Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 8.1


__ADS_3

“Aku izinkan, tapi semuan persetujuan di serahkan kepada Andre,” kata Rian dengan nada menggoda.


Dea melongo. Baru beberapa menit yang lalu dia datang ke studio dan menyampaikan maksudnya. Dia meminta Scorpio untuk tampil dalam mencari dana tambahan. Dan sekarang, dia harus mendengarkan perkataan dengan persetujuan itu. Dan Dea sangat yakin bila persetujuan itu pasti di suruh oleh cowok jahil bernama lengkap Andre Steven itu. Sementara Andre, dia hanya manggut-mangut menyetujui perkataan Rian.


“Kok begitu?” celetuk Dea dengan cemberut.


“Sekarang terserah kamu, mau atau nggak?” kata Andre sambil tersenyum. “Kalau mau, kamu harus melakukan sesuatu untukku,” sahut Andre lagi, yang di iyakan yang lain.


“Kenapa aku harus mau melakukan perintah kamu,” kata Dea jutek. “Lagipula, kamu seharusnya memberikan kemudahan untuk sekolah kita,”


“Ya, tapi ini beda,”


“Beda? Apa yang beda?”


“Ya, karena kamu spesial, makanya kamu berbeda,” kata Andre sedikit tertawa.


Dea kembali melongo. Cowok ini, dasar! Dia tidak juga berubah. Masih juga bersikap kekanak-kanakan dan semakin suka mengeluarkan kata-kata gombal. Dan lagi, dia mengeluarkan kata-kata itu di hadapan anggota Scorpio. Dea menatap tiga cowok yang lain. Mereka mengalihkan pandangan. Mereka mencoba untuk membiarkan Andre senantiasa mempermainkan Dea.


“Bodoh ah!. Aku tidak jadi minta tolong,” jawab Dea sembari pergi meninggalkan empat cowok yang sudah tidak bisa menahan tawa.

__ADS_1


Dea keluar ruangan. Tidak beberapa lama, dia mendengarkan suara tawa yang sangat lepas. Dea kesal. Dia menghentak-hentakkan kaki keras-keras di lantai. Sebagai pelampiasan. Jahat… jahat… jahat… Dea tidak habis pikir kalau Rian mau bersengkongkol dengan Andre. Dan Bian, mengapa dia tidak mencegah tindakan Andre? Biasanyakan, Bian selalu menjadi pahlawan dalam suka dan duka.


“Sorry, aku tidak bisa menolong kamu!” tiba-tiba Bian angkat bicara dan mengangetkan dirinya.


Udah nongol aja nih orang, baru aja di omongin dalam hati. Dea menganggukkan kepala. Dia paham. Di antara anggota Scorpio, Bian yang satu-satunya cowok paling perhatian padanya. Kadangkala Dea menjadi salah tingkah karena perhatian yang terlalu berlebihan itu. Kadangpula, dia merasa debaran yang sangat cepat. Ya, seperti saat ini. Dia merasa deg-degan.


“Tidak apa-apa kok. Aku mengerti!” kata Dea memaafkan.


“Aku antar pulang ya!”


“Ya, aku juga sudah tidak ada keperluan lagi di sini,”



Kepala Dea benar-benar di buat pusing tujuh keliling dengan masalah kekurangan dana ini. Scorpio, mereka mau menolong sih, tapi… dia harus melakukan perintah Andre. Dan Dea sangat yakin kalau cowok itu pasti akan memerintahkan hal-hal aneh.


“Permisi, Dea. Aku ingin bertanya bagaimana cara untuk menutupi kekurangan dana itu?” tanya Hendra, bendahara osis. “Tidak mungkin memakai uang kamu terus, kan!”


Dea hanya tertegun. Dia bengong. Aduh… pertanyaan dari Hendra ini semakin membuat kepalanya menjadi ingin pecah. Bagaimana nih? Dia harus cepat mencari solusi. Kalau tidak, kemungkinan besar acara pensinya akan gagal. Tidak… tidak… tidak…, kata Dea berteriak dalam hati.

__ADS_1


Sudah di putuskan. Dia harus membuang rasa gengsi itu. Biarlah dia menjadi korban daripada acaranya menjadi hancur lebur. Secepat mungkin, Dea keluar dari ruang osis dan menuju ke kelas XI IPS 2. Dan ternyata, Andre telah menunggunya. Dia duduk santai di atas sebuah meja. Menghisap sebuah permen lolipop yang membuatnya tampak cute.


“Aku setuju, jadi apa yang harus aku lakukan untukmu?”kata Dea dan tanpa basa-basi. Mendengar itu Andre hanya tersenyum.


“Sepulang sekolah, kamu tunggu aku di parkiran sekolah,”


“Mengapa aku harus menunggu di parkiran?”


“Kamu menurut saya perintahku, jangan bertanya lagi,” kata Andre sembari mengusir halus Dea dari kelasnya.


“Tapi, Ndre,” Dea masih mencoba membantah.


Andre tidak berkata apapun. Dia tetap mengusir Dea secara halus. Bahkan, dia tersenyum lebar dan membelai rambut Dea dengan lembut. Oh My God, anak ini tidak berubah juga. Seenaknya menyentuh rambutnya. Dan kata-kata gombalnya semakin meraja-rela bertebaran. Tidak tanggung-tanggung, dia melakukan sikap romantisnya di depan banyak orang.


Udahlah, tinggalkan saja cowok itu. Dea segera melangkah pergi. Daripada menimbulkan bisikan-bisikan tanya dari cewek-cewek di kelas Andre, mendingan dia pergi. Jauh, jauh dari kelas IPS itu.



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND FAVORITE.

__ADS_1


PLEASE VOTE-NYA DONG!


__ADS_2