Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 9.2


__ADS_3

Dan lagi, masa dirinya di jadikan sebagai hadiah untuk perjanjian mereka. Terus, Andre. Mengapa dia harus menyetujui perjanjian gila dari Andika. Apakah perkelahian di antara mereka belum cukup? Dan sekarang mereka mau melanjutkan dengan cara seperti ini. Dea tidak habis pikir.


“Apaan ini? Aku tidak mau menjadi barang taruhan bagi kalian.,” marah Dea.


Anggota Scorpio dan Five Lions hanya diam. Mereka memahami itu. Tapi… tapi… Cara ini adalah cara terbaik. Walaupun sedikit egois. Dan tidak satupun di antara mereka mau angkat bicara. Dea melirik Bian. Berharap cowok itu bisa menolongnya. Namun cowok itu tetap bungkam. Tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya.  Perlahan, Five Lions pergi. Sepertinya kesepakatan itu tetap berlanjut. Dan seperti sebelumnya, tidak ada satu orangpun yang mendengarkan perkataan Dea.


“Rian, aku tidak mau,” tolak Dea. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia hampir saja menangis di hadapan mereka. “Seharusnya kamu sebagai ketua tidak boleh melakukan ini kepadaku,” marah Dea lagi.


Rian masih tidak berkomentar apa-apa. Sesungguhnya dia tidak menginginkan ini. Dia benar-benar tidak menginginkan ini. Tapi ini adalah jalan satu-satunya untuk melindungi Scorpio dan Dea. Yah, dia tidak ingin kejadian kepada dirinya dan band sebelumnya terulang lagi. Sakit rasanya!


“Maaf Dea. Aku tidak ada pilihan?” kata Rian memohon maaf. Wajahnya memelas memohon.

__ADS_1


Dea masih tidak bisa menerima. Benarkah ini? Apakah tidak ada cara lain selain mempertaruhkan dirinya. Dia tidak ingin keluar dari Scorpio. Dan juga dia tidak ingin menjadi kekasih Andika. Teman. Dia tidak lebih menganggap Andika lebih daripada itu. Namun tidak berarti dia setuju untuk menjadi kekasih Andre. Dia masih memikirkan perasaan Tari.


“Bian, bisa antar aku pulang?” pinta Dea.


Bian mengangguk mengiyakan. Sejak tadi, cowok itu hanya diam. Rasanya tidak tega melihat Dea sedang sedih. Tapi tidak tahu apa yang harus di lakukannya.


Tidak beberapa lama, Dea dan Bian meninggalkan studio latihan itu . Latihan hari ini telah usai. Walaupun hanya separuh jalan.


Akhirnya sampai. Dea segera  turun dan masuk ke dalam rumah. Bian hanya memandang kepergian Dea yang sedang galau. Dia terlihat benar-benar sangat binggung. Perlahan, Bian turun dari sepeda motor. Menarik tangan Dea. Dan memeluknya dengan sangat erat. Dea sudah tidak tahan lagi. Dia menangis. Air matanya menetes dengan sangat deras.


Bian segera menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Dea menurut. Dia tidak lupa menghapus air mata sebelum masuk ke rumah. Ya, kalau mamanya tanya, dia binggung harus jawab apa? Lebih baik dia menghapus air mata itu sebelum urusan menjadi panjang.

__ADS_1



Dea melirik jam dindingnya. 16. 30. Padahal biasanya kalau jam segini, dia masih di studio atau makan bareng dengan anggota Scorpio. Namun sekarang. Dia duduk sembari menangis di teras kamarnya. Memandang langit biru yang tidak indah. Melihat burung yang terbang menuju sangkarnya. Tiba-tiba, Dea masuk ke dalam kamar. Mengambil jaket. Kemudian memakai ke tubuhnya dan keluar kamar.


“Dea, kamu mau ke mana?” tanya mamanya.


“Mau ke supermarket dekat sini, Ma!” jawab Dea.


“Hati-hati di jalan, ya!”


Dea menganggukkan kepala. Dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu. Dia celingak-celinguk mencari taxi. Dan seperti dewi fortuna memihaknya. Sebuah mobil txi seolah mencintai dan datang dengan cepat. Dia masuk dan pergi meninggalkan rumah itu.

__ADS_1



JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, AND LIKE!


__ADS_2