Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 11.1


__ADS_3

Aku ingin keluar dari Scorpio


Kata-kata itu terus terngiang di telinga Dea, seolah suara nyamuk yang berdenging di telinganya. Sungguh tidak terduga apalagi terlintas dalam benaknya. Permintaan Bian itu terlalu mendadak. Hingga anggota Scorpio menjadi binggung. Dan malam tadi seolah malam perpisahan untuk Scorpio.


Huh! Dea menghela nafas. Laporan-laporan untuk pensi belum selesai di baca. Dia tidak dapat berkonsentrasi. Apalagi untuk membaca laporan-laporan dengan rangkaian kata-kata yang rapat ini. Dan lagi entah sejak kapan, dia merasakan hal –hal yang tidak enak. Munkin sebuah perasaan yang sangat menyakitkan.


“Dea,” panggil Tari. Namun Dea tidak menoleh. Pikirannya masih belum berada pada ruang osis ini.


Melihat tidak reaksi dari ketuanya itu, Tari mendekatinya. Memandang wajah cewek itu dengan sangat lekat. Tapi masih belum bereaksi. Tari mencoba untuk memanggilnya. Dan Dea masih sama. Tidak bereaksi. Tari melambai-lambaikan tangannya ke muka Dea. Deg… Dea terkejut.


“Ada apa Tar?” tanya Dea binggung.


“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Dea dengan malas. “Aku hanya binggung melihat kamu melamun,” lanjutnya.


Dea tertegun. Dia kembali melamun. Bian. Perkataan-perkataan Bian itu membuatnya seperti ini. Apa yang salah dengan Scorpio sehingga Bian ingin keluar? Huh, Dea kembali menghembuskan nafas. Kini, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia frustasi.


“Apa kamu ada masalah dengan Andre… atau Scorpio?” tanya Dea khawatir.


Dea menggelengkan kepala dan kembali melamun. Bukan masalah percintaan dengan Andre tapi lebih tepatnya prahara anggota Scorpio. Dea masih benar-benar tidak percaya. Sosok Bian. Sosok yang dewasa dan perhatian mampu mengambil jalan ini, sebuah jalan perpisahan.


“Bian mau keluar dari Scorpio,” buka Dea.

__ADS_1


“Serius?” kata Tari terkejut, sama terkejutnya ketika Dea dan anggota Scropio mendengatkan kalimat itu.


“Ya,” jawab Dea singkat, kemudian kembali dalam dunia lamunannya.



Tap… tap… tap… suara langkah Dea terdengar. Dia berlari. Secepat mungkin dia ingin bertemu dengan Bian dan mengetahui alasannya. Dan lagi, dia harus sesegera mungkin meminta maaf kepada Andre. Alasannya, karena sepulang sekolah tadi, dia langsung menuju ke studio tanpa pamitan dengannya. Maka dari itu, dia harus segera menyelesaikan masalah dan menemui Andre sebelum dia benar-benar ngambek besar. Bisa lama bujuknya.


Dea berhenti. Ada beberapa suara dari studio itu. Dia mengenali suara itu. Rian, Rio dan… Bian. Ah, ada apa? Kok mereka berkumpul tanpa dirinya dan Andre. Tidak tahu mengapa, Dea terpaku di balik pintu, tidak ada niat untuk masuk ke dalam ruang studio itu. Dari balik pintu, dia samar-samar mendengarkan percapakan para cowok anggota Scorpio.


“Aku tahu kamu pasti mempunyai alasan untuk keluar dari Scorpio,” kata Rian.


“Apakah alasan itu menyangkut anggota Scorpio?” tanya Rio ingin tahu.


“Ya, ini mengenai Dea,”


Dea? Dea yang berdiri di balik pintu terkejut. Apa maksud ucapan itu? Bian keluar gara-gara dirinya. Nafas gadis itu seolah berhenti. Bahkan suaranya tidak mau keluar. Secepat mungkin Dea mencoba tenang, mengatur nafasnya agar tetap teratur. Dengan seksama, dia kembali mendengarkan percakapan yang menyangkut dirinya itu.


“Dea? Maksud kamu apa?”


Bian terdiam menerawang. Pelahan, air mata menetes. Deras. Bening-bening itu keluar begitu saja. Tanpa henti. Rian dan Rio hanya memandang heran. Jarang sekali cowok dewasa itu bersikap cenggeng begini.

__ADS_1


Bian menghapus air matanya. Mengambil nafas dan menghembusnya keluar. “Aku mengikuti Dea dengan diam-diam, dia menuju ke sebuah pemakaman umum. Dia menangis dengan terisak-isak, bahkan sangat histeris,” jelas Bian sedikit terisak.


“Terus, apa hubungan dengan kamu?” kini Rio bertanya, dia tidak mengerti.


“Dua tahun yang lalu orang tuaku bercerai dan aku sangat stress. Aku negbut-ngebutan menggunakan mobil… ,” ucap Bian terhenti dan kembali meneteskan air mata. “Dan tanpa sengaja aku menabrak seorang cowok hingga dia meninggal dunia,” lanjutnya.


“Lalu apa hubungan dengan Dea?” tanya Rio polos.


“Aku tidak menduga kalau batu nisan itu bernama Dion Purnama Putra,” kata Bian dengan tubuh yang menengang. “Dia adalah saudara laki-lakinya. Dan aku yang telah membunuhnya,” kata Bian bergetar.


Dea terkejut. Hatinya bak teriris. Perih dan sangat menyakitkan. Tidak mungkin. Perkataan dari Bian pasti hanya bohong. Air mata Dea mendadak menetes. Suaranya mulai terisak. Dia masih belum bisa percaya dengan perkataan-perkataan itu. Lalu, dia teringat pada sebuah fakta. Jadi alasan selama ini dia tidak mau memakai mobil karena itu. Karena dia trauma karena telah menabrak Dion hingga meninggal dunia.


“Dea, kok kamu di sana?” tanya Andre tiba-tiba mengangetkan Dea.


Dea tersentak. Begitupula dengan tiga cowok tersebut. Mereka sangat terkejut. Tidak menduga. Berarti sejak tadi Dea mendengarkan pembicaraan mereka. Dan dia mengetahui kebenarannya. Seketika itupula Dea segera berlari sekuat tenaga. Bahkan dia tidak menghiraukan panggilan-panggilan yang memanggil namanya. Andre dan Rian segera mengejarnya. Namun cewek itu sudah hilang tidak tahu rimbanya.


Sementara Bian masih berada di studio itu. Terpaku. Badannya tidak dapat bergerak. Dia benar-benar shock.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. BILA BERKENAN, BERI JUGA UCAPAN SELAMAT TAHUN BARU. JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, AND LIKE YA!!!

__ADS_1


__ADS_2