Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 2.3


__ADS_3

“APA? KAMU GABUNG DENGAN SCORPIO?” ucap Tari terdengar sangat keras dari ponsel Dea.


“Hush… jangan keras-keras,” kata Dea sembari mengosok-gosok telinganya.


“Sorry, habis aku tidak nyangka banget sih,”


“Aku kan sudah bilang, Aku sudah memikirkan itu semalaman. Dan itulah keputusanku,”


“Ya, sudah. Aku hanya bisa mendukung kamu,” ucap Tari men-support. “Terus, Andre bagaimana? Apakah dia ada membicarakan aku?” alih Tari.


Andre lagi… Andre lagi… Bosan dengarnya. Lagian dia binggung harus berbicara mengenai apa. Bukannya dia tidak menyetujui hubungan itu, hanya saja hatinya tidak siap. Entahlah. Dia tidak tahu perasaaan apa itu. Setiap kali Tari berbicara tentang Andre, hati Dea terasa sakit. Seperti tertusuk –tusuk duri. Bahkan lebih sakit daripada lebah menyengati tubuhnya dengan racun.


“Dea, jadi bagaimana?” ulang Tari.


“Tenang saja. Feeling aku, dia juga mempunyai perasaan yang sama,” bohong Dea.


“Beneran?”


“Ya,” jawab Dea singkat.


“Ya, sudah. Aku tidur lagi, ya. Good night,” ucap Tari mengakhri pembicaraan mereka.


Huh! Dea menghela nafas. Sesaat tadi, pikirannya menjadi kacau. Nama itu. Andre. Tidak tahu sejak kapan, dia mulai tertarik dengan siswa baru itu. Gangguan-gangguan dari cowok jahil itu membuat diri merasa kehadirannya. Bahkan, kini dia merasakan bukan sebagai pengganggu lagi, tetapi sosok yang telah mencuri hatinya. Mungkinkah dia telah jatuh cinta kepada Andre? TAPI… Bagaimana dengan perasaan Tari?


__ADS_1


Tit… tit… tit…


Siapa lagi ini?, pikir Dea. Dea segera menuju pintu. Dia meninggalkan nasi goreng yang super EUUUNEEAKK. Tiba-tiba, bibirnya tersenyum. Cowok itu, Andre berada di depan rumah dengan sepeda motor merahnya. Dia bertengger bak ayam jantan yang siap berkokok.


“Yuk berangkat! Bentar lagi gerbang sekolah akan di tutup,” ajak Andre tersenyum ramah.


Dea membalas senyuman itu dengan lembut. Cowok itu, dia benar-benar telah mencuri hatinya. Tiba-tiba, wajah Tari terlintas di benaknya. Gadis itu sedang menangis. Wajahnya sedih. Dia juga tidak tersenyum seperti biasa. Dia kelihatan sangat marah kepadanya. Dan lagi, dia mengucapkan kata yang sangat di takutinya, ‘penghianat’. Seketika itupula, senyuman lembut itu berubah menjadi ketegangam yang luar biasa. Senyum Dea lenyap.


Perlahan, Dea menggelengkan kepala tanda penolakan. Dan segera masuk ke dalam rumah, melanjutkan sarapan paginya tanpa berbicara sedikitpun. Papa dan mamanya melihat Dea dengan tatapan heran. Ada apa gerangan dengan anak semata wayang mereka  itu?.


“Pa, hari ini Dea ikut Papa lagi ya,” kata Dea memohon.


“Oke,” jawab Papa Dea singkat.


Dea tidak bisa fokus. Dia juga tidak bisa menikmati sarapan pagi ini lagi. Rasanya sudah tidak seenak sebelum dia bertemu Andre. Padahal nasi goreng itu berasal dan di masak dengan bahan yang sama. Tapi, perasaam asing itu sudah terlanjur membuat pikiran dan hati menjadi kacau.



“Hai,” sapa sesorang di depan pintu.


Dea hanya diam. Bukan karena apa, tapi karena dia sangat tahu suaru itu. Dia mencoba tidak terusik dengan kedatangan cowok itu. Dia tetap sibuk membolak-balik laporan yang bertumpuk. Andre yang merasakan kedatangan tidak di gubris menjadi jengkel. Otaknya mulai berputar. Mencari ide agar Dea mau memperhatikannya.


“Hei, Bima. Kamu juga datangkan waktu malam kompetisi sebulan lalu itu,” kata Andre menuju ke meja Bima, ketua seksi olahraga.


“Ya, kenapa?” jawab Bima binggung.

__ADS_1


“Kamu tahu siapa pemenang drumer pada saat itu?” tanya Andre sembari melirik ke arah Dea.


Dea terkejut dengan perkataan Andre. Seketika itupula, dia melototkan matanya kedua cowok itu. Mengapa dia berbicara seperti itu? Apa dia bermaksud untuk membuka secret-nya? Dea semakin melototkan matanya hingga seperti keluar. Melihat reaksi itu, Andre tertawa. Dia menoleh. Dia sudah berhasil menarik perhatian Dea, walaupun dengan cara yang licik.


“Pulang nanti, aku antar ya?” kata Andre polos.


Dea semakin terkejut. Andre benar-benar membuat jantung seperti ingin copot. Dia menoleh hati-hati kepada Tari. Berharap Tari tidak mendengar perkataan Andre itu.


“Kamu ikut aku?” ucap Dea sembari menarik paksa tangan Andre.


Andre hanya menurut tanpa niat untuk membantah. Dea membawa Andre di samping perpustakaan. Setelah tiba, Dea celingak-celinguk. Memastikan apa ada orang yang lewat. Aman! Dia langsung melototkan matanya lagi. Lebih besar daripada yang tadi.


“Apa maksud kamu, Ndre?” tanya Dea marah.


“Nggak punya maksud apa-apa kok!”


“Terus, kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa kamu mau membongkar secret itu?”


“Nggak kok. Aku hanya ingin mengajak kamu berangkat bareng untuk latihan tapi kamu tidak mau memperhatikan aku,” jawab Andre dengan wajah polos.


“Oh,” kata Dea lembut. “Baiklah, aku setuju. Tapi ingat, awas kalau kamu seperti tadi,” ancam Dea.


Andre tertawa kecil. Gadis di hadapannya terlihat sangat lucu. Marah, sedang kecewa, bahkan mungkin saat menangis, Dea terlihat sangat manis. Tanpa sadar, Andre mencubit kedua pipi Dea, geram dengan kedua lesung pipinya.


__ADS_1


SETELAH MEMBACA, ADA BAIKNYA UNTUK LIKE, COMMENT, AND VOTE YA!!!


__ADS_2