Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 12.2


__ADS_3

“Akhirnya sampai juga,” ujar Dea lega. “Aku merindukan rumah ini,” kata Dea segera masuk ke dalam rumah.


Dea berlari-lari kecil. Ruang keluarga. Taman belakang. Dapur, dan berakhir di kamarnya. Dia segera menuju teras kamarnya. Memandang keindahan alam dari langit biru. Dia bisa melihat berbagai macam bentuk dari awan-awan putih itu. Indah banget! Kemudian, dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Lalu menghirup aroma-aroma yang hampir seminggu tidak di rasakannya. Dan tidak sengaja melirik foto Dion di atas meja. Kak, sekarang aku sangat bahagia, ucap Dea dalam hati.


Dea kembali melihat barang yang lain. Ada foto Andre di samping Dion. Fotonya tersenyum. Dea pun jadi ikut tersenyum. Belum puas, dia melirik setiap isi ruangan hingga dia terfokus kepada sosok yang ada di depan pintu.


“Dea, mama kamu menyuruh makan!” kata Andre dengan gaya bicara memerintahnya.


Dea hanya diam. Bahkan dia seolah tidak ada niat untuk melaksanakan perintah itu. sebenarnya, sampai detik ini dia belum pernah menunjukkan Andre di depan makan Dion begitupula Scorpio. Dan mungkin, sudah saatnya dia memperkenalkan orang-orang terdekatnya kepada Dion.


“Ndre, besok sepulang sekolah bisa temani aku?” tanya Dea. Andre memandang gadis itu lama. Heran, dan perlahan menganggukkan kepala. “Ajak juga anggota Scorpio yang lain ya!” lanjut Dea membuat Andre penasaran.


“Kita mau pergi ke mana?” selidik Andre.

__ADS_1


“Lihat aja besok!” jawab Andre dengan membangun tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Andre. Melihat itu, Andre hanya terpaku. Kemudian mengikuti gadis itu dari belakang menuju ruang makan. Di sana, mama dan papanya telah menunggu. Mereka hendak makan malam bersama.



Cuaca siang ini luar biasa panasnya. Matahari sedang asyik-asyiknya memancarkan sinar. Keringat di tubuh Dea sedang seru-serunya keluar di setiap kelenjar rambut. Sementara Andre, dia seolah telah kebal dengan sinar itu.


“Andre, kok mereka lama sekali, sudah lima belas menit nih!” ucap Dea gelisah.


Dea menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Kemudian, dia pergi ke warung kecil di samping sekolahnya.


“Pak, dua botol minuman mineralnya,” pinta Dea. Pak penjaga warung mengambil dan memberikan kepada Dea secepat mungkin. Dia tahu Dea sedang kehausan. “Terima kasih Pak,”


Dea kembali ke tempat Andre. Kemudian memberikan sebotol minuman kepada Andre. Panas matahari memang menyiksa. Sinarnya membuat kerongkongan Dea menjadi kekeringan. Baru seteguk dia menumpahkan ke dalam mulutnya, Dea seolah berada di Kutub Utara. Dingin… Berrrrrrrrrrrr!

__ADS_1


Tit… tit… tit… Suara klason mobil mengangetkan Dea. Hampir saja dia tersedak. Dia menoleh. Mobil siapa tuh? Kok nggak mobil sedan hitam milik Rian? Tidak beberapa lama, seseorang keluar. Itu Rian, tapi bukan dari kemudi. Dea semakin penasaran, siapa yang menyetir mobil. Kalau tidak Rian, apakah mungkin Rio. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, Rio tidak bisa mengendarai mobil dan semakin tidak mungkin yang menyetir mobil adalah Bian.


Akhirnya yang di pikiran Dea keluar. Dan alangkah terkejutnya. Yang menyetir ternyata… Bian. Padahal selama ini dia selalu trauma dengan mobil. Akibat kecelakaan mobil dan membuat Dion meninggal, dia sangat takut mengemudi mobil. Dia takut melakukan kesalahan lagi.


“Sorry telat!” ucap Bian masih ramah.


“Tidak apa-apa kok,” Dea menggelangkan kepala. Kemudian dia meneliti cowok yang ada di hadapannya sekarang. Wajah Bian tidak terlihat pucat, juga tidak terlihat seperti orang trauma. Apa mungkin dia sudah untuk menghilangkan rasa takut dengan mobil?



TERUS NANTIKAN KELANJUTANNYA YA... MOHON KRITIK DAN SARANNYA...


__ADS_1


__ADS_2