Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 13.4


__ADS_3

Hujan tadi mungkin membuat Rian, Bian, dan Rio tidak beranjak dari studio. Mungkin juga, mereka mempunyai firasat kalau their princess akan datang. Dan sepertinya, firasat mereka seolah membenarkan, kedatangan Dea membuat mereka sangat terkejut. Sudah dua hari mereka tidak melihat Dea, dan sekarang cewek itu berada di hadapannya. Sangat dekat. Sangat jelas. Sangat nyata.


Suasana mendadak hening. Rintik hujan yang mulai mendung lagi juga mendadak turun. Suasana dingin datang kembali. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani untuk membuka pembicaraan.


Perlahan, Dea menangis. Air mata itu membuat keempat cowok itu rapuh. Tidak tega rasanya melihat merah di mata itu semakin menjadi-jadi. Andre spontan memeluknya erat. Sudah banyak sekali air mata yang jatuh di kedua bola matanya. Dan kini bertambah lagi.


“Aku tidak ingin keluar dari Scorpio,” kata Dea terisak. “Aku sudah membicarakan dengan Pak Anggara, aku akan berhenti menjadi ketua osis,” lanjut Dea dengan terisak juga.


Semua terkejut. Mereka ternganga tidak percaya. “Benarkah? ,” kata mereka serempak tidak percaya.


Dea menganggukkan kepala, lalu berkata, “Aku sudah memutuskan untuk terus menjadi drumer Scorpio walaupun harus melepaskan jabatanku,”


“Apakah kamu tidak akan menyesal?” tanya Bian ingin meyakinkan.


“Tidak, aku yakin ini adalah pilihanku,”jawad Dea tegas.


Seketika itupula, Bian merangkulnya. Di peluknya lebih erat daripada pelukan Andre. Rian dan Rio mengikutinya, ikut memeluk gadis itu. Ternyata mereka merindukan sosok Dea yang selama ini telah memberikan warna. Mereka juga mulai merasakan kehangatan dari princess satu-satunya di antara mereka.


Malam itu menjadi saksi keharuan mereka, juga menjadi saksi bahwa Dea kembali menjadi drumer Scorpio. Bulan juga, dia menjadi saksi air mata yang jatuh. Bukan karena sedih, namun air mata bahagia. Pantulan sinarnya yang terang seolah memberitahukan kebahagiaan yang terindah itu.

__ADS_1



Sejak malam itu, Dea sudah mulai fokus dalam belajarnya. Dia juga sudah mengantarkan surat pengunduran diri dari jabatan ketua osis. Dan sekarang hanya menunggu persetujuan dari kepala sekolah dan pembina. Sebenarnya, Dea merasa sedih harus meninggalkan jabatannya. Apalagi dia sudah setengah jalan untuk mempersiapkan acara pensi. Dan lagi, dua minggu yang akan datang, acara itu resmi di selenggarakan.


Namun, Dea kembali berpikir. Ini adalah keputusan yang paling tepat. Dia sanggup melepaskan jabatan sebagai ketua, tetapi kalau di suruh untuk keluar dari Scorpio, dia benar-benar tidak mampu. Berat rasa. Seolah tertimpa pada lahar yang sangat panas.


Sudah dua hari, belum ada keputusan dari pihak sekolah. Mungkin memang tidak wajar mengundurkan diri pada saat situasi seperti ini. Bisa di anggap tidak bertanggung jawa atas pekerjaan. Namun, tidak ada pilihan. Lagipula, Pak Anggara juga sudah memberitahukan pihak sekolah mengenai nilainya yang turun. Dan Dea sangat yakin, pihak sekolah pasti akan menyetujui keinginannya itu.


Dea melamun. Dia binggung harus melakukan apa. Biasanya kalau jam segini, dia selalu berada di ruang osis. Membaca laporan-laporan yang bertumpuk di atas meja. Kini, dia duduk dengan santai di kantin dengan hati yang gelisah. Pikiran tidak berada di sana, dia mengembara ke ruang di samping perpusatakaan.


“Tumben melamun?” kata Tari membuyarkan lamunan.


Dea hanya tersenyum. Kemudian menghirup jus mangga yang mulai dingin. Pandangan memandang tanpa berkedip ke lorong kelas. Dan memperhatikan anak-anak yang berbelok menuju ke sebuah ruangan. Perlahan, dia menghela nafas. Wajahnya terlihat sangat sedih.


“Iya, Tar,” jawab Dea sedih. “Aku sudah memutuskannya,”


“Kalau kayak begitu, kamu jangan sedih dong,”


“Maaf ya, Tar!” ucap Dea tidak nyambung.

__ADS_1


“Maksud kamu apa?”


“Selama ini aku selalu membuat pengurus osis yang lain menjadi susah,” jelasnya. “sudah saatnya, aku berhenti dan meminta maaf,”


“Kami tidak pernah merasa kalau kamu menyusahkan kami. Kamu adalah ketua yang bertanggung jawab,”


“Benarkah?” tanya Dea kagum dengan pendapat Tari.


“Ya, kamu adalah ketua yang sangat bertanggung jawa,”


Mendadak wajah Dea berubah. Senyuman tidak di mekarkan seperti tadi. Malah berubah menjadi ketegangan yang luar biasa. Senyumannya lenyap.


“Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi aku senang mendengarkan perkataan kamu,” kata Dea dengan wajah yang sangat sedih. “Aku bukan ketua osis lagi,” lanjut Dea dengan menangis.


Tari segera memeluknya erat. Dia membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Tidak tahu sejak kapan, Dea berubah. Dia mudah rapuh, terluka, dan cenggeng. Sementara itu, dari kejauhan, Andre memandangnya dengan iba. Tidak tega melihat kekasih hatinya terlihat sedih.



NANTIKAN TERUSSS KELANJUTANNYA...

__ADS_1



YUK, MASUK GRUP ALSAEIDA. KAMU BISA NGINGATIN AKU UNTUK UPDATE DI SANA.


__ADS_2