![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Huh! Panas sekali. AC studio mendadak mati. So, ruangan tertutup ini terasa sangat panas. Seolah ikan bakar yang sedang di panggang. Hanya Bian yang bersikap tenang dengan sosok dewasanya. Sedangkan Rio dan Andre sampai membuka bajunya. Dea sampai tersipu malu. Mereka bertelanjang dada di depan seorang gadis dengan sosok laki-laki itu.
Rian belum juga datang. Padahal sudah lima belas menit berlalu sesuai perjanjian. Bian sudah berulang kali mengirim pesan. Dia juga berkali-kali mencoba memanggil melalui ponselnya. Namun tidak ada satupun balasan yang di terima. Terpaksa, mereka hanya bermalas-malasan di studio itu. Tanpa Rian, anggota Scorpio tidak bisa melakukan latihan. Selain itu, ada hal berbeda dari salah satu anggota Scorpio, Sejak pernyataan cinta itu, Andre tidak banyak berbicara. Kata orang Jawa sih mingkem. Dia juga tidak menegur ataupun menyapa Dea. Dan entah kenapa, ada sedikit rasa sedih di hati gadis itu. Rasa yang seolah membuat hatinya menangis.
“Sorry, aku telat!” kata Rian menyentakkan anggota Scorpio.
Anggota Scorpio segera bersiap-siap untuk melakukan latihan seperti biasa. Sesaat mereka terkejut. Ada apa dengan wajah Rian? Dea meneliti wajah cowok itu dengan seksama. Sungguh mengerikan dengan benjolan-benjolan merah di wajahnya. Dia sangat penasaran dan ingin bertanya. Namun seperti dulu, tidak ada yang berkomentar. Diam. Dan menganggap luka memar di wajah itu menjadi bukti nyata dari sebuah rahasia. Melihat keadaan yang adem- ayem, Dea juga diam. Dia tidak ingin berkomentar apa-apa. Lebih baik seperti ini. Mengikuti alur perjalanan dalam band ini.
Tak.. tuk.. brak… brum…. Latihan selesai. Dea segera beranjak dari studio dan menuju ruang ganti. Hari ini dia ada janjian untuk bertemu dengan Andika. Mereka mau bermain di Game Center lagi. Di tambah lagi, Andika mengatakan bahwa dia ingin mengajaknya ke suatu tempat. Upz… sungguh penasaran! Ke manakah cowok itu akan mengajak gadis tomboy yang mulai beranjak menjadi gadis feminim itu?
__ADS_1
Dea siap. Rok mini selutut. Baju merah berlengan panjang. Dan pita kecil yang menghiasi rambutnya. Cantik!, pikirnya dalam hati. Sudah lama, dia tidak memakai pakaian-pakaian feminim ini. Biasanya Andre suka memaksanya untuk menggunakan pakaian seperti ini. Aduh, lagi dan lagi, Dea kembali memikirkan Andre. Padahal, dia sudah berjanji untuk melupakan Andre.
“Dea,” panggil seseorang.
“Ya,” jawab Dea sembari membuka pintu.
Andre. Dea terkejut. Begitupula cowok itu. Dia terkejut dengan pesona dari kecantikan Dea. Sangat feminim dan anggun. Perlahan, Andre mengambil tangan Dea. Dia memegangnya dengan lembut. Lalu, dia juga menyentuh pipi Dea yang mulai memerah. Hati Dea berdebar-debar. Dia menjadi salah tingkah.
Dea hanya diam. Wajahnya semakin memerah seperti tomat. Bagaimana tidak? Kini dia sedang bersama dengan orang yang membuat hatinya berdebar kencang. Apalagi, dia sudah lama tidak mendengar suara lembut itu. Dan juga senyuman indah dan jahil dari Andre.
__ADS_1
“Mau pulang bareng denganku?” ajaknya.
Dea mengangguk pelan. Dia merasa sangat senang. Tanpa sadar, dia menarik lengan Andre dengan lembut. Tidak menyangka, namun Andre merasa sangat senang. Dea telah kembali. Lebih baik daripada dahulu.
Selama perjalanan, mereka hanya membisu. Tidak ada suara yang terdengar. Bahkan ketika Andre menuntun tangan Dea untuk melingkarkan ke pinggangnya. Dea hanya menurut. Andre tidak mau menghilangkan kebahagiaan ini begitupula dengan Dea. Tiba-tiba, Dea terbayang wajah Tari yang mengandeng tangan Andre. Wajah yang begitu senang dan bahagia. Dea menjadi merasa bersalah. Sesak. Perih. Dan sangat menyakitkan. Dia segera melepaskan lingkaran itu. Namun tidak tahu mengapa, dia kembali melingkar tangannya. Memang perbuatan yang sedikit gila. Biarlah hanya untuk sesaat ini saja.
Akhirnya tiba. Waktu perjalanan ini berlalu sangat cepat. Dea turun dari motor merah Andre. Dia membuka pagar merahnya dan segera masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih. Sikap itu memang tidak sopan. Namun dia harus melakukannya. Ya, alasannya hanya satu, karena air mata itu terlanjur keluar. Dia tidak ingin memperlihatkan lagi air mata sedih itu. Apalagi berwajah cenggeng di hadapan Andre. Cukup sudah!
__ADS_1
PLEASE VOTE-NYA!
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND FAVORIT!