Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 3.1


__ADS_3

Minggu pagi,


Dea sudah mondar-mandir di depan pintu. Sekali-kali dia celingak-celinguk ke arah jalanan. Sudah lima belas menit berlalu, Andre belum juga datang. Padahal dia sudah janji untuk menjemputnya. Dia juga sudah siap dengan penampilan biasanya. Kompetisi The Battle of Band masih dua hari lagi. Mereka harus berlatih lebih ekstra daripada biasanya.


Dea melirik jam tangannya. 10.45. Dia mulai gelisah. Hatinya risau. Ada apa dengan Andre? Biasanya dia tidak pernah terlambat malah selalu datang lebih cepat.


Tit… tit… tit…


Dea menoleh. Sepeda motor hijau, kok bukan merah?. Penggendara itu membuka helmnya. Dan… Bian. Dea heran. Dia celingak-celinguk ke kiri ke kanan. Masih mencari Andre namun tidak di temukannya. Perlahan, Bian membuka pagar rumah dan menuju teras.


“Yuk, pergi!” ajak Bian.


“Kok kamu? Andre mana?”


“Andre sedang ke bandara. Jemput kakaknya. Makanya aku jemput kamu,” ucapnya sembari meninggalkan Dea.


Oh… Begitu toh! Dea segera mengikuti Bian menuju motornya. Bian memberi sebuah helm dan memakai benda bulat itu di kepalanya. Tidak beberapa lama, mereka meninggalkan rumah bercat biru itu. Mereka siap untuk latihan dengan sangat keras.



Suara gema dari alat band terdengar seisi ruangan. Drum, gitar, bass, keyboard, dan  suara Bian memukau orang-orang yang berada di studio. Mereka bermain dengan sangat memesona. Untuk sesaat, ruangan segiempat itu di penuhi oleh para staf dan beberapa penjaga kantin. Mereka menikmati hiburan dari Scorpio tersebut.


Plak… plak… plak… suara tepuk tangan bergemuruh. Para penonton sangat menikmati permainan Scorpio. Melihat itu, Dea merasa sangat senang. Walaupun tidak sebanyak tepuk tangan saat kompetisi berbakat itu, namun dia merasakan hal yang sangat luar biasa. Kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak bisa di gantikan oleh apapun.


“Cukup!, kita istirahat sebentar!” perintah Rian.

__ADS_1


Dea beranjak dari tempat drumnya. Duduk sesaat untuk beristirahat. Huh! Dea mengibas-ngibas tubuhnya yang kepanasan. Dia juga merenggangkan jemari-jemari yang kaku.


“Nih!” beri Bian.


Dea mengambil minuman kaleng itu dengan ragu. Ada apa dengan Bian ya? Sejak tadi, dia merasa bahwa Bian berbeda. Dia tidak seperti pikiran Dea yang dulu. Sosok pendiam dan agak sombong. Namun kini berbeda. Ya, ternyata Bian adalah sosok laki-laki yang baik dan perhatian.


“Thanks,” ucap Dea berterima kasih.


Kemudian Dea menegukkan minuman itu. Rasa hausnya menghilang. Ah, melegakan! Tiba-tiba Andre mulai mendekatinya. Duduk di sampingnya sembari tersenyum, sebuah senyuman jahil. Dea menggelengkan kepala,  kebinggungan. Dan tidak lupa, dia sudah siap ambil kuda-kuda jika-kalau Andre melakukan kejahilannya.


Satu menit. Dua menit. Lima belas menit berlalu. Dea mulai risih dengan Andre yang menatapinya dengan serius. Huh, ada apa lagi sih dengan nih anak?, pikir Dea. Kemudian, tanpa sadar Dea melempar botol kaleng tersebut, reflex banget! Botol itu mendarat di wajah Andre hingga memerah. Andre meringis kesakitan. Dia merasakan perih di bagian hidung.


“Apaan sih kamu, Dea?” kata  Andre dengan wajah kesal sembari menggosok-gosok hidung. Perih banget rasanya.


“Kamu bisa membuat Andre mati tuh!” ucap Rio tertawa.


“Tapi, kamu tidak perlu melempar kaleng itu kan! Sakit nih!” tukas Andre kesal.


“Sorry!” mohon Dea.


Andre diam. Otaknya mulai berputar keras. Matanya tidak lepas dari pandangan licik ke arah Dea. AHA! Andre mempunyai ide yang cemerlang. Dia beranjak dari tempatnya, pergi keluar. Sedangkan anggota Scorpio yang lain hanya memandangnya dengan heran. Tidak beberapa lama, Andre kembali. Tapi tidak dengan tangan kosong. Dia membawa beberapa baju dan memberikan kepada Dea.


“Pakai ini sebagai permintaan maaf kamu!” perintah Davi.


Dea melongo. Apa maksud Andre? Lalu, pakaian-pakaian ini untuk apa? Rok mini. Baju berenda-renda. Dan sepatu high heels. Oh my god! Dea memandang Andre dengan heran. Lalu dia mulai berpikir. Perlahan, dia melototkan matanya.

__ADS_1


“Aku tidak mau!” tolak Dea.


“Oh, kamu tidak mau,” kata Andre. “Rian, kamu sebagai ketua. Apa tindakan kamu kepada anggota Scorpio yang menganiaya sesama anggotanya,” lanjut Andre melirik Rian.


Rian terkejut dan  menghela nafas. Yah, inilah tidak enaknya menjadi ketua. Dia harus menghadapi masalah-masalah sepele yang memerlukan tanggung jawab. Rian beranjak dari tempat duduk. Membawa baju itu dan juga Dea dengan paksa. Seketika itupula Dea memberontak. Namun, tenaganya tidak terlalu kuat untuk melawan Rian.


“Rian, apaan sih kamu? Kalau seperti ini aku akan keluar dari Scorpio?” ancam Dea.


Rian hanya diam. Dia tetap menyeret Dea untuk menuju ke ruangan ganti. Terpaksa, Dea menuruti. Mau marah. Kemurkaannya tidak di dengarkan. Mau memberontak. Tenaganya tidak terlalu kuat. Yah, terpaksa deh! Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Maaf Dea. Aku harus melakukan ini karena menyakut harga diri,” ujar Rian sembari menutup pintu.


Dea melongo kemudian mengerutu. Siapa coba yang tidak mengerutu kalau di paksa seperti ini? Namun, kalau tetap seperti ini, berdiam diri dan menggerutu, tidak ada gunanya juga. Perlahan, dia mengambil pakaian itu dan memakai ke tubuhnya. Ingat, ini dia lakukan karena terpaks, bukan karena dia senang.


“Rian,” panggil Dea.


Rian terpukau. Dea seperti bidadari, benar-benar sangat cantik dengan pakaian itu. Sesaat, Rian berdebar-debar. Dia seperti sedang jatuh cinta kepada seorang gadis.


Lalu, mereka melangkah ke tempat anggota Scorpio berkumpul.


“Puas!” ucap Dea kesal.


Andre menganggukkan kepala. Bibirnya tersenyum lebar. Kemudian, semua anggota Scorpio berdiri. Mereka pergi ke tempat parkiran dan semua masuk ke dalam sebuah mobil. Namun tidak halnya dengan Bian. Dia menggunakan sepeda motor hijaunya padahal ada ruang kosong di mobil itu masih ada. Melihat itu, Dea diam saja. Dia tidak mau bertanya apa-apa. Dia masih kesal. Tidak beberapa lama, mobil itu pergi menjauh dari studio dengan di ikuti sepeda motor Bian.


__ADS_1


PLEASE LIKE-NYA! PLEASE COMMENT-NYA! PLEASE VOTE-NYA!


__ADS_2