![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Sikap diam itu hanya sesaat. Sepertinya Andre juga sudah melupakan kejadian dengan Andika di restoran itu. Syukurlah, dia sudah kembali seperti dulu. Namun sekarang dia kembai bereaksi. Bukan lagi reaksi yang standar tetapi sikap ganggu yang luar biasa. Pagi ini, dia sudah stand by di kursi Dea. Ruang kelas XI IPA 1 heboh seolah kedatangan seorang aktor Hollywood. Dan anehnya lagi, para gadis sudah berkerumunan di sekelilingnya.
“Kamu cemburu?” tanya Andre menggoda.
Cemburu? Apa sih kata cowok penganggu ini? Dea tidak berkata apa-apa. Dia terpaksa pindah tempat duduk di sudut ruangan. Yah, daripada menjadi pusat perhatian dari gadis-gadis yang terpesona dengan Andre. Kemudian dia beranjak dari ruang kelas menuju ruang osis. Hari ini dia ada rapat dengan pengurus dan pembina osis. Mereka akan membicarakan tentang kekurangan dana untuk acara pensi.
“Hai!” sapa Andre.
Astaga! Dea kebinggungan. Matanya terbelalak. Bukannya cowok itu ada di dalam kelasnya. Dan sekarang… Ah, Dea tidak mengerti. Nafasnya turun naik. Dia mencoba untuk mengatur emosinya agar tidak keluar.
“Ada apa kamu ke sini? Sebaiknya kamu pergi saja. Kamu mengganggu,” ucap Dea dengan lembut.
Andre hanya cengar-cengir. Tidak menghiraukan. Perlahan, dia memandang Tari yang tersipu dengan kedatangannya. Tiba-tiba, Dia mendekati Tari yang berdiri terpaku di sisi pojok kiri ruangan. Dia tersenyum. Lalu mengambil buku yang ada dalam pelukan Tari.
“Aku akan membantu kamu, tapi sepertinya ketua osis kamu tidak suka kepadaku,” kata Andre dengan wajah memelas.
Wajah Tari memerah. OMG, dia termakan umpan dari Andre. Dea hanya menghela nafas. Tari memohon kepadanya dengan iba. Gadis itu memintanya agar Andre dapat di izinkan untuk membantunya. Ya sudahlah, biarkan saja Andre melakukan itu. Tidak ada ruginya juga sih! Siapa tahu dia akan jatuh cinta kepada Tari dan mereka akan menjadi pasangan kekasih yang hebat. Namun mengapa? Hatinya berdebar sangat kencang. Ada rasa sakit yang tidak di mengerti. Rasa sakit yang menusuk hatinya hingga dia ingin mengeluarkan air mata.
__ADS_1
“Kamu boleh membantu Tari tapi kamu tidak boleh mengganggu yang lain,” perintah Dea.
Andre mangangguk. Ruangan osis itu kembali damai. Mereka kembali bekerja dengan tugas masing-masing. Dea duduk di kursi sembari mengambil laporan. Dia membacanya dengan seksama. Dan sekali-kali melepaskan pandangan kepada pengurus osis yang lain. Mereka sangat serius dengan pekerjaan mereka. Tiba-tiba, matanya terpaku di pojok kiri ruangan. Andre dan Tari. Sekali lagi, dia merasakan debaran hebat yang menyakitkan. Perasaan apa ini? Sungguh tidak baik bila dia terus seperti ini.
Trit… trit… trit… ponsel Dea berbunyi.
Dea sembunyi-sembunyi mengambil ponselnya yang ada dalam tas. Padahal ada peraturan tidak boleh menggunakan ponsel saat jam pelajaran berlangung. Dan peraturan itu telah mengikat agar mereka serius mengikuti pelajaran. Namun tidak tahu mengapa, Dea mengambilnya walaupun dengan penuh resiko.
From : Andika
Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu
Andika. Ada apa ya? Sejak kejadian di restoran itu, cowok tersebut sudah tidak ada menghubungi dia. Dan sekarang, tiba-tiba dia mengirimkan pesan untuk bertemu. Lalu, apakah Dea harus bertemu dengannya ataukah mengabaikannya. Entahlah, dia tidak tahu. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya.
“Permisi Pak, saya boleh ke kamar mandi,” kata Dea sembari mengangkat tangan.
__ADS_1
Pak Anggara, guru Fisika sekaligus wali kelasnya menganggukkan kepala. Dia mempersilahkan. Setelah itu, Dea segera beranjak dari tempat duduk dan keluar kelas. Dia benar-benar sangat binggung dengan pesan itu. Bagaimana ini? Kalau dia menolak, dia harus mempunyai alasan yang bisa di terima oleh Andika. Tapi, kalau dia menerima ajakan itu, dia takut Scorpio akan marah kepadanya. Ya, seperti malam itu.
Dia terus berjalan melewati lorong sekolah itu. Tidak ada siapa-siapa. Sunyi senyap. Dan tidak tahu sejak kapan, cowok itu telah berdiri di ujung koridor. Dengan senyuman jahilnya, dia melangkah mendekati Dea.
“Kamu mau ke mana?”. tanya Andre.
Dea hanya diam. Dia melangkah pergi tanpa memandang Andre. Tidak mau cari masalah, itu lebih tepatnya. Dan lagi, Tari. Masih seperti dahulu, dia tidak mau dekat-dekat dengan cowok itu dengan alasan gadis itu.
Trit… trit… trit… Ponsel Dea kembali berbunyi.
From : Andika
Aku akan jemput kamu di sekolah
Dea tersentak. Bagaimana ini? Dia benar-benar binggung. Iya atau tidak? HAP! Tiba-tiba ponselnya sudah berpindah tangan. Andre. Dia membaca dengan sangat serius. Dahinya berkerut. Pesan itu, pesan dari Andika yang membuat wajahnya memerah menahan emosi. Tanpa berkata-kata, dia melangkah pergi dan menghilang dari pandangannya.
Dea segera mengejarnya. Ponselnya masih berada di tangan Andre. Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin bila ponselnya terus berada di tangan Andre. Apalagi bila Andre sampai membaca pesan lain dari Andika. Bisa-bisa Andre melakukan tindakan yang tidak masuk akal. Celingak-celinguk. Dea mencari sosok itu. Tapi tidak di temukannya. Aduh, gawat… gawat… gawat…!
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. JANGAN LUPA RATING, LIKE, COMMENT, AND FAVORITE-NYA. MOHON KRITIK DAN SARAN.