Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 4.2


__ADS_3

BUK!... Dea membanting tasnya ke tempat tidur. Dia duduk di meja belajar sembari memandang foto Dion. Dia merindukan kakaknya. Biasanya bila dia menangis, kakaknya selalu menghiburnya. Kadangkala, saudaranya itu mengajaknya ke dapur dan membuat mie goreng yang super enak. Untuknya.


Dia mengelus-ngelus foto 4R berbingkai itu. Dia ingin menceritakan segala rasa bimbang ini. Namun, benda itu hanyalah sebuah foto. Tidak dapat berbicara apalagi bernafas. Dan Tari. Dia tidak bisa menceritakan masalah ini kepada gadis itu.


Trit… trit… trit… ponselnya berbunyi. Tari, nama itu tertera di layar ponselnya. Dea mengangkat panggilan itu dengan enggan.


“Halo, Tar!”


“Dea, kamu mau nemani aku beli baju,” pinta Tari.


“Kapan?”


“Besok. Aku tunggu jam 2 siang ya di Mal,”


“Ya,” jawab Dea singkat dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Dea menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Aduh, baru sadar! Mengapa sih dia tidak menolak saja ajakan dari Tari tadi. Dia tidak mau bertemu dengan gadis itu untuk sekarang. Namun dia tahu. Dia tidak  pernah bisa menolak setiap ajakan Tari. Spontan, dia selalu menerima ketika sahabat kecilnya meminta tolong.  Yah, mungkin karena itu juga. Alasan Dea tidak bisa menyakiti Tari. Ya, udahlah. Aku juga ada waktu senggang kok!, pikir Dea.


Dan lagi, dia tidak ingin gadis itu terluka lagi. Seperti saat mereka masih bersekolah di SMP dulu, Tari pernah mempunyai seorang pacar. Dan pacarnya itu adalah seorang senior. Setelah kelulusan, dia di campakkan oleh senior yang menjalin hubungan dengannya hampir 2 tahun. Dan malam itu, sehari setelah ulang tahun Dea, Tari datang ke rumahnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Hingga matanya memerah dan bengkak. Gadis itu terlihat sangat rapuh. Bahkan bisa menghilang bila di tiup oleh angin. Dan mungkin, alasan itu pula yang membuat Dea tidak mudah jatuh cinta. Dia takut menderita seperti Tari. Namun mengapa? Dia sangat mudah jatuh cinta dengan cowok itu, cowok bernama lengkap Andre Steven itu.


__ADS_1


Minggu, jam 2 siang


Dea sudah sejak lima belas menit yang lalu datang ke Mal besar di daerahnya itu. Tari belum datang. Padahal, dia datang lebih cepat daripada perjanjian mereka. Dia tidak ingin sahabatnya menunggunya. Namun apa?  Sekarang dia tidak menemukan Tari di manapun.


Bosan. Berkali-kali dia terus melirik jam. Tari belum juga datang. Akhirnya Dea  memutuskan untuk menelusuri jalan keramik Mal itu. Sekali-kali, dia singgah di tempat penjualan alat musik. Siapa tahu  dia menemukan sesuatu yang membuat hatinya terpukau.


Dia melirik ponselnya. Tidak ada pesan masuk dari Tari. Waktu sudah menunjukan pukul 2. 30 menit. Ke mana gerangan gadis itu?


Dea terus berjalan, untuk menghilangkan kebosanan. PLAK!... Dea terkejut. Tanpa sadar, Dea menabrak seseorang. Minumannya jatuh. Dan lebih parahnya lagi, cairan coklat itu mengenai baju cowok yang ada di hadapannya itu. Aduh, bagaimana nih?


“Sorry!, aku nggak lihat!” mohon Dea.


“Nggak apa-apa kok!” balasnya ramah.


“Aku ganti ya minuman kamu?” kata Dea ramah. “sebagai permohonan maaf!”


Cowok itu diam sejenak. Sosok itu memandang dengan tatapan curiga. Dia memperhatikan Dea dari ujung kaki hingga ujung kepala. Perlahan, dia mengangguk kepala. Huh, Untung saja!, pikir Dea. Cowok itu tidak berkomentar apa-apa. Dea segera mengajaknya ke tempat makan yang berada di Mal itu.


“Aku Andika. Nama kamu siapa?” tanya cowok itu.


“Dea,” jawab Dea singkat. “Kamu mau apa?”

__ADS_1


“Capucino aja!”


“Oke!” jawab Dea sembari memesan dua gelas capucino.


Dea memberikannya. Dan Dea berkali-kali mengucap kata maaf. Cowok itu hanya tersenyum.


“Sudah ini kamu mau ke mana?” tanya Andika.


“Aku sebenarnya mau pergi bareng temanku. Tapi dia belum datang juga!”


“Kalau kayak gitu, mau jalan bareng denganku sekalian tunggu teman kamu,”


Eh, bagaimana nih? Dea berpikir sejenak. Terima. Nggak. Terima. Nggak. Akhirnya, Dea memutuskan pilihannya. Daripada dia mati kutu menunggu Tari yang belum datang juga. Lebih baik jalan dengan cowok ini. Lagian sudah satu jam dia menunggu, Tari belum juga menampakkan batang hidungnya. Yah, daripada bosan. Lebih baik dia jalan-jalan saja dengan Andika.


Dea dan Andika hanya berjalan-jalan mengeliling Mal. Lantai 1. Lantai 2. Lantai 3. Habis mereka jalani. Dea sangat senang berjalan dengan Andika. Beban bimbang yang di tanggungnya seolah menghilang. Dia bisa tersenyum lebar. Bisa bebas tertawa. Dia benar-benar sangat menikmati hang out singkat ini.


“Main di game center yuk!” ajak Andika.


Dea mengangguk. Game center. Mungkin di tempat itu dia lebih bisa menghilangkan strees yang ada di kepalanya. Mungkin malah menghapus semuanya! Dia segera mengikuti langkah Andika. Banyak permainan yang menarik yang di persiapkan oleh sistem game center itu. Dan satu yang menarik. Main balapan mobil. Dea sangat menikamati permainan itu. This is enjoying!


__ADS_1


PLEASE BANGET VOTE-NYA, LIKE-NYA, COMMENT-NYA, AND RATING-NYA.


__ADS_2