Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 4.3


__ADS_3

Lega banget. Dea merasakan kekosongan dalam hatinya. Sangat ringan. Seharian ini dia terus bermain dengan sangat menikmati. Stress yang menumpuk dalam otaknya telah menghilang. Dan di tambah lagi, dia bisa bertemu dengan Andika, drumer Five Lions. Bisa di bilang, cowok berkebalikan dengan kepribadian Andre. Apaan sih, lagi-lagi Andre!


“Berhenti, Pak!” henti Dea di depan rumahnya.


Dea membuka pintu taxi. Dia segera beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, langkah Dea terhenti. Ada dua sosok yang sangat di kenalnya. Di depan rumahnya lagi. Kok ada Tari dan… Andre? Mengapa mereka bisa berada di depan rumahnya? Dan lagi… dan lagi… dan lagi mereka bergandengan tangan.


“Dea…,” kata Tari sembari memeluk Dea. “Kamu ke mana saja?, kami mengkhwatirkan kamu,”


“Aku tadi nunggu kamu, tapi karena kamu tidak muncul, jadi aku jalan deh keliling Mal,”


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Andre dengan wajah khawatir.


“Aku tidak apa-apa kok!” jawab Dea singkat. “Masuk yuk!”


“Tidak perlu. Sebentar lagi kami mau pulang!” kata Tari menggelengkan kepala.


Oh… Syukur deh! Hari ini dia sangat malas bertemu dengan Tari  apalagi Andre. Karena setiap bertemu dengan Andre, hatinya seperti tertusuk. Perih rasanya. Tidak beberapa lama, Tari dan Andre pergi dari rumah. Tari menggandeng lengan Andre dengan mesra. Dea hanya menatap kaku. Hati Dea terasa sangat sakit. Yah, dia belum dapat melupakan perasaannya kepada Andre. Tapi, dia tidak tega untuk menghilangkan senyum indah dari bibir Tari. Gadis itu terlihat sangat bahagia.


Dea masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Foto Tari. Senyumnya sangat indah. Dia benar-benar tidak tega untuk menghilang senyuman itu. Tanpa sadar, dia mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat terkirim pada laki-laki yang baru di temuinya tadi.


To: Andika

__ADS_1


Andika, tolong aku!


Perlahan, dia menekan tombol Send. Eh, Dea baru sadar. Kenapa sih? Kok dia mengirim pesan itu kepada Andika. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Duh, bagaimana kalau Andika sampai meneleponnya?


Sunny!


Sunny!


Jantungku berdetak


Tiap aku ingat padamu


Andika hanya diam. Dia tidak berbicara sedikitpun. Dia mendengar dengan setia setiap air mata yang keluar dari mata Dea. Yah, Andika tidak tahu harus berbuat apa. Hanya diam. Menemani diri Dea dalam lautan air mata itu.


Satu jam berlalu. Dea mulai tenang. Isakan tangisannya tidak sebesar beberapa menit yang lalu. Nafasnya juga tidak terenggah-enggah seperti tadi. Dia sudah bisa mengontrol emosinya. Dan sudah bisa menghapus air matanya.


“Andika, maaf bila kamu mendengarkan tangisanku,” ucap Dea membuka pembicaraan.


“Tidak apa-apa, kok!. Aku senang kamu mempercayaiku walaupun kita baru bertemu,”


Dea tertegun. Dia baru sadar bahwa dia menangis pada cowok yang baru di temui. Tapi tidak tahu karena apa? dia merasa kehangatan dari cowok itu. Lega. Bahkan ‘plong’ seperti jatuh kepada tumpukan kapas yang ringan.

__ADS_1


“Thanks ya!” kata Dea berterima kasih.


“Ya, sama-sama. Kalau kamu mau menangis lagi, aku selalu ada untuk kamu,”


“Andika, terima kasih,”


“Ya sudah, lebih baik kamu tidur, besok kan kamu sekolah!”


Dea mematikan ponselnya. Dia merasa sangat senang. Kata-kata Andika yang menghanyutkan ke dalam kebahagiaan. Dia bangun dari tempat tidurnya dan menuju teras. Bulan bersinar terang. Bintang pun bersemi dengan riang. Malam ini sangat indah. Namun mengapa dia menangis? Dia menciptakan suasana suram dari hatinya? Sudahlah. Lupakanlah Andre. Tari dan Andre adalah pasangan yang cocok. Lagian, Dea tidak mungkin menyakiti perasaan Tari. Sudahlah, pikir Dea.



LIKE.


VOTE.


COMMENT.


RATING.


JANGAN LUPA YA!

__ADS_1


__ADS_2