Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 14.2


__ADS_3

“Ya, Ndre,” ujar Rio ketus.


“Kami kelaparan,” kini Bian yang mengungkapkan perasaanya.


Semua diam. Memang bila Bian yang berbicara, semuanya selalu menurut, tidak terkecuali Andre. Dia juga patuh kepada Bian. Seketika itupula, Andre menganggukkan kepala. Mempersilahkan Dea untuk memasakkan kembali untuk mereka.


Tanpa pikir panjang, Dea menuju dapur. Dan sepertinya tidak ada satupun yang ingin membantunya. Dan tidak juga ada yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Mungkinkah mereka benar-benar tidak ingat hari istimewa ini. Tapi, masa iya? Dea mencoba berpikir positif. Mungkin mereka hanya lupa sesaat, pasti sebentar lagi akan ingat. Walaupun begitu, hati Dea bak teriris. Dia sangat menanti-nantikan hari ini, setidaknya bisa merayakan bareng mereka. Namun ternyata, pikirannya itu tidak terwujud. Bahkan tidak tampak sedikitpun.



Hening. Tidak ada suara dari ruang keluarga. Tidak juga ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya. Perlahan, Dea menuju ke ruang keluarga. Tidak lupa dengan tiga piring masakannya. Sunyi sekali, seperti kuburan. Tapi ini beda dengan kuburan di tempat Dion, ini seperti berada di dalam situasi film horor.


“Ndre, kamu di mana?” panggil Dea mulai takut. “Bian, Rian, Rio,” panggil Dea lagi.

__ADS_1


Masih tidak ada jawaban. Hening seperti tadi. Dea meletakkan ke atas meja, kemudian duduk di sofa. Masih sedikit takut. Dia menyalakan TV, mencoba menenangkan diri. Kok rumah Andre mendadak menyeramkan padahal kalau berdua, rumah ini biasa saja. Tapi kini berbeda, suasana rumah sangat menyeramkan.


Hihihihi…. Tiba-tiba Dea mendengarkan suara orang tertawa. Dea celingak-celinguk mencari sumber suara. Tidak ada siapa-siapa. Sekarang, Dea benar-benar sangat takut. Tangannya mulai gemetaran, tubuhnya mulai berkeringat.


Ponsel, dari tadi dia tidak menemukan benda segiempat itu. Kalau ada benda itu, mungkin dia bisa menghubungi mereka.  Aduh, bagaimana ini? Andre, Rian, Bian, Rio tidak tahu rimba. Mereka mendadak sekali pergi dari rumah ini. Apakah mereka tidak ingat kalau Dea masih di rumah ini?


Lama sekali mereka datangnya, sudah hampir setengah jam. Rumah ini semakin menyeramkan saja. Dea mulai bosan. Daripada di ruangan ini terus, mendingan dia jalan keluar. Kan, di samping rumahnya ada taman. Lagipula lebih terang daripada di sini.


Dea segera melangkah menuju tujuannya. Satu meter sebelum pintu, Dea mendengarkan beberapa suara. Apakah itu mereka? Pikir Dea.


“Selamat ulang tahun,” kata semua orang di tempat itu.


Oh My God, Dea terharu. Ada Andre, Rian, Bian, Rio, Tari, dan semua pengurus osis serta teman sekelasnnya, dan tidak terbayangkan oleh Dea, sosok wali kelasnya juga hadir. Ternyata mereka ingat dengan hari ulang tahunnya.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun, Dea,” kata Tari sembari memeluk Dea erat. Dea menganggukkan kepala dan mengencangkan pelukannya.


“Terima kasih semuanya,” kata Dea tersenyum bahagia.


“Terimalah semua hadiah-hadiah kami,”ucap Bian memberikan setumpuk kotak. Dan di tambah dengan tumpukan kotak di samping Andre, banyak sekali.


“Sekali lagi, terima kasih banyak!” kata Dea lagi.


“Bapak juga mempunyai hadiah istimewa untuk kamu,” ucap Pak Anggara tersenyum. “Kamu akan tetap menjadi ketua osis, karena kamu sudah menunjukkan kalau kamu bisa serius dalam belajar. Mungkin waktu itu, kamu hanya lalai,” lanjut Pak Anggara menyodorkan tangan memberi selamat.


Dea mengambil tangan itu ragu-ragu. “Benarkah Pak!” tanya Dea masih belum percaya. Pak Anggara hanya menganggukkan kepala. Tanpa pikir panjang, tangan pria itu di letakkan di keningnya, dia memberi salam. “Terima kasih banyak, pak!” ucap Dea sangat bersyukur.


__ADS_1


BERIKAN KESANMU TENTANG NOVEL INI DONG!!!


__ADS_2