Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 10.1


__ADS_3

Dhuar… dhuar… dhuar….


Kompetisi di mulai. Scorpio telah siap untuk mempersembahkan penampilan terbaik mereka. Andre, Rian, Rio, dan Bian berpakaian dengan sangat keren. Begitupula dengan Dea, dia masih memakai pakaian ala Dion. Five Lions tidak mau kalah. Pakaian mereka tidak kalah keren dengan Scorpio. Mereka juga akan membawakan lagu-lagu terdahsyat sehingga memukau para penonton dan juri.


“Kalian pasti akan kalah,” ejek Andika. “Dan kamu Dea, kamu akan terbebas dari Scorpio dan menjadi kekasihku!”.


Dea mendadak resah. Padahal sejak tadi dia merasa sangat senang. Dea melirik anggota Scorpio, mereka seperti tidak mempedulikan ejekan itu. Lagian tidak ada gunanya melawan anggota Five Lions. Lebih baik diam. Seperti kata pepatah ‘diam itu emas’. Five Lions naik ke atas panggung. Para penonton bertepuk tangan ricuh. Ya, Five Lions memang band hebat. Tapi sayang, mereka sombong. Walaupun begitu, pengemar mereka tetap saja banyak terutama wanita. Alasannya, karena penampilan dan cara bermain mereka benar-benar sangat KEREN dan memesona.


Aduh, bagaimana ini? Tubuh Dea berkeringatan. Bibirnya gemetar. Dia bukannya takut. Hanya nervous.  Biasanya dia tidak pernah seperti ini. Namun situasi sekarang berbeda. Hidup masa remaja dan cintanya di pertaruhkan pada kompetisi ini. Bila kalah, dia harus keluar dari Scorpio. Dia tidak menginginkan itu. Dan lagi, dia harus berpisah dari Andre. Sungguh! dia tidak menginginkan itu.


Tiba-tiba, Andre mengambil tangan Dea. Dia mengenggamnya erat hingga panas dari tangan cowok itu terasa. Huh! Dea menghela nafas. Ada sedikit rasa lega yang membersihkan kelam hatinya. Dia memandang wajahnya Andre. Tajam. Cowok di sampingnya ini seperti mengetahui kegundahan hatinya. Mungkin, dia bisa membaca pikiran orang. Perlahan, dia membelai kepala Dea yang tertutup wig, sedikit membuat jantungnya berhenti untuk berdetak cepat.

__ADS_1


Penampilan Five Lions sebentar lagi akan berakhir. Dan setelah itupula Scorpio akan naik ke atas panggung. Ya, mereka harus menampilkan yang terbaik. Lebih baik daripada penampilan Five Lions. Dada Dea semakin bergemuruh. Saat inilah pertarungan lahir da batinnya. Dan saat ini pula cerita dari penggalaman masa seragam abu-abu.


“Selanjutnya, penampilan dari Scorpio. Beri tepuk tangannya!” kata MC mempersilahkan.


Gemuruh dada Dea semakin cepat. Dua kali lipat. Tangannya berkeringat basah. Menggigil dan gemetar. Dia semakin nervous. Pikirannya kosong. Jemari-jemari tangannya kaku.


“Tenang saja, kita pasti menang!” tenang Andre.


Dea menghela nafas, mencoba untuk tenang. Dea benar-benar harus tenang. Bila dia nervous terus, bisa-bisa Scorpio akan kalah. Ah, JANGAN! Kemudian Dea mengadahkan tangan. Berdoa. Dia meminta pertolongan kepada sang Pencipta. Semoga saja mereka menang! Amin.


__ADS_1


“Akhirnya selesai juga!” kata Dea lega.


Kompetisi The Winners berakhir. Wajah –wajah anggota Scoprio kembali cerah. Tidak kelam seperti beberapa jam yang lalu. Ketegangan yang berlangsung sesaat tadi telah usai. Dan sekarang waktu untuk ketegangan dari pengumuman.


Pengumumannya akan di bacakan pada hari ini juga, tepat sore hari setelah sholat Ashar. Semua hati anggota Scorpio berdendang riang. Dag… dig… dug… Para penjaga kantin saja bisa mendengarkan suara detakan jantung itu. Saking kerasnya. Begitupula dengan anggota Five Lions, hatinya mereka juga berdendang riang dan gelisah.


Sore terasa begitu lama. Padahal biasanya sangat singkat. Anggota Scorpio baru saja duduk di kantin  dekat tempat kompetisi itu, tapi mereka merasa sudah beratus-ratus tahun berada di sana. Pantat mereka seperti terbakar oleh panas dari ketegangan. Apalagi matahari terik membakar bumi menambah ketegangan untuk hati anggota Scorpio.


“Jangan menghembus nafas terus, kita pasti menang kok!” kata Bian sembari mengusap kepala Dea yang sejak tadi mengangkat bahu untuk menghela nafas.


Dea hanya tersenyum melihat perilaku dari Bian itu. Sesaat dia merasakan diri Dion dari Bian. Tidak tahu karena apa. Hanya saja, sikap dewasa dan perhatian dari cowok itu seperti kehangatan seorang kakak. Namun mengapa? Dari dua bola mata Bian terlihat kesedihan. Kesedihan yang belum pernah tampak ke permukaan. Apalagi saat Bian memandangnya. Pemuda itu seolah terluka.

__ADS_1



PLEASE LIKE-NYA!


__ADS_2