Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 9.4


__ADS_3

Dea terpaku. Wajah itu. Bibir itu. Dan hembusan nafas yang dapat di rasakan itu. Dia ingin menjadikan Andre sebagai miliknya. Bahkan dia ingin memeluknya. Namun Tari, sahabat sejak kecilnya. Dia tidak bisa menyakiti gadis itu. Biarlah dia tersakit daripada Tari yang merasakan sakit itu.


Dea kembali melangkah. Tidak menghiraukan perkataan Andre. Dan saat hendak melangkah, Dea terpaku. Tiba-tiba, sosok itu. Gadis yang selama ini sangat menyukai Andre berdiri tegak di depan pintu ruang osis. Wajahnya terlihat sangat terkejut. Bukan hanya itu. Ada seberkas bening kaca dari kedua matanya. Lalu, gadis itu berlari. Meninggalkan Dea yang terpaku dengan kedatangan gadis itu. Meninggalkan Andre yang tidak peduli dengan kepergian gadis itu.


Dea menolehkan kepalanya. Menatap Andre dengan mata elang. Melotot hingga mata ingin keluar. Dia maju selangkah. Dan PLAK…! Dea menampar wajah Andre. Merah. Ada bekas lima jemari tangan di wajah Andre.


“Ini semua gara-gara kamu! Kamu tahu perasaan Tari, tapi kamu masih juga mengatakan itu kepadaku!” ucap Dea marah.


“Aku tidak suka dia. Apa aku salah?”


Dea diam tidak berkutik. Memang tidak ada yang salah dari diri Andre? Cinta tidak boleh di paksakan. Lagian, sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi.


Dea pasrah dengan kejadian mengerikan tentang persahabatannya. Dea segera berlari mengejar Tari. Dia celingak-celinguk mencari sosok itu. Berharap gadis itu tidak terpukul dengan kejadian beberapa menit lalu. Dea masih belum menemukan gadis itu. Dia terus berlari. Mengelilingi setiap pelosok pada isi sekolah. Namun masih tetap sama. Tidak menemukannya.


Dea mengambil ponselnya. Mencari nama Tari pada kontak ponsel. Dia meneleponnya. Tidak di jawab. Sudah berulang kali, dan masih tetap sama. Tidak di jawab. Aduh! Bagaimana nih? Tari pasti marah kepadanya. Mungkin saja dia akan marah besar. Sangat… sangat besar.

__ADS_1


“Dea,” panggil seseorang.


Dea menoleh. Andre. Mau apalagi dia sekarang? Dea melotot matanya. Cowok itu tidak bereaksi sama sekali. Masih bersikap biasa saja. Bahkan dia merasa enjoying dengan tatapan geram dari Dea itu.


“APA?” bentak Dea dengan nada tinggi.


Andre tersenyum. Bahkan wajahnya tampak senang. Dia menarik tangan Dea dengan kuat sehingga gadis itu berada dalam pelukannya. Jantung Dea berdebar sangat cepat. Dag… dig… dug… begitu bunyi. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang hangat. Di pipinya. Sesuatu hangat dan melembutkan. Oh My God… Apa yang Andre lakukan? Kiss. Andre mencium pipinya.


“Apa yang kamu lakukan?” kata Dea sembari memberontak. Dia memukul keras ke tubuh Andre. Hingga dia dapat mendengar suara tulang yang terpukul. “Kamu gila!”


Dea berlari. Sudah tidak tahu lagi menghadapi sikap Andre. Dari kejauhan, dia melihat Andre tersenyum dan tertawa. Apa yang telah di lakukan Andre? Ah, mengapa cowok itu mencium pipinya? Dan lagi, mengapa dia tersenyum dan tertawa? Apakah dia tidak memikirkan perasaan Tari kepadanya? Ya, perasaan Tari yang sangat menyukai Andre.



Belum pulang? Sudah jam segini, kok Tari belum juga pulang. Apa yang terjadi padanya? Aduh, bagaimana ini? Kalau Tari sampai bunuh diri, bagaimana? Tapi, masa Tari mempunyai pikiran sependek itu. Sungguh tidak mungkin! Tari masih mempunyai sikap realistis. Tapi… tapi… tapi… kata pepatah kalau cinta itu buta. Bisa-bisa, Tari benar mau melakukan tindakan bodoh itu.

__ADS_1


Dea segera beranjak dari rumah Tari. Dia berjalan mengikuti hatinya. Dalam hati, dia terus berdoa untuk keselamatan sahabatnya itu. Tanpa sadar, dia sudah berada pada sebuah permakaman umum. Tempat Dion. Dan betapa terkejut Dea. Di sana ada gadis itu. Tari. Wajahnya tidak terlihat sedih. Juga tidak terlihat ada air mata dari kedua matanya.


“Tari,” kata Dea memanggilnya.


Cewek itu menoleh. Ekspresinya tersenyum. Dea segera merangkulnya. Air matanya menetes. Deras. Taripun membalas rangkulannya.


“Maaf, Tar!” ucap Dea memohon.


“Kok kamu minta maaf? Kamu tidak salah apa-apa kok!”


“Tapi tentang Andre?”


“Oh, tentang itu. Aku sudah tahu sejak dulu kok kalau Andre menyukai kamu,”


Dea tertegun. Sejak dulu. Bagaimana bisa? Dea menatap mata Tari dengan lekat. Gadis itu tidak berbohong. Bahkan tidak sedikitpun.

__ADS_1



LIKE DAN VOTE-NYA DONG DONG DONG!


__ADS_2