Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 6.2


__ADS_3

Dea masih celingak-celinguk. Bukan lagi di koridor kelas tapi di depan kelas Andre. XI. IPS. 2. Kelasnya hampir kosong. Dan sosoknya belum di temukan. Ke manakah dia?


“Randi, kamu lihat Andre?” tanya Dea.


“Nggak. Sejak pelajaran terakhir, dia tidak masuk ke kelas,” jelas Randi, cowok satu-satunya bule tulen di sekolah.


“Terima kasih ya!” kata Dea sembari meninggalkan cowok itu.


Dea melangkah pergi. Kini dia berharap bila Andre ada di ruangan itu. Ya, ruangan osis yang di jadikannya sebagai tempat untuk mengganggunya. Dan masih sama. Cowok itu tidak di temukannya. Sekarang, Dea benar-benar khawatir. Dia takut bila Andre melakukan hal yang tidak wajar.


Kemudia dia melangkah pergi ke parkiran. Berharap Andre ada di sana.


“Tari, kamu lihat Andre?” tanya Dea ketika cewek itu mau mengeluarkan sepeda motornya.


“Tidak,” geleng Dea. “Memang kamu ada urusan apa?” tanya Tari dengan tatapan curiga.


Aduh, ini semakin gawat. Tidak mungkin dia menceritakan peristiwa saat pelajaran terakhir berlangsung itu. Tari bisa marah besar. Atau mungkin akan lebih parah. Dea segera menggelengkan kepala. Mencoba untuk menenangkan Tari yang juga mulai gelisah.


“Beneran?” tanya Tari yang masih khawatir.


“Bener kok. Aku hanya ingin menanyakan jadwal latihan Scorpio saja,” jelas Dea mencari alasan.

__ADS_1


Tari mengangguk. Dia mengerti dan perlahan meninggalkan Dea yang sendirian. Aha, Dia harus menelepon Bian. Cowok itu pasti bisa mencari solusi untuknya. Dan sekarang masalahnya, dia tidak bisa menghubungi Bian. Ponselnya telah di ambil oleh Andre.


“Tari, tunggu sebentar!” henti Dea.


Tari memberhentikan motornya dan membalikkan badan. Wajahnya terlihat kebinggungan. Namun dia tetap diam saja. Tidak mengucapkan sepatah katapun.


“Tar, aku boleh pinjam ponsel kamu?” tanya Dea dengan wajah memohon.


“Boleh,” jawab Tari singkat sembari memberikan ponselnya.


Dea mengambilnya. Perlahan, dia mengetik beberapa pesan singkat. Untuk Bian. Hanya cowok itu yang bisa menolongnya.


To : Bian.


Aku tunggu di depan gerbang ya


Huh, Dea menghela nafas. Lega. Dia segera mengembalikan barang segiempat itu. Tari memandangnya dengan tatapan heran. Matanya seolah memancarkan sejuta tanya. Pertanyaan yang mungkin bisa membuat Dea mati untuk menjawabnya. Untung saja, Tari tidak berkomentar apa-apa. Dia pergi meninggalkan Dea yang menunggu Bian di depan gerbang sekolah.



“Dea,” panggil Bian.

__ADS_1


Dea menoleh. Syukur! Syukur! Bian cepat sekali datangnya. Dari tadi, hatinya sudah berdebar dengan sangat kencang. Lebih kencang daripada saat dia berdebar-debar di hadapan Andre.


Bian hanya memandang Dea dengan tatapan serius. Dia sudah tahu. Gadis itu, princess mereka pasti sedang mempunyai masalah. Dan tebakannya itu adalah benar. Sangat… sangat… sangat benar. 100 %. Konkrit pokoknya deh.


“Ada apa?  Apakah ada hubungan dengan Andre?” tanya Bian tepat sasaran.


Dea tersentak. Benar dugaan Bian. Masalah itu mengenai Andre. Lalu, sekarang dia kebinggungan untuk mencari solusinya. Bukan masalah besar sih. Tapi masalah itu mengganggu benaknya. Perlahan, Dea menganggukkan kepalanya dengan pelan.


“Aku sudah tahu itu,” jawab Bian. “Tadi dia datang ke studio dengan memar-memar di wajahnya,”


Memar-memar? Oh My God. Dea shock. Kakinya lemas. Keringat bercucuran membasahi kedua pipinya. Wajahnya memerah menahan nafas. Bian hanya terpaku. Diam di tempatnya. Dia membiarkan Dea untuk tenang sejenak.


Tidak beberapa lama, air mata Dea menetes. Untuk pertama kalinya, dia menangis di hadapan  Bian. Cowok itu jadi salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat lemah bila berhadapan dengan cewek yang sedang menangis. Sikap dewasanya tidak dapat di gunakan dalam situasi ini.


Cukup lama Dea menangis. Matanya memerah begitupula wajahnya. Tubuhnya gemetaran. Dan Bian, dia masih terpaku dengan tatapan sendu. Dia sedih.


“Lalu, kamu mau bagaimana?” tanya Bian dengan membuka pembicaraan.


Dea diam. Masih belum bisa berkata apa-apa. Hatinya sedang bimbang. Pikiran sedang kacau. Dia tidak dapat berpikir jernih. Kemudian dia beranjak dari tempatnya. Dia naik ke motor Bian dengan tubuh yang gemetar. Bian mengerti. Dia memakai helm kepada gadis itu. Dan akhirnya motor itu pergi meninggalkan sekolah SMA Nusa Bangsa.


__ADS_1


VOTE! RATING! COMMENT! AND FAVORITE!


__ADS_2