![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Acara pensi hampir dua bulan lagi berlangsung. Namun acara itu masih kekurangan dana. Kepala Dea seolah berputar tujuh keliling. Dia puyeng untuk bagaimana menyelesaikan masalah ekonomi tersebut. Scorpio, dia berpikir untuk meminta tolong kepada bandnya itu. Hanya saja, bagaimana caranya untuk mengatakan hal tersebut kepada Rian. Dan seandainya dia menyuruh Andre untuk menyampaikan niatnya, ah janganlah. Dia adalah ketua osis dan dia harus bertanggung jawab untuk acara ini.
Mendadak terlintas dalam benak Dea. Seorang gadis bersama Andre di restoran ala Spanyol itu. Siapakah dia? Ataukah dia harus bertanya kepada Andre? Dea menggelengkan kepala. Tidak mungkin… tidak mungkin…. Bisa-bisa Andre akan tertawa dengan penuh kemenangan.
Tapi… kalau dia tetap tidak mengetahui cewek itu, berarti Andre telah berbohong tentang perasaannya. Lalu apakah dia harus memberitahukan kepada Tari? Dea benar-benar binggung. Matanya tidak berkedip sembari pikirannya terus berjalan.
“Kok melamun?” tanya Andre tiba-tiba.
Dea terkejut. Cowok ini, dia selalu membuat Dea mengalami sport jantung. Datangnya secara tiba-tiba dan untung saja menghilangnya tidak secara tiba-tiba. Kalau iya dia menghilang tiba-tiba berarti dia hantu dong J .Gadis itu. Dia kembali teringat tentang gadis itu. Apakah dia boleh bertanya sekarang? Mumpung tidak ada siapa-siapa sekarang. Dan hilangkanlah rasa gengsi itu. Ya, daripada dia terus merasa penasaran.
“Andre, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Dea memberani diri.
__ADS_1
Andre mengenyitkan alisnya. Kok mendadak. Tidak seperti biasanya Dea berkata seperti itu. Andre memandangnya dengan tatapan tajam. Dari ujung kepala, kemudian turun ke ujung kaki dan kembali lagi ke ujung kepala. Perlahan, dia siap medengarkan pertanyaan-pertanyaan dari Dea.
“Dea,” panggil Tari.
Dea terkejut. Tari, ada apa gadis itu ke sini?. Oh ya, diakan sekretaris osis jadi wajarlah dia ke ruangan ini. Ah, nanti saja tanyanya. Dea bungkam. Kemudian dia mendekati Tari. Dia memandang Tari heran. Ada apa sih?
“Aku lihat loh yang kemarin?” goda Tari. Matanya menyipit.
Dea kembali terkejut. Kemarin, memang ada apa dengan hari kemarin?. Apakah dia sudah melakukan sesuatu yang tidak masuk di akal?. Dia mengeryitkan alisnya tinggi. Heran sekaligus tidak mengerti dengan perkataan Tari itu.
“Jangan pura-pura. Aku lihat kamu pergi dengan cowok sekolah lain sepulang sekolah kemarin. Hayo, siapa dia?”
__ADS_1
Hah! Tari melihatnya. Aduh gawat apalagi bila Andre sampai tahu. Dea memandang Andre dengan sedikit takut. Benar, cowok itu terlihat sangat marah. Dia juga seolah bertanya tentang cowok itu. Dan bagaimana Dea harus menjawabnya. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa cowok itu adalah Andika. Bisa-bisa mereka akan adu kekuatan lagi.
“Hah! Mana mungkin aku pergi dengan cowok sekolah lain?”
“Tidak mungkin aku salah lihat. Aku yakin kalau itu adalah kamu,”
“Sudahlah, jangan di pikirkan!” kata Dea menghindar. “Lebih baik kita ke kantin,” ajak Dea.
“Eh, tapi aku sangat yakin kalau itu kamu!” kata Tari semakin memperkuat pernyataannya.
Aduh… gawat. Dea segera membawa Dea menjauh dari ruang osis. Lebih tepatnya dari Andre. Sebab hanya satu alasannya, muka Andre sudah merah padam. Dea takut kalau Andre akan marah apalagi kalau sampai tahu tentang cowok itu. Lebih baik dia membawa Tari menjauh daripada Tari akan bertanya terus bertanya tentang cowok itu.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, RATING 10 POIN, DAN FAVORITE!