![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
20 Mei
Dea memandang ponselnya. Tidak ada pesan sayang dari Andre. Tidak ada juga panggilan dari cowok itu. Ke manakah dia? Apakah dia tidak ingat mengenai hari ini.
Trit… trit… trit… ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
From : Andre
Kamu bisa datang ke rumahku…
Masakkan sesuatu untukku, aku lapar!
Dea tertawa kecil. Dia mengeryitkan kening hingga tampak beberapa lipatan. Andre pasti ingin memberinya surprise di hari ulang tahunnya ini, batin Dea. Sejak kemarin anggota Scorpio mendadak tidak peduli kepadanya. Mereka acuh tak acuh. Dan itu tidak membuat menjadi salah tingkah maupun sedih. Karena… karena dia selalu berpikir, merka pasti sedang merencanakan sesuatu untuk… ya, hari ulang tahunnya.
Tanpa pikir panjang, Dea segera menganti pakaiannya dan keluar rumah. Dia memberhentikan sebuah mobil taxi. Dia siap untuk menuju ke rumah Andre.
__ADS_1
“Yuk, masuk!”kata Andre mempersilahkan. “Aku sudah lapar banget!” lanjutnya sembari memegang perutnya. Dia sudah tidak tahan lagi.
“Sebentar, aku akan masakkan untuk kamu!” ujar Dea sembari menuju ke dapur.
Tidak ada tanda-tanda kalau Andre akan merayakan hari ulang tahun. Tidak ada ucapan selamat dari cowok itu. Dia masih bersikap seperti biasa, suka memerintah dan seenaknya. Tapi mungkin saja, Andte tidak mengetahui hati istimewanya. Atau lebih mungkin, dia tidak serius dengan hubungan percintaan mereka. Dea segera menggelengkan kepala, tidak… tidak… tidak… Andre pasti ingat. Dea secepatkan mungkin mentransfer hal-hal positif ke otaknya.
Masakannya selesai. Kali ini, dia mencoba membuat nasi goreng di tambah dengan ayam goreng sebagai lauknya. Dia sudah belajar dengan serius, atau lebih tepatnya bimbingan belajar dengan mama tercinta cara memasak hewan berkaki dua itu. Dan semoga saja, Andre menyukainya.
Sepertinya tidak ada komentar apa-apa mengenai masakan itu. Andre melahapnya dengan sangat antusias. Sungguh menikmati! Dan tampaknya, dia berkali-kali menambahkan nasi ke dalam piring. Memang karena kelaparan atau masakan yang sangat enak, Dea tidak tahu apa jawabannya.
Ting… tong… ting… tong… bel rumah Andre berbunyi. Dengan segera, Dea membuka pintu rumah itu. Tampaklah ketiga cowok yang selalu mewarnai kehidupan masa remajanya.
“Andre kelaparan, jadi aku memasakan makanan untuknya,”
“Benarkah?” tanya Rio tidak percaya. “Aku boleh ikutan makan ya?” tanya Rio sembari masuk tanpa permisi. Rian dan Bian juga ikut masuk.
Melihat ketiga temannya sudah masuk, Dea pun mengikuti mereka dari belakang. Ketika tiba di tempat Andre, ketiga cowok tadi mengeluh. Masakan Dea ternyata sudah di ludes habis oleh cowok kurus itu. Dea tertawa kecil. Bahkan dia hendak mengakak ketika Rio membanting tubuhnya dengan lemas di kursi. Sementara Bian dan Rian juga sepertinya sedikit kecewa, padahal berharap mereka bisa makan masakan Dea.
__ADS_1
“Ya sudah, aku masakan lagi ya!” kata Dea tidak tega.
“Nggak perlu, Dea!” kata Andre sembari melototkan matanya ketiga cowok itu.
Sebenarnya wajar Andre bersikap seperti itu. Dia sudah memperingatkan sebelumnya kalau mereka tidak boleh makan masakan Dea. Sedikit egois sih, tapi dia selalu cemburu. Seolah merasakan bahwa gadis itu akan di rebut oleh mereka.
“Sudahlah Andre,” tenang Dea. “Aku kan hanya ingin memasakkan mereka makanan, bukannya aku mau pergi jauh dari kamu,” ucap Dea sedikit menggoda.
“Ya, Ndre,” ujar Rio ketus.
“Kami kelaparan,” kini Bian yang mengungkapkan perasaanya.
DETIK-DETIK MAU TAMAT...
NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA.
__ADS_1
BACA JUGA KARYA-KARYAKU YANG LAIN YA.