan tatapan sedih itu. Selama ini di mata Dea, Bian adalah sosok seorang laki-laki seperti kakak. Bahkan dia merasa kalau Bian itu seperti Dion. Memang tidak boleh mengingat orang yang sudah meninggal berkepanjangan namun setiap melihat Bian, selalu Dion yang terpikir dalam benak Dea. Mungkin Dea belum bisa mengikhlaskan kepergian Dion. Dan lebih mungkin lagi bahwa dia tidak akan memaafkan orang yang telah menyebabkan Dion kehilangan nyawanya.


Dea teringat sesuatu tentang janjinya. Dulu, Dea berjanji kepada dirinya. Setelah kematian Dion, dia akan mencari orang yang telah merenggut nyawa saudara laki-lakinya itu. Bila bertemu, dia akan membenci dengan sangat bahkan mungkin bisa lebih. Membunuhnya, mungkin hal itu yang lebih sering berkeliling di kepala Dea. Dan seiring berjalannya waktu, Dea sedikit mengikis rasa dendam itu walaupun masih menyisakan banyak kesedihan. Tapi bila bertemu sekarang? Apakah Dea masih berpikiran seperti itu? Ataukah mengikhlaskan saja?


“Bian!” panggil Dea.

__ADS_1


“Ya,” jawab Bian lembut.


“Kalau kamu ingin menceritakan sesuatu tentang semua masalah, aku siap mendengarkannya,”


Bian mengembangkan bibirnya. Dia tersenyum. Perlahan, kepalanya mengangguk kecil. Kemudian tangannya mengusap lembut kepala Dea. Usapan lembut dari kakak kepada adiknya. Tapi pikiran itu tidak kepada Andre. Dia cemburu. Wajahya cemberut. Bibirnya manyun. Dia benar-benar terlihat sangat jelek.


Andre, cowok jahil itu ternyata sedang cemburu berat. Gadis pujaan hatinya sedang di perhatiankan lebih orang lain. Mungkin bukan orang lain, tapi teman atau lebih tepatnya sahabat. Rian dan Rio hanya tertawa. Apalagi melihat Dea sangat menikmati perhatian dari Bian.  Padahal Andre sudah menatapnya dengan tatapan ganas. Bian, sang objek pengganggu, dia pun hanya terpaku. Bukannya minta maaf. Namun semakin melanjutkan aksinya.


“Dea, yuk kita cari makan!” ajak Andre paksa dengan menarik tangan Dea.


“Kamu cemburu?” tanya Dea polos.


Muka Andre merah. Malu. Melihat ekspresi itu, muka Dea juga ikut memerah. Aduh! Cowok ini ada-ada saja. Kok cemburu dengan sahabat sendiri. Dea memandang Bian. Cowok itu cengar-cengir. Dia terlihat senang melihat Andre yang sedang cemburu. Sedangkan Rian dan Rio, mereka tertawa terbahak-bahak.


“Sudahlah, cepat kita pergi!” kata Andre dengan menuntun Dea pergi. Dea hanya mengikut. Tidak berkomentar apa-apa. Lucu juga sih, lihat Andre yang sedang cemburu.

__ADS_1


“Kalian jangan pergi jauh-jauh ya!” peringat Rian sembari tersenyum


“Ya,” jawab Andre singkat.



Ini saatnya. Ketegangan paling puncak pada saat ini. Dan yang lebih utama bagi Scorpio dan Five Lions.  Mengapa begitu? Pengumuman itu sebentar lagi akan berlangsung. Dari pengumuman itulah,  mereka bisa mendapatkan bakat dan cinta Dea.


Sholat Ashar sudah lewat. MC belum juga mengumumkan pemenangnya. Bahkan batang hidungnya tidak kelihatan. Mereka benar-benar membuat para peserta menjadi semakin seperti bom meledak dalam hati. Buat orang deg-degan saja.


“Selamat sore, biaklah kita umumkan saja pemenang The Winners tahun ini?” buka MC, membuat semua peserta tersentak dan terpaku menatap seseorang di atas panggung.


Sebentar lagi… sangat sebentar lagi. Pengumuman pemenang itu akan bergema. Tidak ada yang tahu hasilnya kecuali para juri dan sang Kuasa. Wajah MC juga terlihat resah dan gelisah dengan amplop pemenang di tangan mereka. Hati yang bergemuruh juga di rasakannya.


__ADS_1


TOLONG DONG VOTE-NYA!


__ADS_2