![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
Bian memeluk Dea. Merangkul erat-erat hingga Dea merasa sangat hangat. Dia terpaku. Dia seolah tidak ingin melepaskan kehangatan itu. Kehangatan yang berbeda ketika bersama Andre. Kehangat itu bukan kehangatan seorang pria melainkan kehangatan dari sosok seorang kakak.
Trit… trit… trit…
Bunyi itu terus mengganggu. Pesan yang masuk terus berbunyi. Kadang sekali-kali nada dering panggilan masuk bersahutan. Dea tidak mau mengangkatnya. Andika. Pesan dan panggilan itu dari Andika. Dia masih berpikir. Mau ngomong apa? Harus bersikap apa? Atau harus bagaimana?
From : Andika
Dea, aku tahu kamu marah?
Tapi perasaanku tidak bohong kepadamu
Aku selalu sayang kamu!
Dea membanting ponselnya. Apalagi ini? Sayang? Dia tidak pernah menganggap Andika lebih daripada seorang teman. Perasaan? Jadi selama ini Andika memiliki perasaan sayang kepadanya. Dea tidak pernah memiliki perasaan itu kepada Andika. Hanya teman. Tidak lebih. Lagipula dia belum bisa melupakan Andre.
__ADS_1
Andre. Sejak pernyataan cinta itu, Dea dan Andre jarang berbicara. Begitupula dengan Tari. Dea mencoba untuk menghindar dari sejoli itu. Untuk sesaat dan untuk melupakan Andre. Ternyata untuk melupakan itu tidaklah mudah. Tidak seperti membalikkan telapak tangan.
Trit… trit… trit…
Siapa lagi nih? Dea segera mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Membaca setiap kata yang terukir di dalam layar ponselnya.
From : Bian
Kamu di mana?
Huh! Dea menghela nafas. Hari ini ada latihan dengan Scorpio. Dia tidak mau pergi. Dia masih mau beristirahat sejenak untuk menenangkan hati. Dan lagi, dia masih belum sanggup untuk bertemu Rian dan juga Andre.
Tok… tok… tok…
“Dea, kamu sudah tidur? Ada teman kamu di depan,” panggil mamanya.
Teman? Siapa? Anggota Scorpio semuanya latihan. Andika? Tidak mungkin, dia pasti sedang latihan juga. Lalu siapa dong? Dea segera berlari menuju teras. Seorang cowok berdiri tegar di depan rumahnya.
__ADS_1
“Bian?” kata Dea heran.
“Sekarang, kamu harus bersiap-siap? Kita ada latihan,”
Dea diam saja. Tidak berkutik. Dan tidak pula beranjak sedikitpun. Bahkan dia duduk terpaku pada kursi teras. Dia menangis. Lagi. Sudah kesekian kali dia menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa? Apakah dia harus menurut perkataan Bian? Atau biarkan saja. Kembali ke kamar. Dan menenangkan diri.
“Aku tidak bisa?” kata Dea terisak-isak.
“Mengapa?, kamu kira kami marah?” tanya Bian. “Anggota Scorpio yang lain tidak marah kok, mereka hanya khawatir,”
“Tapi?... ,” Dea masih terisak.
“Sudahlah,” kata Bian sembari menarik tangan Dea.
Dea tidak menolak. Dia hanya menurut. Mungkin itu yang terbaik! Scorpio mulai menjadi separuh jiwanya. Bahkan lebih. Banyak tawa. Banyak sedih. Dan juga banyak rasa yang Dea ketahui sejak bertemu dengan Scorpio. Sekarang, kalau di suruh untuk berhenti, Dia tidak sanggup.
Studio. Akhrinya Dea dan Bian sampai ke tempat itu. Semua anggota Scorpio berkumpul. Mereka sedang menunggu Dea, seorang pemain drum hebat di band mereka. Dan seorang princess yang menjadi putri di hati mereka pula. Dea menangis. Ini bukanlah tangisan sedih. Bukan juga tangisan duka. Ini adalah tangisan bahagia. Kebahagiaan yang tidak ternilai.
__ADS_1
TERIMA KASIH TELAH MEMBACA KARYAKU. MOHON KRITIK DAN SARANNYA. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, FAVORITE, AND RATING YA!