Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 7.2


__ADS_3

“Kamu mau pesan apa?” tanya Dea.


“Jus mangga saja!” jawab Tari.


Dea segera melangkah pergi menuju ke tempat pembuatan jus. Kemudian dia memesan dua gelas minuman segar. Untung saja pengunjung kantin hari ini sedang sepi. Jadi dia tidak perlu menunggu lama untuk mendapat dua gelas minuman itu.


“Nih,” beri Dea.


“Thanks,” ujar Tari. “Dea, aku yakin kalau itu kamu. Dia siapa sebenarnya? Sepertinya dia siswa SMA Merdeka Pertiwi,” tanya Tari ngotot.


Huh! Dea menghela nafas. Bagaimana ini? apakah dia harus menjawabnya atau tutup mulut seperti tadi. Tapi kalau dia tidak bercerita, apakah Tari akan marah dan terus mendesaknya. Dea memandang gadis itu. Wajahnya menginginkan jawab pasti darinya.


“Ya, benar,” jawab Dea dengan terpaksa.


“Lalu siapa dia?”


“Dia Andika. Dia adalah drumer dari band Five Lion,”


“Five Lion? Serius?” kata Tari tidak percaya. “Aku pernah menonton mereka sekali. Mereka benar-benar sangat hebat,” ujar Tari mengebu-gebu. “Sudah sejauh mana hubungan kalian?”

__ADS_1


“Hubungan? Tidak ada hubungan apa-apa kok!”


“Eh, aku kira kalian berdua berpacaran. Kalian sangat cocok kok,”


“Nggak ah. Untuk sekarang, aku tidak mau pacaran, aku mau fokus sekolah dulu,”


“Ya juga sih!” setuju Tari.


“Kalau hubungan kamu dengan Andre bagaimana? Sudah sampai mana?” kini Dea balik bertanya.


“Masih seperti dulu. Tidak berkembang,” jawab Tari dengan lesu. “Apalagi aku sempat melihat foto seorang cewek di layar ponselnya,”


“Apakah kamu kenal?” tanya Dea penasaran.


“Nggak. Aku belum sempat melihatnya, dia keburuan ngambil ponselnya,” jawab Tari masih lesu.


“Ya, sudahlah. Mungkin dia bukan yang terbaik untukmu!”


“Mungkin juga sih!” setuju Tari lagi.

__ADS_1


Dea dan Tari terdiam. Mereka menghisap jus mangga yang mulai pudar rasanya. Dan pikiran mereka tidak lagi kembali pada kehidupan nyata. Bukan lagi berada di kantin. Dan juga bukan lagi berada di sekolah. Pikiran mereka membawa diri berkelana mencari sesosok Andre yang menjauh.



Rapat osis hari ini tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Masih masalah kekurangan dana itu. Dan sekarang, seperti biasa Dea sedang memandang langit di kursi singgasananya. Laporan-laporan yang bertumpuk di atas mejanya belum terbaca sedikitpun. Dia masih menerawang apa yang akan di lakukannya. Untuk acara itu. Untuk persahabatannya dengan Tari. Dan untuk hubungan tidak jelas dengan Andre.


KRIET… Suara pintu terbuka berbunyi. Dea tidak membalikkan kepalanya. Masih setia dengan langit yang tidak seindah pagi tadi. Mungkin itu Randi. Dia akan menyerahkan laporan keuangan acara pensi itu. Namun hening. Tidak ada tanda-tanda kalau cowok itu menghampirinya.


Dea membalikkan kursinya. Andre. Dea terkejut melihat cowok itu telah berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya kelihatan tidak senang. Mungkin level paling bawah dalam susunan hati bad mood. Dan lagi, matanya memancarkan bara amarah.


“Dengan siapa kamu pergi kemarin?” tanya Andre geram. “Andika?”


Dea terdiam. Mulutnya seolah terkunci. Dengan takut-takut, dia mengganggukkan kepala. Dan mendadak raut wajah Andre berubah. Marah, mungkin hal itu yang sekarang dia rasakan. Dea hanya bisa menundukkan kepala. Semua ini merupakan kesalahannya. Pertemuan itu seharusnya tidak terjadi apalagi secara diam-diam.


PLAK…! Andre memukul meja dengan sangat keras. Dea tersentak dan terkejut. Sekarang benar-benar tidak bisa di toleransi lagi. Andre marah besar. Dari sikapnya, Dea juga tahu kalau cowok itu mencoba bersikap tenang. Dia tidak ingin membuat kekacauan yang menarik perhatian. Setidaknya, dia tidak ingin Dea menjadi pusat perhatian, mungkin karena masih banyak siswa-siswi yang berkeliaran di sekolah.



LIKENYA DONG! RATINGNYA DONG! COMMENTNYA DONG!

__ADS_1


__ADS_2