![Dion [Untuk Kembaranku]](https://asset.asean.biz.id/dion--untuk-kembaranku-.webp)
“Turun!” perintah Andre.
Dea menurut. Dia segera turun dari boncengan sepeda merah itu. Restoran ala Cina. Terlintas di benakkan restoran ketika dia sedang makan bersama dengan Andika. Dan saat itupula para anggota Scorpio datang. Namun ini berbeda. Semua serba berbeda. Letaknya. Suasananya! Dan jelas sekali pasangannya saat ini bukan Andika, tapi Andre.
Andre mengajak masuk ke dalam. Dia memegang lembut tangan kiri Dea yang kecil. Gadis itu hanya menurut. Bahkan dia tersipu. Suasana restoran sangat romantis. Dengan bunga indah di setiap sisi ruang makan. Dengan lampu berwarna-warni menghiasi ruangan. Bukan hanya itu, ada kolam berbentuk hati dengan ikan-ikan bertuliskan sepasang nama pada tubuh binatang itu. Di tambah lagi dengan karpet dansa dan music mellow yang romantis, yang memperlihatkan betapa romantisnya suasana ini.
Andre memboyong Dea ke sudut ruangan. Meja 17. Dari tempat itu, dia bisa melihat orang-orang yang sedang berdansa dengan riang. Juga nama-nama pada tubuh ikan dalam kolam cinta itu. Dea semakin tersipu takkala Andre menatapnya dengan tajam.Dea benar-benar malu. Sejak tadi, Andre tidak pernah melepaskan gengamannya. Bahkan semakin erat.
“Kamu tahu, kenapa aku mengajak kamu ke sini?” tanya Andre.
Dea menggelengkan kepala. Kalau seandainya dia tahu, dia pasti tidak kebinggungan seperti ini. Dan lagi, hatinya terus berdetak sangat cepat. Saling berpacu antara suara drum dari alat di panggung itu dengan hatinya.
“Malam ini, aku ingin mengetahui sesuatu dari kamu?” lanjut Andre.
“Sesuatu?”
“Ya. Apakah kamu menyukaiku?” tanya Andre tanpa ragu-ragu.
Dea tersentak. Kata-kata Andre itu membuatnya hatinya seolah berhenti. Tapi bukan saatnya dia untuk berbohong lagi. Andika, Tari, sudah tidak ada lagi penghalang. Sudah tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan. Tari sudah mengetahuinya. Dan Andika, dia sudah menyerah. Perlahan, dia mengangguk dengan malu. Melihat anggukan kecil itu, Andre tersipu. Masih belum puas, terlihat dari wajahnya. Dengan akal jahilnya, dia mulai menggoda Dea.
“Kok aku tidak mendengar apa-apa ya?” kata Andre dengan senyuman jahil.
Huh! Dasar cowok jahil ini. Bukannya marah, tapi wajah Dea semakin memerah. Dia tidak dapat berkutik. Dia sangat lemah dengan senyuman itu. Seuntai senyuman jahil yang selalu mengalahkannya.
__ADS_1
“Ya, aku suka,” jawab Dea malu-malu.
“Suka siapa?” goda Andre lagi belum puas.
Dea mengigit bibir bawahnya. Aduh, bagaimana nih? Andre hanya tersenyum senang. Dia terlihat sangat menikmati sikap tersipu Dea. Saat gadis itu tersipu, dia benar-benar sangat cantik dan membuat Andre semakin sayang kepada gadis di hadapannya kini.
“Dengarkan baik-baik ya! Aku tidak akan mengulangnya!” kata Dea jengkel. “Aku suka dengan Andre Steven,”
“Nggak kedengaran!” Andre masih menggodanya.
“Ya sudahlah! Aku tidak mengucapnya lagi!” ngambek Dea
Andre tertawa. Dia cengar-cengir. Gadis ini, yang ada di hadapannya telah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama. Dan sekarang dia telah memiliki hatinya. Bukan separuh seperti dulu, namun sudah seutuhnya. Cinta di antara mereka memang butuh perjuangan dan pengorbaan sehingga menyebabkan kepedihan hati. Kepedihan hati itupula yang telah mempersatukan mereka dengan erat.
“Mau berdansa denganku?” ajak Andre sembari mengulurkan tangannya.
Kemenangan itu patut di rayakan. Seperti saat ini. Anggota Scorpio sudah duduk di sebuah meja restoran terbesar. Mereka akan makan dengan sepuas-puasnya sampai perut mereka ingin meledak. Namun belum saatnya. Bian belum datang. Padahal waktu perjanjiannya telah melebihi batas.
Rio sudah berulang kali mengusap-usap perut. Dia kelaparan. Katanya, dia sengaja tidak makan agar dapat menghabiskan makan mewah di restoran ini. Dan sudah berulang kali pula, dia celingak-celinguk. Risau atau lebih tepatnya, dia sudah tidak tahan lagi. Cacing-cacing dalam perutnya telah berbunyi.
“Sorry, aku telat!” kata Bian meminta maaf ketika tiba di hadapan mereka.
__ADS_1
“Akhirnya, kamu datang juga!” ujar Rio bersyukur. “Ayo, kita langsung pesan!”
“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan!”
“Apa maksud kamu? Kamu tidak ingin makan. Ya sudah, aku saja yang makan bagian kamu!” ucap Rio masih ngotot ingin cepat memesan makanan.
Bian tidak menghiraukan perkataan Rio. Dia tetap fokus pada tujuannya. “Sebelumnya aku minta maaf kepada kalian karena terlambat datang. Tapi ada hal yang serius yang ingin aku katakan!” kata Bian dengan wajah serius.
Serius. Suasana mendadak hening. Rio yang tadi merenggek, sekarang terdiam. Jarang sekali Bian berbicara banyak seperti ini, dan serius? Ada apa gerangan?
“Aku ingin keluar dari Scorpio,”
Semua anggota Scorpio terkejut. Mengangga dan melongo. Apalagi Rian, dia tidak menyangka bahwa Bian, sosok laki-laki yang jarang berbicara bisa mengatakan hal seperti itu. Apakah ada yang telah membuatnya sakit hati? Rian memandang wajah Bian teliti. Cowok itu benar-benar serius. Dia tidak sedang bercanda.
“Maksud kamu apa? Apakah kami sudah menyakiti perasaanmu?” tanya Rian tidak mengerti sembari melirik ke tiga anggota Scorpio yang lain.
“Tidak, kalian tidak pernah menyakitiku,” geleng Bian. “Aku hanya tidak ingin bermain band saja untuk sekarang?”
“Tapi apakah memang harus keluar?” tanya Andre juga tidak mengerti dengan pikiran Bian.
“Sungguh aku minta maaf! Aku tidak bisa bermain band lagi dengan Scorpio,” katanya sedih. “Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Bian sembari meninggalkan anggota Scorpio yang masih tidak percaya.
Cowok itu melangkah pergi. Bahkan dia tidak menolehkan lagi kepalanya. Badannya pun tidak berbalik dan mengucapkan bahwa perkataan itu hanya bercanda. Dan tidak pula s di antara anggota Scorpio yang tahu alasan Bian keluar. Mereka binggung. Dea yang sejak tadi diam, dia mulai menangis. Tidak tahu mengapa, air matanya menetes. Saat kemenangan itu, dia merasa sangat senang. Dia bisa bermain band lagi dengan anggota Scorpio. Namun sekarang? Semua kebahagiaan itu berubah. Scorpio seolah telah tamat.
__ADS_1
THANK YOU SO MUCH