Dion [Untuk Kembaranku]

Dion [Untuk Kembaranku]
Episode 9.3


__ADS_3

Pemakaman ini masih seperti biasa. Sunyi. Sepi. Ada juga beberapa yang sedang berkunjung. Sama seperti Dea. Sekarang, dia berada pada sebuah kuburan dengan tulisan ‘Dion Purnama Putra’ pada batu nisannya. Dea mengelus-elus batu nisan itu dengan lembut. Menabur bunga-bunga kamboja di atas tumpukan tanah. Juga menatap gundukan tanah.


“Kak, apa kabar? Sudah lama Dea tidak ke sini?” sapa Dea.


Masih sunyi. Tidak ada jawaban. Hanya sekali-kali suara angin yang bergoyang terdengar. Perlahan, Dea menangis. Sedih. Hatinya benar-benar sangat sedih. Kejadian di studio itu seperti menusuk jantungnya. Dia merasa malaikat maut hendak mencabut nyawanya.


Tidak ada tempat mengadu. Dengan Tari, dia sudah tidak bisa lagi seperti dulu kepada gadis itu. Hubungan sudah tidak seakrab pada masa-masa sebelum bertemu Scorpio. Dengan anggota Scorpio. Entahlah. Dia binggung menghadapinya.


“Kak, aku harus bagaimana?” tanya Dea dengan tanah yang mengering. “Kak, aku benar-benar binggung. Aku tidak ingin keluar dari Scorpio,”


Dea terisak. Air matanya tidak mau berhenti. Bahkan semakin deras. Hatinya terasa sangat sakit. Lebih sakit daripada kehilangan Dion.


“Kak, aku menyayangi Andre, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku harus bagaimana, Kak?” tanya Dea. “Kak, tolong Dea!”


Dea masih terisak. Dia tidak menyadarinya kalau ada seseorang yang memperhatikannya. Dari kejauhan dekat perpohonan ada seseorang yang melihatnya dengan serius. Menatapnya dengan sedih. Dan dari kedua bola mata sosok misterius itu terdapat bening-bening air mata. Bahkan air mata tumpah setelah dengan sangat yakin dengan tulisan di batu nisan itu.  Dia menangis. Ada apa gerangan? Apakah yang akan terjadi?


__ADS_1


“Malam Ma, Pa?” kata Dea menyapa orang tuanya.


“Oh iya Dea. Tadi ada teman kamu datang ke sini. Kalau tidak salah mama, namanya Andre,” jelas Mamanya.


Andre. Mengapa dia datang ke sini? Mau apa lagi dia? Perlahan, Dea melangkah pergi. Melirik ponselnya yang tertinggal. Banyak sekali panggilan tak terjawab. Dan semua panggilan itu dari Andre. Dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Memandang atap-atap langit yang berwarna abu-abu itu. Hatinya sedikit tenang setelah pergi ke pemakaman Dion. Ya, hanya Dion yang memahaminya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Dea mengambilnya dan menatap lama pada layar ponsel itu. Spontan, dia menekan tombol merah yang berada di sebelah kiri. Reject. Saat ini dia tidak mau berbicara dengan siapapun. Apalagi dengan anggota Scorpio. Dia masih sedikit kecewa dengan Scorpio yang menjadikan sebagai taruhan.


Huh! Dea menghela nafas. Perlahan, matanya mulai tertutup dan akhirnya dia tertidur dengan pakaian yang belum terganti.



Seperti ini. Suasaan seperti biasa. Dan sendiri lagi. Di ruangan pada sudut sekolah ini, Dea sedang sibuk dengan rutinitas biasanya. Sedang beres-beres setelah selesai rapat. Dea sengaja berlama-lama di ruangan itu. Mengulur-ulur waktu. Bahkan sengaja memperlambat jadwal pulangnya. Dia masih belum ingin bertemu dengan anggota Scorpio.


“Kita ada latihan, sebaiknya kamu siap-siap untuk berangkat,” kata Andre tiba-tiba di depan pintu.


Dea tetap tidak berkutik. Masih seperti semula. Membereskan ruang osis. Perlahan, Andre mendekatinya. Semakin dekat. Dan sangat dekat. Dia memandang wajah Dea. Mengambil tangan gadis itu. Menyentuh pipinya. Dan membelai rambutnya dengan lembut.

__ADS_1


“Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu!” kata Andre dengan menatap mata Dea lekat. “Walaupun dengan cara itu!”


Dea terkejut. Dia memberontak dan menjauh. Mengambil tasnya dan mau pergi. Kelihatannya Dea menjadi sangat marah. Tiba-tiba, Andre memegang pergelangan tangannya. Menghentikan langkah Dea yang hendak menghindarnya. Kemudian, dia menatap mata Dea dengan semakin tajam. Hingga membuat hati Dea menjadi ciut.


“Dea, aku mencintaimu!” kata Andre dengan nada semangat namun lembut.


Dea terpaku. Wajah itu. Bibir itu. Dan hembusan nafas yang dapat di rasakan itu. Dia ingin menjadikan Andre sebagai miliknya. Bahkan dia ingin memeluknya. Namun Tari, sahabat sejak kecilnya. Dia tidak bisa menyakiti gadis itu. Biarlah dia tersakit daripada Tari yang merasakan sakit itu.



AYO DONG LIKE-NYA!


VOTE JUGA!


GIVE ME THE RATING TOO!


PLEASE COMMENT AND FAVORITE!

__ADS_1


__ADS_2