Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 7.3


__ADS_3

PLAK…! Andre memukul meja dengan sangat keras. Dea tersentak dan terkejut. Sekarang benar-benar tidak bisa di toleransi lagi. Andre marah besar. Dari sikapnya, Dea juga tahu kalau cowok itu mencoba bersikap tenang. Dia tidak ingin membuat kekacauan yang menarik perhatian. Setidaknya, dia tidak ingin Dea menjadi pusat perhatian, mungkin karena masih banyak siswa-siswi yang berkeliaran di sekolah.


“Maaf!” hanya itu ucapan Dea dengan sedikit keberanian.


Andre tidak mengubris. Dia sudah terbakar rasa cemburu atas cintanya. Gadis itu. Sudah setahun lebih sejak pertandingan Kompetisi Berbakat Musik itu terjadi, sudah empat bulan dia berada di sekolah ini dan hatinya masih terpaut erat dengan Dea. Dia sudah tidak bisa melepaskan rasa cinta itu.


“Aku cemburu dengan Andika. Aku juga sudah cukup bersabar untuk memahami keegoisanmu untuk menyenangkan Tari. Tapi sekarang, aku sudah tidak dapat menahan lagi,” ucap Andre bergelora.


Cemburu? Dea ternganga. Berkali-kali pula dia mengedipkan mata. Cowok ini, dia benar-benar cemburu kepada Andika. Raut wajahnya itu serius. Tidak ada sedikitpun kebohongang. Dan keegoisan? Apa maksudnya? Jadi, selama ini Andre menganggapnya bersikap egois? Lalu keegoisan bagaimana yang di tunjukkannya kepada lelaki remaja itu?


“Aku juga,” kini Dea yang memberani diri. “Aku cemburu dengan cewek yang bersamamu di Restoran ala Spanyol itu?” ucap Dea mengakhiri rasa penasaran itu dan juga hubungan yang tidak jelas ini.


“Restoran ala Spanyol? Kamu melihatnya?” kata Andre sembari tertawa.


Dea melongo. Kok Andre tertawa. Apa salah dia mengucapkan kata cemburu itu? Padahal sama saja dengan kata cemburu yang di ucapkan Andre. Kata cemburu yang terdiri dari tujuh huruf dan tiga sukukata. Perlahan, Andre mendekati dan mengelus kepalanya dengan lembut. Kemarahannya sudah melunak. Senyumnya juga sudah mulai tampak menghiasi wajahnya. Dan matanya tidak setajam ketika bertemu beberapa menit yang lalu.


“Kenapa ketawa?” tanya Dea.

__ADS_1


“Tidak,” jawab Andre. “By the way besok selesai latihan Scorpio, aku ingin mengajak kamu ke rumah. Ada yang ingin bertemu dengan kamu? Kamu mau?”


“Bertemu? Siapa?”


“Dia adalah orang  yang sangat berarti bagiku,”


“Baiklah, aku mau bertemu dengannya,” ucap Dea tersenyum. “Lalu maksud sikap egois itu apa?” tanya Dea masih penasaran.


“Aku sayang kamu. Aku tahu kamu juga sayang aku. Tapi kamu menjaga perasaan Tari, dan aku mencoba untuk memahaminya,” jelas Andre. “Sekarang, aku sudah tidak tahan. Aku sudah tidak bisa menjaga sikap egosimu yang menyakitkan bagiku. Aku akan lakukan apa yang aku mau,”


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Dea mulai takut dengan kata-kata seolah ancaman itu.


“Kamu gila. Tari bisa marah kepadaku,”


Andre berlalu. Dia tidak mempedulikan perkataan Dea. Tersenyum dan tertawa. Hanya itu yang dia lakukan sejak mengetahui rasa cemburu dari Dea. Dan tentang keegoisan itu, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia letih dengan sikap Dea yang mementingkan orang lain daripada dirinya.


“ANDRE TUNGGU!” panggil Dea teriak.

__ADS_1


Andre menoleh. Senyum dan tawanya tidak lagi menghiruk- pikukkan ruangan osis. Perlahan, Dea mendekatinya. Matanya berkaca-kaca.


“Aku akan melakukan apa saja agar kamu tidak melukai perasaan Tari,”


Andre terdiam. Lama dia mulai berpikir. Lakukan apa saja? Dea terlalu baik. Dia rela melakukan apa saja agar Tari tidak terluka. Dia lebih mementingkan orang lain daripada perasaannya. Dan dia juga mengabaikankan perasaan Andre demi sahabat kecilnya itu.


“Oke, honey!” jawab Andre tersenyum dan menghilang di balik lorong ruang osis.



VOTE!


COMMENT!


FAVORITE!


SHARE!

__ADS_1


RATING!


__ADS_2