Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 6.4


__ADS_3

Benarkah Dea tidak bisa melupakan Andre? Bagaimana ini? Apakah cinta itu sudah merenggut hatinya? Dea berkali-kali bertanya dalam hati tentang perasaan kepada Andre tersebut. Sejauh ini hubungan mereka sangat dekat. Bisa di bilang hubungan teman tapi mesra. TTM begitu deh. Namun, masih saja alasan Tari itu yang mengganggunya. Dia benar-benar tidak sanggup untuk menyakitkan gadis itu.


Dea memandang foto Dion. Dia merindukan Dion yang menjadi tempat curhatnya. Sekarang tidak ada lagi yang bisa menjadi curahan hatinya. Semuanya abu-abu antara hubungan persahabataan dengan Tari dan juga percintaan dengan Andre. Dan hubungan pertemanan dengan… Andika.


Oh iya, Dea baru ingat. Dia harus menghubungi cowok itu untuk memastikan sesuatu. Ya, sesuatau yang mungkin telah terjadi di antara Andre dan Andika. Dea segera mengambil ponselnya dan mengetik beberapa pesan singkat.


To : Andika


Aku ingin bertemu kamu besok


Huh! Lega. Pesan itu sudah terkirim. Bertemu dengannya, apakah tindakannya ini adalah benar? Apakah seharusnya dia bertanya kepada Andre daripada kepada Andika?. Tiba-tiba nada dering beralun lagu Bunga Citra Lestari berdering. Dea tersentak. Dari Andika.


“Halo? Ada apa?” ucap Dea mengangkat ponselnya.


“Aku hanya ingin tanya tempat pertemuan kita,”


“Besok aku kirim alamat kita temuan,”


“Aku pikir kamu tidak mau bertemu denganku lagi,”


“Sudah ya, hari sudah malam,” ucap Dea mengalihkan pembicaraan dan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Benarkah… benarkah… benarkah tindakannya ini ataukah akan menimbulkan dampak yang buruk? Aduh, sekarang Dea menjadi sangat kebinggungan. Seharusnya dia berpikir lebih matang dulu daripada bertindak. Lalu bagaimana sekarang?



Semalaman Dea tidak bisa tidur. Dia kepikiran dengan pertemuan itu. Akhirnya, ini adalah keputusannya. Dia harus tahu tentang memar di wajah Andre itu. Dan satu-satunya yang bisa di tanya adalah Andika. Tidak ada pilihan lagi.


Sepulang sekolah Dea bergegas pergi. Setidaknya dia harus sembunyi dari Andre. Alasannya, karena biasanyanya Andre selalu mengajak pulang bareng . Apalagi dengan alasan mau pergi ke tempat latihan, dan dia tidak bisa menolak. Namun kelihatannya situasi aman. Andre tidak kelihatan sejak jam pelajaran terakhir tadi. Kemanakah dia pergi? Dea mengambil ponselnya dan mengetik beberapa pesan. Bukan untuk Andre namun untuk Andika.


Lagi, Dea kembali bertanya, apakah benar tindakannya ini? sudahlah, semuanya sudah terlanjur berlangsung. Tidak ada yang bisa menghentikan pertemuan itu. Tidak beberapa lama, Andika sudah tiba di depan gerbang sekolahnya. Dia juga masih menggunakan seragam. Dan seperti dugaan Dea. Di wajah Andika juga terdapat memar-memar merah seperti Andika.


Dea segera masuk ke dalam mobil sedan hitam dan meninggalkan sekolah tercintanya. Mobil itu berhenti pada sebuah restoran mewah. Huh! Selalu begini. Andika selalu mengajak ke tempat-tempat mahal di kota ini. Kalau dulu adalah restoran dengan gaya Cina, sekarang mereka berada pada restoran ala Spanyol. Dea tidak berbicara apa-apa mengenai restoran itu. Dia lebih memilih diam daripada berkomentar.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Andika sembari menyerahkan menu makanan.


“Kamu tidak mau makan?” tawar Andika lagi.


“Tidak. Aku ingin langsung pada tujuanku,” kata Dea mulai serius.


“Baiklah. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?”


“Masalah memar di wajahmu itu. Apakah kamu dan Andre berkelahi?”

__ADS_1


Mendadak wajah Andika berubah. Benar dugaan itu. Argh… Lalu kalau sudah tahu Dea harus bagaimana? Duh, dia belum memikirkan apa tindakan selanjutnya. Lama juga mereka terdiam. Andika tidak berbicara apa-apa hingga pesanan makanan mereka datang.


“Aku hanya ingin kita tidak bertemu lagi setelah ini,” pinta Dea.


Kembali. Mendadak wajah Andika berubah. Cowok itu terlihat sedih dan juga marah. Namun ini adalah keputusan Dea. Demi Andre. Yah, walaupun dia tidak bisa menjadi kekasihnya. Setidaknya dia bisa melindungi Andre dari cowok ini. Dia tidak ingin Andre terluka lagi.


“Apakah aku tidak bisa menggantikan Andre?” tanya Andika sedih. Matanya menatap mata Dea dengan serius. Bahkan mungkin tatapan yang paling serius yang pernah di lihatnya.


“Maaf!” ucap Dea singkat.


Perlahan, Dea beranjak pergi meninggalkan Andika. Sudah tidak ada lagi hubungan pertemanan ini. Semua sudah berakhir. Tiba-tiba, Andika menarik pergelangan Dea. Dea terkejut. Apa yang mau di lakukan cowok ini?


“Untuk terakhir kalinya, aku antar kamu pulang ya?” pinta Andika.


Bagimana ini? Untuk terakhir kalinya. Lagipula tidak mungkin dia mau melukai dirinya. Kemudian Dea menganggukkan kepala. Andika mengikuti dari belakang dan menuju parkiran.


Tiba-tiba, mata Dea tertuju pada sosok laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu. Dia sangat mengenalnya. Andre, sosok laki-laki yang telah mencuri hatinya sedang berjalan merra dengan seseorang. Lalu, siapakah gadis di sampingnya itu?


Dea mencoba untuk berpikir positif. Dan lagi dia belum tahu kebenarannya. Andika mempersilahkan Dea untuk masuk ke dalam mobil. Tidak beberapa lama, mereka meninggalkan restoran ala Spanyol itu. Yah, walaupun masalah dengan Andika sudah selesai. Namun mengapa dadanya sesak? Cewek yang bersama Andre membuatnya menjadi kebinggungan. Dan pernyataan cinta itu? Apakah Andre serius ataukah dia hanya mempermainkan perasaannya saja.


__ADS_1


TERIMA KASIH. TERIMA KASIH YANG SUDAH VOTE, LIKE, COMMENT, AND RATING!


BERILAH AKU 10 POIN DONG!!!


__ADS_2