Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 7.4


__ADS_3

Oh God. Ini bencana dan musibah. Honey… honey… honey… Kata-kata itu berkeliling di atas kepala Dea. Aduh, bagaimana ini? masalahnya semakin rumit saja.


Dari tadi, Dea tidak berkonsentrasi bermain drum. Dia juga menjadi tidak bersemangat. Sedangkan anggota Scorpio yang lain, mereka hanya memandang Dea dengan tatapan heran. Bagaimana tidak? Sejak kedatangan Dea di studio, wajahnya selalu di tekuk. Cemberut dan lesu seolah masalah besar sedang melandanya. Lain pula dengan Andre. Sejak kedatangannya, dia terus cengar-cengir tidak jelas dan tertawa terbahak-bahak.


“Dea, kamu sakit?” tanya Bian khawatir.


Dea menggelengkan kepala. Dia tidak ingin tiga cowok ini mengkhawatirkannya. Kemudian dia kembali fokus bermain drum. Mencoba sebisa mungkin untuk berkonsentrasi. Kondisinya sedang berada di ujung tombak. Tidak seperti kematian, dia berada pada ujung percintaan segitiga di antara Andre dan Tari.


“Honey, selesai latihan aku antar pulang ya! Sebelum itu kita makan dulu. Aku lapar,” kata Andre tersenyum.


Honey! Rian, Bian, dan Rio ternganga. Mata mereka tidak dapat berkedip. Perkataan itu seolah memberikan tembok besar di hati mereka. Mungkin penghalang bahwa cewek itu sudah menjadi milik seseorang.


“Kalian pacaran?” tanya Rio to the point.


“Iya,” jawab Andre singkat.


“Tidak. Kami tidak pacaran kok!” sela Dea memperbaiki kata Andre.


“Benarkah? Aku selalu berpikir kalau kalian itu serasi. Apalagi kalian sangat mesra dalam situasai apapun?”


“Mesra?” tanya Dea sedikit binggung.


“Ya, aku menyadarinya ketika pertama kali Andre mengajakmu bertemu kami. Aku yakin kalian pasti punya hubungan istimewa,”


“Bingo!” setuju Andre.

__ADS_1


“Apaan sih?” kata Dea malu.


Pembicaraan singkat itu akhirnya selesai. Anggota Scorpio kembali berlatih. Dan sedikit, Dea mulai merasa lega. Tidak tahu apa sebabnya. Sejak pembicaraan tadi, hatinya terus berdebar-debar. Tidak teratur dan tidak karuan. Ada sedikit rasa senang yang bergejolak dalam hatinya.



“Andre, katanya kita mau makan. Kok ke rumah kamu?”


“Ya, makannya di rumahku!” jawab Andre masih tetap mengendarai sepeda motor merahnya.


Akhirnya tiba. Sebuah rumah yang pernah menjadi saksi dari air mata Dea yang turun. Dan juga sebagai saksi ketika Dea mengobati memar-memar merah di wajah Andre. Kini, memar itu tidak tampak lagi. Sudah pudar dan menghilang. Dan masalah itupula yang membawanya bertemu dengan seorang gadis di samping Andre.


“Yuk, masuk!” ajak Andre.


“Aku lapar, buatkan aku makanan!” perintah Andre.


“Aku tidak pandai memasak,” jawab Dea ketus.


“Kalau masak mi goreng, kamu bisakan?”


Dea mengeryitkan alis matanya tinggi. Jadi, dia mengajak ke rumahnya hanya untuk memasakkan makanan. Terus, katanya ada yang ingin bertemu dengannya itu, bohong. Huh, seharusnya dia tidak perlu mengikuti ajakannya. Tiba-tiba Dea teringat perkataan di ruang osis. Ya, sudahlah. Lagipula dia sudah janji akan melakukan apapun untuknya.


“Baiklah, dapur di mana?” tanya Dea.


“Lurus saja, belok kiri,” jawab Andre. “Jangan masukkan sayur ya, aku tidak suka sayur!”

__ADS_1


“Kok begitu, pantas kamu kurus kayak gitu!” kata Dea sembari meninggalkan Andre.


“TERSERAH AKU DONG!” teriak Andre agar Dea mendengarkannya.


Dea hanya ketawa singkat lalu semakin mempercepat langkahnya. Dia memperhatikan dengan seksama pajangan foto di atas lemari setinggi pinggangnya. Oh, jadi di rumah ini hanya ada empat orang. Dan gadis di sampingnya itu. Dea memperhatikan dengan teliti banget. Gadis itukan yang bersama dengan Andre.


Dea segera beranjak cepat ke dapur. Tidak ingin berlama-lama memperhatikan foto-foto itu. Dia mengambil sebungkus mi goreng dan sebutir telur. Kemudian, dia memasakkan dengan penuh cinta. Dia juga memasukkan sayur ke dalam mi goreng tersebut. Bukan maksud untuk menjahili Andre, hanya saja dia ingin Andre lebih meyukai sayur.


“ Cepat makan!” sodor Dea.


“Terima kasih,” kata Andre. “Kok ada sayurnya?”


“Aku sengaja. Sayur itu enak dan sehat untuk badan,”


“Tapi aku tidak suka,” renggek Andre.


“Sudahlah, kalau kamu tidak mau, aku saja yang makan mi gorengnya,” ambil Dea.


“Ya… ya… aku makan,” kata Andre sedikit terpaksa.


Dea tersipu malu melihat tingkah Andre. Cowok ini kadang bersikap kekanak-kanakkan. Seperti sekarang, Andre seperti bocah laki-laki berumur lima tahun yang enggan untuk memakan makanan yang di bencinya. Dan tingkah anehnya yang membuat Dea harus menahan tawa. Andre memegang hidungnya dan perlahan memasukkan sayuran sawi itu ke dalam mulut. Dia bersusah payah menelannya dengan segenap tenaga. Dari wajahnya, kelihatan sekali dia sangat membenci sayuran hijau itu.



JANGAN LUPA YA!

__ADS_1


__ADS_2