![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Olivia Aurel. Nama itu terukir jelas pada sebuah hadiah berbentuk kotak dengan sampul merah hati bergambar beruang. Dea mengoncang-goncang kotak itu, mencoba menebak apa isinya. Dia mulai tidak tahan. Dengan segera dia membuka hadiah paling istimewa itu dengan hati-hati.
Di dalamnya, ada sebuah kotak musik. Bila di buka kotaknya, princess yang berada di dalam akan keluar dan mulai berputar dengan di iringan musik indah. Dea terpaku. Cantik banget dan suaranya sangat merdu. Bukan hanya itu, di dalam hadiah itu ada sebuah foto. Ada tiga orang dalam foto itu. Satu pria dan dua wanita. Dan salah satu wanita itu adalah Olivia yang memegang kue ulang tahun. Di kue itu terukir sangat… sangat jelas namanya. Sedangkan dua orang itu, dia tidak mengenalnya. Tiba-tiba, Dea teringat sesuatu. Pajangan foto besar di rumah Andre. Perlahan, dia mulai tersenyum. Keluarga Andre benar-benar sangat menyayangi dirinya. Dan sepertinya, hubungan mereka sudah di restui oleh kedua belah pihak keluarga.
Lega juga sih! Tapi kalau untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi, Dea belum siap. Dia masih mau menlanjutkan sekolah lebih tinggi dan mendapatkan gelar sarjana. Eh, kok Dea memikirkan hal yang sangat jauh. Tidak mungkin hal itu akan berlangsung dengan sangat cepat.
Dea bangkit, dia ingin segera bersiap-siap. Sebentar lagi, Andre akan menjemputnya. Dia tidak ingin membuat Andre kecewa apalagi merusak moment yang sangat baik.
Restoran ini indah banget. Dengan batangan lilin di atas meja, memberikan kesan romantis. Pernak-pernik berbentuk hati laksana seperti perasaan Andre. Di tambah lagi, hanya ada mereka berdua di sana. Sepertinya Andre memboking tempat ini dan benar-benar tidak ingin ada yang menganggu.
Andre terpaku. Dengan gaun indah dan juga hiasan di rambutnya. Sangat cantik sekali. Juga dengan wajah Dea yang selalu menyebarkan senyuman bahagia. Namun mengapa? Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut cowok itu. Apakah dia benar-benar terpesona dengan kecantikan dari wajah dan tubuh Dea?
__ADS_1
“Ndre,” kata Dea sedikit memecahkan suasana itu.
“Ya,” jawab Andre singkat. Dea memandangnya dengan tajam, memberikan syarat agar Andre memulai acaranya. “Maaf, aku sangat gugup sekali. Kamu sangat cantik malam ini,” ucapnya dengan nada gugup.
“Lalu, kita ngapain ke sini?” tanya Dea dengan gaya menggodanya.
Andre semakin gugup. “Sebenarnya malam ini, aku mau memberikan kamu ini,” katanya sembari menyerahkan sebuah kotak kecil.
Tiba-tiba, Andre memegang tangan Dea. Kemudian mengambil kalung itu dan berdiri. Dia segera menuju ke belakang punggung Dea. Pelan-pelan sekali, Andre menyingkapkan rambutnya dan memasangkan kalung itu. Cantik banget kalung itu terpasang di leher Dea. Melihat itu, Andre jadi malu sendiri.
“Andre, terima kasih,” ucap Dea tersenyum, lesung pipinya keluarga semakin membuat Andre gemas. “Aku boleh meminta sesuatu?” pinta Dea sedikit malu.
“Apa?”
__ADS_1
“Apakah aku boleh melihat dompet kamu?” tanyanya sedikit ragu. “Kata Kak Olivia, di sana ada fotoku, aku ingin lihat!” lanjutnya.
Andre terpaku. Dan perlahan, wajahnya memerah. Awas ya, Kak Olivia!, ucap dalam hatin. Permintaan Dea ini memang sedikit aneh tapi Andre tidak bisa menolaknya. Dengan terpaksa, Andre menunjukkan foto itu. Dan betapa terkejutnya Dea, foto itu ternyata foto hitam putih untuk sekolah. Seketika itupula, Dea tertawa terbahak-bahak. Sementara Andre, dia malu banget.
“Jadi, aku boleh minta foto kamu?” tanyanya berani. Dea menganggukkan kepala cepat. Mungkin tidak ingin membuat cowok itu malu lagi. “Mau berdansa denganku!” lanjutnya mengajak.
Dea kembali menganggukkan kepala. Kemudian, Andre menyodorkan tangan kanannya. Dea menyambutnya dengan sangat senang. Perlahan, mereka menuju ke tempat dansa yang tidak ada siapa-siapa. Mereka berdansa dengan sangat riang. Kaki mereka bergerak sesuai irama dan terhanyut dalam alunan lagu yang indah.
YEAYYY... BAB TERAKHIR DION [UNTUK KEMBARANKU]. TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI KISAH DEA DAN SCORIPIO SELAMA INI.
NANTI EPILOGNYA YA.
__ADS_1