Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 4.1


__ADS_3

“Huam,” Dea menguap.


Malam tadi dia tidak bisa tidur. Matanya terus terbuka hingga pagi menjelang. Pernyataan cinta dari Andre membuatnya gelisah dan binggung. Apalagi  perkataan-perkataan Tari yang menyukai Andre terus berrkeliling di atas kepalanya. Alhasil, dia sangat mengantuk sekarang. Dia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Matanya beberapa kali memejamkan matanya. Yah, walaupun harus curi-curi. Padahal sekarang adalah jam pelajaran kesukaannya. Matematika.


“Syhut… ,” panggil seseorang dari belakang.


Dea menoleh. Tari. Ada apa dia memanggilnya? Cewek itu memandang dengan senyuman indah. Matanya seolah ingin tahu sesuatu dari Dea. Apakah itu tentang Scorpio atau Andre? Tapi bila tentang Andre, dia tidak tahu harus memberitahukan apa.


Tari menunduk kepala. Dia menulis sesuatu. Perlahan, dia memberikan selembar kertas itu kepada Dea.


Gimana kemarin? Menang?


Oh… untunglah. Dea merasakan lega untuk sesaat. Tari tidak menanyakan tentang Andre. Dea membalas jawaban tersebut dan mengembalikan kepada Tari. Tidak sampai lima menit, selembar kertas itu kembali lagi kepada Dea. Dan kalimat itulah yang tidak ingin dia tahu. Tentang Andre.


Gimana dengan Andre? Dia main gitar dengan bagus nggak? Coba kamu ngajak aku waktu kompetisi itu, aku ingin lihat dia main gitar


Huh…! Dea menghela nafas. Kalau malam itu dia mengajak Tari, apakah Andre juga akan menyatakan cinta kepadanya. Ataukah Andre tetap tidak peduli dengan perasaan Tari? Sampai sekarang, Dea terus memperhatikan perkembangan mereka. Dia sering melihat Tari sering mengajak Andre berbicara bahkan Tari sempat cerita bahwa mereka pernah makan malam bersama. Dan istimewanya, hal itu terjadi pada saat ulang tahun Tari.


Dea menunduk kepalanya. Bukan karena dia ingin menulis. Dia hanya binggung menulis balasan apa. Padahal kalau di pikir-pikir , cuma jawab kata’keren’ saja  kan sangat mudah. Namun mengapa? Yah, dia sangat sulit untuk menulis lima huruf tersebut. Ada perasaan tidak ikhlas untuk menunjukkan sisi lain dari diri Andre.


Huh! Beberapa kali Dea menghela nafas. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Tari. Apalagi seandainya dia tahu bahwa Andre telah menyatakan cintanya. Dea juga masih binggung untuk bersikap seperti apa bila bertemu Andre. Diam ataukah biasa saja? Dia sampai tidak tidur gara-gara memikirkan hal itu semalaman.


“Dea, kamu sakit?” tegur guru semampai yang cantik, Bu Tika panggilannya.


“Tidak Bu!” jawab Dea sembari menggelengkan kepala.


“Kalau begitu, perhatikan lagi pelajaran Ibu!”


“Ya, Bu!” jawab Dea singkat.


Huh! Dea kembali menghela nafas. Sudah beberapa kali dia menghela nafas sampai tidak bisa terhitung. Pikirannya benar-benar tidak dapat berkonsentrasi dengan pelajaran itu. Terlalu banyak tekanan batin yang menghampiri dirinya. Dia capek. Dia benar-benar sangat capek dengan peristiwa yang menyangkut hati ini.

__ADS_1



“Ketua, kami pulang dulu ya!” pamit pengurus osis lain.


“Ya, hati-hati di jalan,” Dea mempersilahkan.


Sendiri lagi. Dea sudah terbiasa dengan situasi itu. Setiap selesai rapat, dia tidak langsung pulang. Dia harus beres-beres ruang osis. Dan selalu sendiri. Takut? Ah, dia tidak pernah berpikir seperti itu. Bahkan dia tidak pernah berpikir negatif apalagi berpikir tentang hantu. Hiy… Padahal sekolah itu sangat sepi apalagi pada jam sekarang. Mengerikan pokoknya!


“Belum pulang?” tanya Andre tiba-tiba di depan pintu.


“Belum,” jawab Dea singkat tanpa menoleh.


Dea tetap sibuk dengan pekerjaan beres-beresnya. Dia tidak ingin mengubris kedatangan Andre. Malas berbicara dengan Andre. Dia takut bila Andre mengungkit pernyataan cintanya kemarin.


Perlahan, Andre masuk ke dalam ruangan segiempat itu. Dia duduk di tempat kursi kebanggaan Dea. Dia juga menatap Dea dengan tatatap tajam. Bahkan lebih tajam daripada mata elang. Dan tidak sedikitpun dia mengeluarkan suara. Hanya diam. Hanya terpaku melihat Dea yang sedang bekerja.


Beberapa menit berlalu. Masih seperti suasana itu. Menatap Dea. Suasana hening. Hanya suara kodok yang sekali-kali berbunyi.  Bernyanyi riang menyambut gerimis hujan. Huh! Dea sudah tidak tahan lagi. Ya, dengan tatapan itu. Dia risih.


“Kenapa? Kamu terganggu?”


“Ya,” jawab Dea singkat.


Andre diam. Dia tidak mengubris perkataan Dea. Dia juga tidak beranjak dari tempat singgasana Dea.  Namun semakin memandang Dea dengan tatapan elang. Andre seolah tidak puas. Bukan perkataan usiran itu yang ingin di dengarnya. Juga bukan sifat jutek dari Dea. Dia ingin mendengar penjelasan. Penjelasan tentang penolakan itu.


“Mengapa malam itu kamu menangis?” tanyanya.


Dea tersentak. Bagaimana ini? Belum siap. Hatinya dan pikirannya saat ini. Dia benar-benar tidak mau mendengat pertanyaan itu. Sudah banyak tekanan batin yang di alami. Dan dia sudah terlalu capek. Dia tidak ingin membahas hal itu sekarang. Please, jangan bahas itu sekarang!, pikir Dea.


“Mengapa tak menjawab?” lanjut Andre. “Karena Tari, kamu menolakku?”


Dea kembali tersentak. Dia benar-benar tidak mau membahas masalah itu. Tanpa di sadari, air mata Dea menetes. Dia sangat sedih. Sedikit kecewa. Dengan Andre dan juga dengan Tari. Yah, mengapa Andre menyukai dirinya dan menyatakan cinta itu? Mengapa pula dia menyukai cowok itu, cowok yang sangat di sukai oleh sahabatnya.

__ADS_1


Dea segera mengambil tasnya dan beranjak pergi. Dia tidak mau mengeluarkan air mata ini terlalu banyak. Apalagi di hadapan Andre. Mungkin dia tidak ingin terluka. Tekanan batin ini sangat menyakitkan.


Lagi, Andre menahannya. Dia memegang pergelangan Dea, seolah tidak akan melepaskan Dea lagi.


“Aku tahu, kamu suka aku!” ucap Andre dengan pede. “Kamu menolak pernyataan cintaku karena Tari,” lanjutnya.


“Apa maksud kamu?, kamu jangan sok kepedean deh!”


“Ya, aku pantas kepedean. Air mata ini adalah buktinya,” kata Andre sembari menghapus air mata dari pipi Dea.


“Maaf! Aku tidak bisa!” ujar Dea sembari pergi meninggalkan Andre.


“DEA, AKU AKAN TETAP MENUNGGU KAMU SAMPAI KAMU MAU MENERIMA CINTAKU!” teriak Andre.


Dea tidak menoleh. Dia tidak mau air mata ini semakin deras mengalir. Biarlah. Dia harus merelakan Andre. Demi sahabatnya. Demi Tari. Baru dia tahu, kalau cinta itu sangat menyakitkan. Tidak selalu kalau cinta itu membahagiakan. Seperti sekarang, dia merasa sangat sakit  karena rasa cinta yang tumbuh di hatinya.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. MOHON KRITIK DAN SARANNYA.


JANGAN LUPA:


LIKE!


VOTE!


COMMENT!


AND


RATING!

__ADS_1


__ADS_2